Perawat baru saja hendak berbicara ketika Ryan yang kebetulan lewat tersenyum sambil berkata, "Itu pasien hamil dari ruang rawat di lantai atas, dia baru saja diusir dari rumah sakit sebelumnya."
"Kak Devan, jangan dengarkan omongan mereka. Biasanya mereka sering dengar gosip, jadi suka salah ingat."
Devan tentu lebih percaya perkataan Ryan. Lagi pula, selama ini dia dan Scarlett selalu berhati-hati. Scarlett juga memang sulit memiliki anak.
Dengan nada datar, dia bertanya, "Gimana keadaan Scarlett? Kudengar dia juga datang ke rumah sakit ini."
Ryan buru-buru mengalihkan pandangan, agak gugup. "Oh, dia? Nggak apa-apa, cuma lecet sedikit. Mungkin karena dengar kamu datang menjenguk Kak Vivian, dia pura-pura terluka supaya dapat perhatianmu."
Sambil berkata begitu, Ryan diam-diam melirik Devan. Dia mendapati lawan bicaranya tidak curiga, hanya mengerutkan kening, lalu mencibir sebelum berbalik pergi. Ryan akhirnya bisa bernapas lega.
Begitu Devan meninggalkan tempat itu, dia segera memperingatkan dua perawat di sampingnya. "Jangan ada yang menyebarkan informasi apa pun soal pasien di ruangan ini."
Devan dan Vivian akhirnya bisa bersatu kembali. Ryan tidak ingin ada halangan apa pun. Meskipun dia tahu Devan tidak menyukai Scarlett, dia juga tidak bisa memastikan apakah Devan akan berubah sikap jika tahu tentang anak itu atau timbul perasaan lain karena rasa iba dan bersalah.
Bagaimanapun juga, selama dirinya ada, dia tidak akan membiarkan rencana Scarlett berhasil.
....
Dua hari setelah dirawat, Scarlett keluar dari rumah sakit. Hal pertama yang dia lakukan adalah membeli sebidang tanah pemakaman untuk anaknya.
Anak ini sejak awal memang tidak pernah diharapkan, jadi dia tidak sempat menyiapkan baju atau mainan bayi.
Scarlett sengaja pergi ke pusat perbelanjaan, membeli semua barang yang menurutnya cocok atas rekomendasi pramuniaga. Sampai akhirnya pramuniaga itu tak tahan untuk menasihati, "Bu, bayi cepat besar. Nggak perlu beli sebanyak ini, nanti mubazir."
Hidung Scarlett terasa sesak. Dia menggeleng pelan. Anaknya tidak akan pernah tumbuh besar.
Meskipun sudah mempersiapkan diri, saat benar-benar melihat anaknya dimakamkan, Scarlett tak mampu menahan air mata yang mengalir deras.
Mungkin anak ini akan menjadi bayi yang manis, selincah dirinya waktu kecil, atau sepintar dan setenang Devan saat masih kecil, atau mungkin menjadi anak yang pendiam dan penurut.
Mungkin dia akan suka bernyanyi, mungkin suka menari, atau mungkin seperti ayahnya, menjadi genius dalam bisnis.
Masa depan anak selalu penuh kemungkinan. Scarlett bahkan sudah membayangkan berbagai macam sikap Devan ketika tahu dia hamil, tetapi dia sama sekali tidak pernah membayangkan anak itu akan pergi duluan, bahkan sebelum dilahirkan.
Dia dan anak ini memang hanya ditakdirkan untuk bersama sebentar. Anak ini memilih dirinya sebagai ibu, tetapi dia sama sekali tidak berdaya, bahkan tidak bisa menyelamatkan nyawanya.
"Bu, nama yang akan ditulis di batu nisan apa ya?" tanya petugas di sampingnya dengan pelan.
Saat itu, Scarlett baru tersadar, anak ini bahkan belum punya nama. Dia berpikir sejenak, lalu menyahut dengan getir, "Hope Permana."
Selamanya, itu tetap anaknya. Entah di kehidupan berikutnya anak ini memilih siapa pun sebagai orang tua, dia pasti masih akan punya harapan untuk hidup.
Tring! Tiba-tiba, ponselnya berdering. Scarlett mengeluarkannya dari saku, melihat nama di layar. Violeta, ibu Devan sekaligus mertuanya.
"Scarlett, kudengar sudah tiga hari kamu nggak pulang. Heh, berani juga kamu sekarang. Ayo jelaskan, apa maksudmu ini?" Begitu panggilan tersambung, Violeta langsung tertawa dingin.
Kali ini Scarlett tidak lagi seperti dulu, terburu-buru menjelaskan kesulitannya. Suaranya tenang. "Nggak ada maksud apa-apa."
Violeta tertegun sejenak, nada bicaranya penuh ketidakpuasan. "Scarlett, apa-apaan sikapmu ini?"
Seperti biasa, apa pun yang ia katakan, Violeta selalu mencari kesalahannya dan menyudutkannya. Sejak awal Violeta tidak pernah menyukainya, jadi sering memanas-manasi hubungan antara dia dan Devan.
Tidak lama setelah pernikahan, Devan yang memang tidak suka pada Scarlett sering kali tidak pulang semalaman. Violeta justru menyuruhnya menelepon Devan atau mendesak untuk menyuruhnya mencari Devan.
- Akhir Chapter -