INFO
πŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !πŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !πŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !πŸŽ‰ Novel update setiap hari - Baca 5 bab gratis, VIP bebas iklan selamanya - Gabung Grup Telegram t.me/shortnesia untuk info rilis tercepat !
Home/Di Ranjang Majikanku/3. Sentuhan Pertama
← Kembali ke Detail

3. Sentuhan Pertama

Di Ranjang Majikanku4 menit Β· 756 kata Β· Chapter 3/404

Chapter 3 / 404 Β· 1%3. Sentuhan Pertama
Ukuran huruf
18px

Ruang kerja Tuan Bhaga adalah perwujudan dari dirinya sendiri. Megah, elegan, namun dingin dan tanpa sentuhan personal. Dinding yang dipenuhi buku hukum dan bisnis, meja kayu solid yang berantakan dengan dokumen.

Pria itu sedang menandatangani seberkas dokumen ketika Maryam masuk, membawa nampan dengan secangkir kopi dan air putih.

"Kopinya, Tuan," ucap Maryam dengan hormat, meletakkan nampan di atas meja.

Bhaga mengangguk singkat tanpa mengangkat kepalanya. "Maryam," ujarnya tiba-tiba, membuat gerak kepala pelayan berhenti. "Pembantu baru itu, Binar, benar? Dia yang akhir-akhir ini sering menemani Ardan?"

Maryam mengernyit, tapi tetap menjawab dengan sopan, "Ya, Tuan. Tuan muda Ardan tampak sangat menyukainya. Dia mau makan, belajar, dan mandi tanpa merengek jika ditemani Binar.”

"Baik. Dari sekarang, tugas utamanya adalah sebagai pengasuh pribadi Ardan. Urusan rumah tangga lainnya sudah bukan urusannya. Dia yang akan bertanggung jawab penuh atas jadwal dan kebutuhan Ardan."

"Baik, Tuan."

"Suruh dia datang ke sini. Sekarang," perintah Bhaga, sebelum kembali fokus pada dokumennya.

Maryam membungkuk sedikit dan segera meninggalkan ruangan. Beberapa menit kemudian, pintu diketuk pelan. Binar masuk dengan langkah gamang, seolah masuk ke ruang interogasi.

"T-tuan memanggil saya?" suaranya hampir seperti mencicit.

Bhaga mengangkat matanya. Di rambut hitam Binar, terselip sebuah bunga kertas kecil berwarna kuning yang jelas buatan Ardan.

"Ardan memberimu hadiah?" ucap Bhaga tiba-tiba, suaranya datar tetapi tanpa amarah.

Binar terkejut, tangannya refleks meraba rambutnya. Saat menemukan bunga kertas itu, wajahnya memerah.

"Oh! Maaf, Tuan. Tadi... tadi tuan muda bilang ini cocok sebagai hiasan mahkota untuk putri dan saya lupa lepas," jawabnya, buru-buru melepas bunga kertas itu dan memegangnya dengan canggung.

Bhaga hanya mendengus pelan. Dia menegakkan kepala, menatapnya sekilas sebelum menggeser sebuah map coklat tipis ke arahnya.

"Baca ini. Dokumen tentang Ardan. Semua alergi, makanan favorit, jadwal hariannya. Mulai dari bangun tidur, mandi, makan, waktu bermain, belajar, hingga tidur malam. Pelajari. Dan patuhi."

Binar mengambil map itu dengan hati-hati. Dia membuka dan matanya segera menyusuri jadwal yang tertata rapi. Waktunya sangat ketat. Waktu bermain bahkan hanya disisihkan satu jam di sore hari.

Tanpa sengaja, protes keluar dari mulutnya, "Waktu bermainnya... sedikit sekali, Tuan. Dan... tidak ada jadwal khusus untuk bersama... orang tuanya?"

Bhaga mengangkat kepala dengan cepat, matanya menyipit. Suasana ruangan langsung berubah menjadi tegang. "Apa maksudmu?" suaranya rendah, penuh peringatan.

β€œEh.” Bibir Binar mengatup rapat.

Binar langsung menyadari kesalahannya. Tapi kata-kata itu sudah terlanjur keluar. Daripada mundur, dengan keberanian yang didorong oleh kepedulian pada Ardan, dia mencoba meluruskan.

"Maaf, Tuan. Saya hanya...” Binar terdiam sejenak, memikirkan kata yang pas. β€œBukan cuma anak-anak, orang dewasa juga perlu waktu bersama keluarga dan orang yang disayang. Saya rasa Tuan muda Ardan butuh menghabiskan waktu bersama Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Dia sering terlihat murung."

Bhaga terdiam. Amarah di matanya sedikit mereda, digantikan oleh raut kelelahan. Sebuah kenyataan yang selama ini disembunyikan. Namun dagunya terangkat lagi, dan matanya kembali terlihat mengintimidasi Binar.

β€œDia punya segalanya. Mainan, guru terbaik, dan sekarang... pengasuh,” jawabnya datar, β€œlakukan saja sesuai dengan pekerjaan kamu. Kamu dibayar untuk jadi pengasuh. Jangan lewati batas.”

Kalimat itu seperti tamparan. Binar menunduk, pipinya memanas karena malu dan sedikit tersinggung diingatkan akan posisinya yang rendah. Dia hanya pelayan. Bukan psikolog keluarga. Apalagi orang yang akan didengar pendapatnya.

Ingatlah, Binar. Kamu bukan siapa-siapa.

"Baik, Tuan," jawabnya lirih, memeluk map itu erat-erat. "Maaf atas kelancangan saya."

"Keluar."

Binar membalikkan badan dan segera meninggalkan ruangan, meninggalkan Bhaga yang kembali menatap dokumennya, tapi kali ini, pikirannya jelas tidak ada pada tulisan di depan matanya.

**

Malam itu, setelah memandikan Ardan, Binar membacakan tiga buku cerita, dan menyanyikan lagu pengantar tidur. Binar terjaga di samping ranjang bocah itu.

Dia berniat hanya akan menunggu sampai Ardan tertidur pulas, lalu kembali ke kamarnya sendiri. Tetapi kelelahan setelah hari yang begitu emosional akhirnya menyeretnya ke dalam mimpi.

Kepala Binar tertidur di atas bantal sofa yang empuk di lantai, napasnya teratur karena tidur yang dalam.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Bhaga berdiri di ambang pintu, mengenakan kaus polos dan celana training, penampilannya yang paling santai. Wajahnya yang biasanya tegang kini terlihat lelah dan polos.

Dia mendekati ranjang putranya, menatap Ardan yang sedang tertidur dengan pulas, sambil memeluk boneka robot. Senyum kecil menghias bibir Bhaga, sebuah ekspresi langka yang hanya muncul ketika tidak ada yang melihat.

Lalu, matanya beralih ke Binar yang tertidur di lantai. Gadis itu terlihat begitu muda dan damai dalam tidurnya.

Beberapa helai rambutnya menutupi sebagian wajahnya.

Bhaga terdiam sejenak, seolah berdebat dengan dirinya sendiri. Perlahan, dia berjongkok di sebelah Binar. Tangannya yang besar terulur ke arah Binar.

Jari-jarinya yang panjang dan terawat bergerak pelan menyibak helai rambut yang menutupi wajah Binar, dengan sentuhan yang sangat halus.

Sentuhannya membuat Binar menggeliat pelan.

Rekomendasi SponsorAds
Native 4:1 - loading...

- Akhir Chapter -