Juned menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangannya selepas dari tukang cukur. Ia segera memacu mobil menuju arena padel dengan perasaan jauh lebih percaya diri.
"Nah, kalau begini baru pantas bawa mobil mewah," gumam Juned sambil merapikan kerah bajunya di depan cermin.
Setibanya di parkiran, Juned melihat pesan W******p dari Ratna yang memintanya untuk langsung masuk ke dalam menuju arena nomor empat.
Ia melangkah tegap melintasi lobi olahraga tersebut hingga matanya menangkap sosok Ratna yang sedang duduk bersama ketiga temannya.
"Arena empat... oh itu Nyonya," batin Juned saat melihat Ratna yang mengenakan pakaian olahraga ketat.
Juned mendekat lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan untuk memberi hormat tanpa berani menatap terlalu lama ke arah paha mulus para wanita di sana. Ratna menghentikan obrolannya dan menatap Juned dengan binar mata yang tampak sangat puas melihat perubahan drastis supirnya.
Salah satu teman Ratna, langsung berdiri dan melangkah mengitari tubuh Juned seolah sedang memeriksa barang dagangan yang sangat berkualitas.
"Oh, ini supir barumu, Na? Ganteng banget," tanya wanita di sebelahnya.
Ratna segera beranjak dari kursinya dan berdiri di samping Juned, seolah sedang menegaskan batas kepemilikan di depan teman-temannya yang mulai genit.
"Heh, dia baru hari ini kerja, jangan kamu godain ya!" tegas Ratna sambil menyentuh lengan Juned dengan lembut.
Melinda justru semakin berani mendekat hingga Juned bisa mencium aroma keringat dan parfum yang bercampur dari tubuh wanita sosialita itu.
"Kamu digaji berapa sama Ratna? Saya bayar dua kali lipat kalau kamu mau pindah kerja sama saya," bisik Melinda dengan tatapan menggoda.
Juned tetap mempertahankan ekspresi tenangnya dan memberikan senyuman tipis di depan teman-teman majikannya. Ia menolak tawaran menggiurkan itu dengan kalimat yang halus menunjukkan kesetiaannya pada Ratna.
"Terima kasih atas tawarannya.β jawab Juned dengan sopan.
Ratna langsung menarik lengan Juned untuk segera meninggalkan area tersebut sebelum teman-temannya yang lain ikut melontarkan godaan yang lebih parah. Ia berpamitan singkat pada grup arisannya itu sambil menuntun Juned menuju arah parkiran mobil.
"Sudah ah, kasihan supirku. Yuk Ned, kita pulang sekarang," ucap Ratna sambil menarik nafas panjang.
Juned kembali fokus pada jalanan sambil sesekali mencuri pandang ke arah jok belakang melalui spion tengah. Ia tidak menyadari bahwa gerak-gerik matanya sejak tadi diperhatikan oleh Ratna yang sedang bersandar santai.
Setelah sampai rumah dan juga menjemput Maudy, Juned memarkirkan mobil di garasi, seraya masuk ke kamarnya.
Baru saja merebahkan punggungnya di atas kasur saat suara ketukan di pintu kamarnya terdengar cukup keras. Ia segera bangkit dan membukakan pintu, mendapati Ratna berdiri di sana dengan wajah yang tampak sedikit kelelahan.
"Ned, seingat saya kamu bisa urut ya di kampung? Bisa tolong urutin bahu saya gak? kayanya saya salah urat." ucap Ratna sambil memegang bahunya sendiri.
Juned sempat terdiam sejenak.
"Saya bisanya pijat, Nyonya." tanya Juned untuk memastikan pendengarannya.
Ratna seolah tak peduli, ia tak mengindahkan Juned. βSama aja lah! Coba tolongin saya dulu.β
Juned tidak punya alasan untuk menolak permintaan tersebut, apalagi Ratna adalah orang yang telah memberinya pekerjaan dan gaji besar.
"Baik Nyonya," jawab Juned dengan patuh.
Juned melangkah masuk ke dalam kamar yang beraroma terapi mawar, namun langkahnya terhenti saat melihat Ratna sudah berbaring dengan kain jarit yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.
