"Kau selalu memilih waktu yang sangat tepat untuk merasa tidak sehat," desis Alby dengan suara rendah yang sarat akan kejengkelan dingin, matanya mengintimidasi Zora tanpa menyebut namanya sekali pun. "Apakah menghadapi ibuku begitu menyiksamu hingga kau harus memamerkan kelemahan fisikmu di depan meja makan?"
"Alby... aku..." Zora berbisik parau, tangannya mencengkeram dadanya sendiri yang terasa ditarik kawat berduri.
"Jangan berpura-pura," potong Alby tajam, memalingkan wajahnya seolah enggan melihat pemandangan di hadapannya. "Jika kau tidak sanggup menghormati jamuan makan malam keluarga ini, kembali ke mobil sekarang. Berhenti membuat semua orang di meja ini merasa bersalah karena kondisi fisikmu yang sengaja kau dramatisasi."
Helena mendengus pelan, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu ek yang berukir tinggi. "Sudahlah, Alby. Istrimu tampaknya memang lebih menyukai kesunyian kamarnya daripada berkumpul bersama kita."
Selena berdiri dari kursinya dengan wajah cemas, melangkah mendekati Zora. "Kak, biar kubantu ke kamar."
"Terima kasih," ujar Zora, suaranya terdengar sangat halus.
Selena merangkul lengan Zora, mencoba memapah tubuhnya yang terasa luar biasa ringan. Namun, baru satu langkah kaki Zora terayun, pandangannya mendadak gelap gulita.
Kesadaran Zora lepas sepenuhnya, tubuh ringkihnya merosot lunglai ke atas lantai marmer sebelum sempat mencapai ambang pintu ruang makan.
**
Saat kelopak matanya perlahan terbuka kembali, hal pertama yang Zora rasakan adalah aroma disinfektan yang menguar tipis di udara kamar tamu kediaman Helena.
Ia mengerjap, menatap langit-langit berukir emas yang asing sebelum akhirnya melirik ke arah punggung tangan kirinya. Sebuah jarum infus menancap di sana, mengalirkan cairan dingin yang menusuk kulit pucatnya.
Keheningan di dalam kamar tamu itu begitu mencekam, namun dari luar pintu yang sedikit terbuka, sebuah suara samar mulai menyusup masuk ke indra pendengarannya.
"Kurasa grafik promosi ini jauh lebih masuk akal untuk pasar London, Kak Alby," suara renyah Selena mengalun hangat, diikuti oleh tawa kecil yang terdengar sangat rileks.
"Ya. Pendekatan visualmu selalu efisien," sahut Alby, suaranya terdengar rendah dan tenang, nada suara yang tidak pernah Zora dapatkan seumur hidupnya.
Dada Zora seketika berdenyut sangat menyakitkan, seolah kawat berduri di jantungnya ditarik paksa. Darah di dalam tubuhnya mendadak terasa mendidih oleh rasa sesak yang luar biasa.
Di saat dirinya terkapar tidak sadarkan diri di kamar tamu, suaminya justru lebih memilih duduk di ruang utama lantai bawah, tertawa dan mendiskusikan bisnis bersama adiknya.
Sret!
Tanpa ragu, Zora menarik paksa jarum infus dari punggung tangannya. Rasa perih yang tajam menyengat kulitnya, disusul oleh tetesan darah merah kental yang langsung menodai seprai putih ranjang.
Zora mengabaikan rasa sakit itu, menekan luka kecil yang mengeluarkan darah dengan ibu jarinya erat-erat hingga aliran merah itu terhenti.
Ia menurunkan kakinya ke lantai yang dingin, memaksakan tubuhnya yang masih lemas untuk berdiri tegak dengan sisa harga diri terakhir yang ia miliki. Zora melangkah kaku, membuka pintu kamar tamu, lalu berjalan menyusuri koridor lantai atas menuju tangga utama.
Suara langkah kaki Zora yang menyentuh anak tangga marmer memecah diskusi intim di ruang tengah.
Alby mendongak seketika, menghentikan penjelasannya pada Selena saat sepasang mata hitam legamnya menangkap sosok Zora yang melangkah turun dengan wajah seputih kertas.
