Kota Trevin, Mei 2020 - Saat ini.
Berkat pengejaran itu, kini Ethan ada di sebuah tempat yang sama tapi tidak sama dengan dunianya. Padahal ia yakin sekarang ia berada di Gunung Zyn Kota Baylee, tapi orang-orang di sekitarnya dan spanduk-spanduk yang terpasang di sepanjang gunung mengungkapkan hal yang berbeda.
Orang-orang terus mengerubungi dan memperlakukan Ethan seolah ia adalah orang yang sangat penting di sana. Mereka mengatakan bahwa Ethan adalah Calon Walikota termuda di kota bernama Trevin ini. Tapi sebenarnya di mana ini?
“Tuan Allen, Anda pasti sedang berolahraga di sini! Seperti yang diduga, Anda memang sangat menjaga kesehatan Anda!” seru salah seorang pria berusia 50-an berpakaian gunung yang sama dengan puluhan orang di sekitarnya.
Ethan bingung, tidak tahu harus bagaimana menanggapi mereka yang sepertinya sedang salah paham dengannya.
Sebelum Ethan semakin kehilangan fokus, seseorang tiba-tiba menerobos masuk kerumunan dan meraih pundaknya.
“Mohon maaf, Tuan Allen harus segera pergi untuk melaksanakan jadwal selanjutnya!”
Ethan menoleh. Seorang perempuan dengan rambut sepanjang dada dan memakai kemeja biru tua sudah berdiri di sampingnya.
“Ethan, kita harus pergi dari sini..” bisiknya.
Ethan terkejut, perempuan itu mengenalnya.
“Tentu saja Anda pasti sibuk, Tuan Allen!” seru wanita tua yang pertama kali menyambutnya di gunung itu, diikuti anggukan puluhan orang lainnya di sana.
Perempuan yang baru datang itu mulai menarik jaket bomber di bagian lengan Ethan dengan tatapan serius.
Ethan tersentak, ada apa dengan perempuan ini?
Meskipun masih tidak mengerti dengan apa yang ia alami, Ethan pikir mungkin sebaiknya ia pergi dari tempat itu karena dikerumuni oleh puluhan orang secara tiba-tiba hanya memberinya serangan panik.
Mereka pun segera pergi setelah berpamitan dengan orang-orang yang mengerumuninya diiringi sorakan dan dukungan mereka untuk ‘pencalonan’ Ethan sebagai Walikota termuda kota Trevin.
“Kau pasti merasa bingung ‘kan?” tanya perempuan yang mengajaknya pergi sambil berjalan cepat di sampingnya.
“Ya begitulah..” jawab Ethan. “Tapi ngomong-ngomong, siapa kau? Mengapa kau membawaku pergi dari sana?”
“Pakai ini dulu!” perempuan itu menyerahkan sebuah masker dan topi hitam. Ethan mengambilnya. Masker dan topi miliknya sudah hilang entah di mana sejak pengejaran beberapa jam lalu.
“Aku mendengar bahwa aku menjadi Calon Walikota di kota bernama.. eng..” Ethan mencoba mengingat nama kota yang disebutkan orang-orang sebelumnya sambil mengenakan masker dan topi tadi.
“Trevin! Kita ada di Kota Trevin sekarang!” jelas perempuan itu sambil berjalan lebih cepat.
“Trevin? Aku tidak pernah mendengar nama kota ini.. Di mana ini?” tanya Ethan lagi seiring dengan langkahnya yang semakin cepat menyamai langkah perempuan di depannya.
“Astaga! Kau masih cerewet seperti dulu ya Ethan! Ah! Seperti dirimu di masa depan maksudku..” balas perempuan itu, semakin membingungkan Ethan.
Masa depan? Apalagi maksudnya?
“Aku akan menjelaskan semuanya saat kita sampai di tempat yang aman, oke?” lanjut perempuan tersebut sambil melihat-lihat sekeliling.