Ia berhenti sebentar karena ia pikir hanya memijat bahunya.
Ia menelan ludah dan menghampirinya seraya berkali-kali sambil menuangkan minyak pijat ke telapak tangannya hingga terasa hangat.
β"Nyonya mau dipijit seluruh badannya?" tanya Juned sambil mengoleskan minyak.
β"Iya Ned," jawab Ratna pendek.
βRatna hanya bergumam mengiyakan sambil membenamkan wajahnya di bantal yang empuk. Juned pun mulai menekan pundak hingga leher Ratna dengan kekuatan yang pas agar majikannya merasa nyaman.
"Permisi Nyonya, saya mulai dari pundak ya," ucap Juned dengan suara yang sedikit bergetar.
Sentuhan tangan Juned yang kuat mulai bekerja pada otot leher dan punggung Ratna, menciptakan suasana sunyi yang hanya diisi suara gesekan kulit. Ratna memejamkan mata, menikmati sensasi pijatan yang jauh lebih nikmat daripada terapis salon langganannya.
Juned terus bergerak turun ke area betis hingga mulai merambah ke bagian paha yang terasa begitu lembut di bawah telapak tangannya. Meskipun sempat ragu, ia terus melanjutkan gerakannya ke atas setelah melihat Ratna sama sekali tidak memberikan tanda keberatan.
"Bagian depan juga perlu dipijat, Nyonya?" tanya Juned.
β"Boleh.β jawab Ratna memberikan izin sambil merapikan kain jaritnya agar tetap menutupi area dada.
Juned sempat terdiam mematung saat melihat kemolekan tubuh Ratna yang kini menghadap ke arahnya. Kain jarit yang tidak terikat kencang itu tampak bergeser, memperlihatkan lekukan tubuh yang sangat menggoda di bawah cahaya lampu kamar.
"Permisi ya, Nyonya," ujar Juned sambil menuangkan kembali minyak ke telapak tangannya.
Ratna memejamkan mata saat merasakan jemari Juned mulai menekan lembut area di atas dadanya. Rasa rileks yang tadinya ia cari perlahan berubah menjadi hasrat yang muncul begitu saja akibat sentuhan tangan pria yang sudah lama tidak ia rasakan.
Juned perlahan menurunkan pijatannya ke arah tangan, lalu lanjut merambat turun ke bagian kaki dan telapak kaki. Saat jemarinya mulai memijat area betis dan naik ke paha, Juned bisa merasakan suhu tubuh Ratna yang semakin memanas.
Baik Ratna maupun Juned kini terjebak dalam hasrat yang sama. Ratna perlahan mulai membuka kedua pahanya sedikit demi sedikit, memberikan ruang lebih bagi jemari Juned untuk bergerak bebas.
"Ahhh... iya, Ned, di situ," desah Ratna pelan saat merasakan pijatan Juned mulai merayap naik ke arah pangkal pahanya.
Juned yang merasa hasratnya sudah di puncak keberanian, mulai menyentuh area yang semakin mendekati pangkal paha Ratna. "Iya, Juned... naik terus ke sebelah situ," ucap Ratna dengan suara yang nyaris berbisik.
Juned menuruti perintah itu, pijatannya semakin dalam hingga mendekat ke area inti milik Ratna yang tertutup kain jarit tipis. Paha Ratna kini terbuka semakin lebar, membuat Juned bisa melihat bagian inti majikannya itu secara samar-samar.
Melihat Ratna yang sangat menikmati sentuhannya, Juned memberanikan diri menyentuhkan jarinya tepat di area inti Ratna. Seketika itu juga, Ratna refleks melengkungkan punggungnya dan mengeluarkan desahan yang cukup keras.
"Hmm, Juned..." desah Ratna sambil mencengkeram sprei ranjangnya dengan kuat.
Tepat di saat ketegangan itu memuncak, pintu kamar yang tidak terkunci tiba-tiba terbuka dengan suara yang cukup nyaring. Maudy berdiri di ambang pintu dan langsung berseru memanggil ibunya. "Mah!"
- Akhir Chapter -