Alby berdiri dari sofa kulitnya, melangkah lebar menghampiri Zora di anak tangga terakhir.
"Apa yang kau lakukan?" desis Alby, menatap dahi istrinya yang masih basah oleh keringat dingin.
Zora terus melangkah tanpa menghentikan lajunya, berniat melewati Alby begitu saja.
"Aku ingin pulang," jawab Zora lirih namun datar.
Alby bergerak cepat, meraih pergelangan tangan Zora yang kurus dengan cengkeraman yang tegas.
"Tidak, sebelum infusnya habis," potong Alby cepat.
Zora membeku di tempatnya berdiri, namun ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya untuk menatap suaminya.
"Aku sudah lebih baik," sahut Zora dingin.
Selena segera ikut bangkit dari sofa dan menghampiri keduanya dengan wajah yang tampak sangat cemas.
"Kak, Kak Alby benar. Sebaiknya Kakak istirahat saja dulu di atas," bujuk Selena.
Zora perlahan memutar kepalanya, akhirnya mengalihkan tatapan lurus ke arah adiknya.
"Kakak sudah merasa lebih baik sekarang, dan kakak lebih nyaman tidur di kamar sendiri," ujar Zora tenang.
Sembari mengucapkan kalimat itu, Zora menyentakkan tangannya, memaksa genggaman erat Alby terlepas sepenuhnya dari pergelangan tangannya.
Ia kemudian mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata hitam legam Alby yang tampak membeku melihat penolakannya.
"Jika masih ada hal yang ingin kalian bahas, lanjutkan saja," ucap Zora.
Zora tersenyum dengan indah dan sangat sempurna di bibirnya yang pucat, seakan-akan dadanya saat ini tidak sedang remuk redam oleh kawat berduri yang menyiksa.
Sepatu tumit tinggi Zora mengetuk lantai marmer lobi dengan ketukan yang konstan, tidak terburu-buru, namun tanpa keraguan. Ia melangkah melewati pintu gerbang kediaman Helena Laurent yang megah, membiarkan angin dingin malam Paris menyapu wajahnya yang mati rasa.
Di belakangnya, sunyi malam kembali menelan tempat itu, meninggalkan Alby dan Selena dalam keheningan diskusi bisnis mereka. Zora masuk ke dalam taksi yang menunggu di pinggir jalan, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, dan membiarkan air matanya menguap sebelum sempat jatuh.
**
Keesokan harinya, ruang praktik di Hôpital Américain de Paris menyambut Zora dengan aroma disinfektan yang tajam dan atmosfer yang sepenuhnya steril.
Pendingin ruangan di sudut dinding mengeluarkan dengung konstan yang monoton, mengisi keheningan di antara Zora dan pria berjas putih di hadapannya. Dr. Julian Vance meletakkan map tebal berisi hasil echocardiogram Zora ke atas meja kayu ek dengan gerakan yang sangat terukur.
"Katup mitral Anda mengalami kebocoran masif, Zora. Jika kita tidak segera menjadwalkan operasi, kita sedang menghitung waktu mundur," ujar Julian, suaranya terdengar sangat objektif, datar, namun menyimpan empati yang profesional.
Zora menatap grafik gelombang jantungnya yang tercetak kaku di atas kertas. Di dalam kepalanya, suara dengung pendingin ruangan itu mendadak terdengar jauh lebih keras, berputar-putar dan menyumbat saluran napasnya.
"Berapa persen kapasitas kerja jantung saya saat ini, Dokter?" tanya Zora, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap stabil di tengah sesak yang mulai mencubit dadanya.
"Fraksi ejeksi Anda berada di bawah 40%," jawab Julian, matanya menatap Zora dengan ketajaman seorang kurator seni yang sedang menilai lukisan yang hampir rusak. "Kombinasi anemia kronis dan kerusakan katup ini membuat tubuh Anda tidak akan mampu menanggung beban lebih lama lagi. Operasi rekonstruksi adalah jalan satu-satunya."
Zora tidak menjawab dengan kepanikan. Ia hanya menunduk, menatap jari manis kirinya di mana cincin pernikahan emas putih berlambang Laurent terasa begitu longgar dan berat.
— Akhir Chapter —