Ethan menyerah, tapi mungkin bagi perempuan itu pertanyaan-pertanyaannya tadi terlalu banyak untuk dijawab sekaligus.
Mereka sudah sampai di gerbang keluar gunung tersebut. Sebuah mobil berwarna ungu terparkir di seberangnya. Perempuan itu berjalan ke sana dan segera membuka pintu mobil lalu menyuruh Ethan masuk dengan matanya. Ethan mengikuti.
Mobil dinyalakan dan mulai melaju cepat menuju tempat yang masih tidak ia tahu.
“Oh ya! Aku lupa mengenalkan diri. Namaku Kayla..” perempuan itu akhirnya kembali bersuara. Dia yang menyebut dirinya Kayla ini menjulurkan tangan kirinya pada Ethan sedangkan tangan kanannya sibuk mengendalikan setir mobil.
Ethan menjabat tangan Kayla. “Aku Ethan..”
“Ya.. aku tahu! Tapi kau pasti tak tahu aku karena seharusnya kau belum bertemu denganku sekarang..”
Ethan mengernyit. “Kalau begitu, bagaimana kau bisa mengenalku?”
“Bukankah tadi aku sudah menyebutkan tentang dirimu di masa depan?” tanya Kayla. “Ah.. Ini pertama kali kau melintasi portal ya?”
“Portal? Portal apa?” Ethan masih tidak mengerti.
“Tempat kau masuk ke sini!” sepertinya Kayla mulai tidak sabar. “Baiklah.. Biarkan aku menyetir dulu sebelum kita lanjutkan obrolan ini, oke?”
Lagi-lagi Ethan harus menunggu. Tapi mungkin itu yang terbaik karena saat ini tubuhnya benar-benar lelah setelah pengejaran yang cukup lama di dalam gunung gelap nan sepi tiga jam lalu itu.
“Istirahatlah! Perjalanan kita masih panjang..” ucap Kayla lebih lembut. Ethan pun mulai mencoba menutup matanya meskipun ia masih merasa tidak nyaman dengan semua ini.
Mobil terus melaju dan Ethan sudah terlelap.
***
Langit sudah semakin cerah. Kini, mobil itu sudah masuk ke area perkotaan. Suara-suara kendaraan mulai memenuhi seisi jalanan besar Kota Trevin, hingga sampai ke telinga Ethan dan membangunkannya. Ethan menggeliat dan melirik ke luar jendela, sebuah billboard besar yang terpasang di salah satu gedung menarik perhatiannya.
Dia ada di sana.
Tepatnya, seseorang dengan penampilan yang sama persis dengan dirinya. Hanya saja, orang itu menggunakan pakaian yang tidak akan pernah bisa ia pakai seumur hidupnya, lengkap dengan karisma yang tidak akan pernah ia punya.
“Kau lihat itu?” tanya Kayla, mengejutkan Ethan. “Dia sangat mirip denganmu bukan?”
Ethan hanya terdiam. Pikirannya sedang melayang-layang ke 25 tahun hidupnya yang pasti sangat berbeda dengan pria di billboard itu.
“Apa kau tahu namanya?” tanya Kayla lagi.
Ethan menoleh. “Apa namanya berbeda denganku?”
“Tentu saja! Kalian memang sangat mirip tapi dia bukan kau,” ujar Kayla. Dia melirik sedikit pada Ethan yang wajahnya mulai menggelap.
“Tidak.. maksudku, berbeda jika kau kembali ke masa lalu dan bertemu dengan orang yang mirip dirimu, itu memang dirimu pada versi masa lalu. Tapi di sini, ini hanya dunia yang berbeda dari duniamu jadi bisa dibilang kalian berdua bukan orang yang sama meskipun sama.. Apa kau mengerti maksudku?” lanjut Kayla sedikit cemas, merasa ia mungkin telah menyinggung Ethan.
“Oke.. Jadi, itu alasannya nama kota ini pun berbeda dengan kota di duniaku? Karena penampilannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Baylee..” balas Ethan sedikit lebih santai.
