INFO
๐ŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !๐ŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !๐ŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !๐ŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !
Home/Ah! Enak Mas Dokter/Mengunjungi Praktek Dokter
โ† Kembali ke Detail

Mengunjungi Praktek Dokter

Ah! Enak Mas Dokter5 menit ยท 913 kata ยท Chapter 2/677

Chapter 2 / 677 ยท 0%Mengunjungi Praktek Dokter
Ukuran huruf
18px

Paginya, Febby dan Andi sedang bersiap-siap mengunjungi praktek Dokter yang direkomendasikan oleh Ratih.

Wanita paruh baya itu pulang ke rumahnya di daerah Bogor pagi-pagi sekali. Sebelum pulang, Ratih sudah memberitahu Dirga kalau Andi dan Febby ingin ke sana.

"Kalau Dokter nyaranin kita periksa kesehatan alat reproduksi lagi, gimana Mas? Apa kali ini kamu mau?" tanya Febby pada suaminya yang tengah memakai sepatu.

Andi melirik sinis. "Kamu kan udah beberapa kali periksa dan kamu sehat kan? Ya udah, berarti ngga usah periksa lagi. Jelas-jelas aku dan kamu sehat. Cuma belum aja kita dikasih anak."

Febby mengangguk pelan, "Iya Mas." Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya setelah mendengar jawaban ketus dari sang suami.

Keduanya berjalan keluar rumah yang langsung tertuju pada garasi. Mereka naik ke mobil Avanza milik perusahaan tempat Andi bekerja. Mobil dinas yang berhasil Andi dapatkan setelah lima tahun bekerja di sana.

"Sampai sana, ngga usah ngomong macem-macem sama Dokter. Kamu tinggal konsultasi aja, udah," ujar Andi mengingatkan. Ia memasang sabuk pengaman di pinggang lalu melajukan mobil keluar dari garasi tanpa pagar rumahnya.

Febby hanya diam, memandang keluar jendela mobil sambil menghela napas panjang.

Malas berdebat dengan suaminya yang hanya mau menang sendiri. Suaminya pun tidak pernah mendengar keluh kesah Febby selama dua tahun mereka menikah.

Mereka menikah bukan karena paksaan, tapi karena saling cinta. Namun, seiring berjalannya waktu sikap Andi pada Febby makin berubah dingin dan menyebalkan.

Di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi terkena macet parah. Kendaraan di depan tidak bergerak sama sekali, membuat Andi kesal.

"Macet Mas, ngga ada jalan lain?" tanya Febby pada suaminya yang emosi.

"Kamu mau jalan kaki? Udah tahu mobil kita ada di tengah-tengah. Mana bisa aku cari jalan lain," jawab Andi ketus.

Febby menghela napas panjang, berat. Malas bicara lagi, yang hanya membuat Andi kesal. Dia memilih diam.

Satu tangannya membuka kaca jendela agar udara masuk, karena AC mobil itu mati. Andi tidak pernah berinisiatif memperbaiki AC mobil itu dengan alasan semuanya urusan kantor.

"Ck!" Andi berdecak kesal, memandangi jalanan macet yang tak berkesudahan. "Jam berapa ini. Kalau tahu begini, lebih baik aku kerja. Kenapa Ibu ngga buat janji temu hari libur saja."

Febby melirik suaminya, malas menyahut. Yang ada suaminya makin marah. Apapun yang dia lakukan selalu salah di mata Andi.

"Coba kamu pesan ojek. Kamu naik ojek aja. Kamu pergi duluan. Biar aku nyusul kalau jalanan udah ngga macet," ucap Andi mencari jalan tengah.

Febby menganggukkan kepala. Ia keluarkan ponsel lalu menghubungi ojek online. Matanya mengamati jalanan saat ini yang tak jauh dari lampu merah.

Setelah mengirim alamat, Febby menunggu ojek datang.

"Udah?" tanya Andi ketus.

"Udah Mas. Nanti juga datang."

"Ya udah, tunggu aja."

"Tapi nanti kamu nyusul kan Mas?"

"Iya."