“Ya.. Pada dasarnya kota ini adalah Kota Baylee di duniamu, tapi saat proses penamaan kota, nama yang diputuskan adalah Trevin, sedangkan di duniamu adalah Baylee..”
“Bagaimana bisa seperti itu?” Ethan mulai membenarkan posisi duduknya.
“Sederhana saja. Pilihan yang tidak diambil di duniamu, di ambil di dunia ini. Itulah kenapa meskipun ada banyak persamaan, tapi mereka berbeda karena memilih pilihan yang berbeda juga..”
Ethan merenung, teringat perkataan ibunya yang sempat ia lupakan 15 tahun lalu di malam ia kehilangan kedua orang tuanya. Apa saat itu ibunya sedang membicarakan dunia lain yang ia datangi sekarang? Tapi bagaimana bisa ia tahu tentang itu? Atau itu hanya kebetulan?
“Hei!” panggil Kayla dari luar mobil. Baru saja Ethan tenggelam dalam pikirannya, mobil itu sudah berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman rumput cukup luas seperti rumah-rumah di pedesaan.
Apa Ethan ada di dunia lain lagi?
“Di kota ini ada kompleks perumahan ramah lingkungan, jadi mungkin akan terlihat seperti di pedesaan..” jelas Kayla seolah tahu apa yang dipikirkan Ethan. “Ayo keluar!”
Ethan segera mengikuti Kayla ke dalam rumah di depan mereka. Rumah yang terlihat sederhana dari luar itu ternyata cukup luas di dalamnya. Sudah cukup lama Ethan tidak memasuki tempat indah seperti galeri seni yang nyaman sekaligus menarik ini. Semakin lama berada di kota ini, semakin banyak penyesalan dalam hidupnya yang memenuhi kepala dan hatinya.
Kayla menyuruhnya duduk di sofa sambil berjalan lurus ke arah dapur, mengambil dua gelas teh dan kopi hangat. Dia menyerahkan segelas teh pada Ethan.
“Apa kau sudah menyukai teh di waktu sekarang?” tanya Kayla memastikan sambil duduk dan menyeruput kopinya.
“Ya..” jawab Ethan takjub.
“Kau pasti akan bertanya mengapa aku bisa tahu?” potong Kayla sebelum Ethan berbicara lagi.
Sebenarnya Ethan sudah menyerah untuk banyak bertanya. Ia pikir mungkin ia harus menerimanya untuk saat ini sampai semua terjawab suatu saat nanti.
“Sebentar..” Kayla menyimpan kopinya dan segera berlari ke lantai atas.
Selang beberapa menit ia sudah kembali dengan sekotak surat warna-warni di tangannya.
“Aku ingin menjelaskannya secara langsung padamu tapi sepertinya aku akan kebingungan sendiri untuk menjelaskannya.. Haha..” ujar Kayla, menyerahkan kotak surat itu pada Ethan lalu kembali duduk untuk menyeruput kopinya lagi.
Ethan meletakkan tehnya yang tinggal seperempat dan mulai membuka surat-surat itu satu persatu. Rupanya surat itu berasal dari Kayla di masa depan. Sebagian besar surat itu menjelaskan bagaimana perjalanan Kayla pada tahun 2022 dan seterusnya, termasuk saat ia bertemu Ethan di tahun tersebut.
Ethan menatap Kayla yang sedang memperhatikannya membaca surat-surat yang ia berikan.
“Kenapa?” tanya Kayla. “Ah! Aku tidak kembali dari masa depan, tapi aku hanya mendapat surat dari diriku di masa depan.. Begitu..”
Lagi-lagi, Kayla tahu apa yang dipikirkan Ethan. Ethan pun kembali membaca surat-surat tadi. Banyak hal yang masih tidak ia mengerti dari surat-surat itu. Terutama tentang portal ruang dan waktu yang selama ini ia pikir hanya ada di cerita-cerita fiksi.
Dalam surat yang lebih mirip diary itu, Kayla dari masa depan menjelaskan bahwa portal ruang dan waktu tercipta bersama ledakan besar yang membentuk semesta miliaran tahun lalu. Portal-portal ini tercipta bukan untuk melakukan perjalanan ke dunia lain seperti yang diceritakan novel atau film fiksi, tapi untuk menjaga planet-planet di semesta tetap berputar sesuai tempatnya. Mirip seperti rantai tali pada roda sepeda. Jadi, jembatan yang ternyata menghubungkan portal ruang dan waktu antar setiap planet itu sebenarnya adalah rantai tali yang menyeimbangkan semua planet di semesta ini.
Ethan seperti sedang membaca novel fiksi namun dengan bonus pengalaman nyata yang ia alami saat ini. Rasanya masih terlalu aneh untuk menyebut semua pengalaman yang diceritakan di surat tersebut dan pengalaman yang terjadi padanya sebagai kenyataan. Ia menghela napas, pusing.
“Tidak perlu membaca semuanya sekaligus.. Aku bahkan sudah menyerah beberapa tahun lalu..” ujar Kayla, memecah keheningan dan keruwetan di kepala Ethan.
“Memangnya kapan kau dapat surat ini? Dan bagaimana bisa dia memberikannya padamu? Apa dia ada di sini?” tanya Ethan, sebetulnya masih banyak yang ia ingin tanyakan selain itu.
“Wow wow!” Kayla terkejut. Ethan terdengar lebih seperti seorang penyanyi rap dengan kecepatan rap melebihi cahaya.
Kayla tertawa sejenak. “Aku mendapatkannya dari orang lain karena diriku di masa depan sudah tidak bisa lagi melintasi portal..”
“Kenapa?” Ethan bingung.
“Karena selalu ada konsekuensi setiap kau menggunakan kekuatan alam yang melebihi kekuatanmu sendiri. Termasuk portal. Portal ruang dan waktu itu sangat kuat sampai bisa menghancurkan tubuh manusia, jadi itu kenapa ada batas waktu yang diperlihatkan oleh menara jam besar di jembatan portal..” jelas Kayla.
Ethan mencoba mengingat menara jam besar yang dimaksud. Sebelumnya, saat ia memasuki cahaya aneh dengan jembatan di dalamnya, memang ada sebuah menara jam besar yang menunjuk tepat di angka 12.00, tapi ia berpikir jam tersebut sedang menunjukkan waktu saat itu.
“Manusia hanya memiliki waktu maksimal 12 jam setelah memasuki portal sampai kembali ke dunianya yang sebenarnya. Jika melebihi itu, maka manusia yang menggunakan portal akan hilang..” lanjut Kayla.
“Hilang kemana?”
“Entahlah.” Kayla menarik napas. “Ada banyak kemungkinan.. Tapi menurut surat yang aku terima, mereka akan pergi ke dunia lain yang tidak bisa didatangi siapapun termasuk dengan portal. Jadi tidak ada yang benar-benar tahu, kemana sebenarnya mereka pergi..”
Ethan mulai merinding, informasi itu jauh lebih menakutkan dibanding kenyataan bahwa ia sedang berada di dunia lain.
Tunggu. Lalu bagaimana dengan waktu Ethan yang tersisa di dunia ini?
“Jadi, aku seharusnya tidak ada di sini?” Ethan cemas.
Bagaimana jika Ethan juga menghilang tiba-tiba?
“Ya.. Itulah kenapa aku ada di sini untuk membantumu!” seru Kayla sambil berdiri, mencoba menenangkan Ethan yang khawatir.
Sebuah suara tiba-tiba mendekat dari luar rumah. Pintu rumah ini terbuka dan seseorang berjalan masuk ke dalam. Pria yang beberapa jam lalu Ethan hindari sedang menatapnya dari balik pintu yang terbuka lebar. Ethan terbelalak. Sekujur tubuhnya merinding tak karuan.
Bagaimana bisa pria itu ada di sini?
- Akhir Chapter -