Tak berapa lama ojek yang dipesan datang. Febby melepas sabuk pengaman di pinggangnya lalu berpamitan pada Andi.

"Aku ke sana duluan ya Mas," ucapnya mencium punggung tangan sang suami.

"Hem, tunggu aku di sana."

"Iya," angguk Febby, menarik sudut bibirnya, memaksa diri untuk tersenyum. Meski dalam hati masih merasa sakit hati pada sikap Andi tadi.

"Ingat ya, jangan ngomong macem-macem. Kamu hanya perlu berkonsultasi tentang kehamilan aja."

"Iya Mas," angguk Febby lalu turun dari mobil.

Tukang ojek yang berhenti di samping mobil avanza hitam itu memberikan helem pada Febby.

"Antar ke mana, Bu?" tanya tukang ojek.

"Sesuai aplikasi aja Bang. Cepet ya, soalnya saya udah ditunggu sama Dokternya."

"Baik Bu."

Motor melaju dengan mudah melewati jalanan sempit di tengah-tengah mobil yang terkena macet.

Tukang ojek itu tampak sangat mahir menggunakan kuda besi itu. Motor meliuk-liuk dengan lincah hingga akhirnya mereka keluar dari jalanan macet.

Tempat praktek yang dituju Febby berapa cukup jauh dari jalanan tadi. Bangunan yang dulunya kosong, dibeli oleh Dirga yang tak lain sepupu suaminya.

"Mau periksa kandungan ke Dokter Dirga ya Bu?" tanya tukang ojek berbasa-basi.

"Iya Bang, katanya Dokter itu bagus. Saya direkomendasiin sama mertua."

"Iya sih, saya denger dari tetangga. Dokter itu bagus. Obatnya manjur. Tetangga saya udah lima belas tahun ngga punya anak, akhirnya bisa hamil setelah tiga bulan menjalani pengobatan di Dokter Dirga. Bagus sih. Obatnya manjur."

Febby tersenyum, secercah harapan mulai terlihat. Akhirnya dia bisa memberikan cucu yang diidamkan oleh orang tuanya dan orang tua Andi.

Febby anak satu-satunya dan harapan satu-satunya untuk memberikan keturunan, penerus di keluarga. Meskipun keluarga dia bukan keluarga kaya raya, tetapi orang tuanya akan mewariskan beberapa hektar tanah di kampung dan sawah, juga kontrakan.

Sedangkan Andi, orang tuanya masih memiliki satu anak perempuan, namun belum menikah.

Orang tua Andi juga sangat mengharapkan cucu dari anak laki-laki satu-satunya itu. Apalagi calon cucu mereka akan menjadi pewaris tanah dan kontrakan dari keluarga Febby.

"Di sini aja Bang, ini kan tempatnya?" Febby menunjuk ruko yang dijadikan tempat praktek Dokter Dirga.

"Iya Bu, ini tempatnya. Kayaknya rame deh."

"Ngga apa-apa. Mertua saya udah bikin janji." Febby turun dari motor, memberikan helem pada tukang ojek dan berjalan ke tempat praktek Dokter Dirga

Dilihat dari luar, suasana tempat praktek itu terlihat ramai. Banyak pasangan muda maupun berumur sedang duduk di kursi tunggu.

Febby melangkah perlahan, masuk ke dalam tempat praktek lalu bertanya pada resepsionis di depan ruang praktek.

"Saya Febby, istri Pak Andi. Ibu mertua saya udah bikin janji sama Dokter Dirga. Apa saya boleh masuk ke ruangan sekarang?" tanya Febby sambil memberikan bukti kalau dia sudah membuat janji temu dengan Dokter.

"Oh, Bu Febby ya? Anda sudah ditunggu di ruangan Dokter Dirga. Masuk aja sekarang."

Febby tersenyum, "Makasih." Ia melangkah mendekati ruangan lalu membuka pintu. Kepalanya masuk lebih dulu, melihat kiri dan kanan.

"Silakan masuk," ucap seorang laki-laki berpakaian Dokter yang memunggunginya.

Rekomendasi SponsorAds
Native 4:1 - loading...

- Akhir Chapter -