Satu kali, dua kali hingga tiga kali. Lili mencoba untuk menghubungi nomor ponsel yang beberapa waktu lalu diberikan oleh Lio.
Namun, setiap kali ia menekan tombol panggil, jawaban yang sama terus terdengar, Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Suaranya monoton, dingin, dan lama-kelamaan membuat telinga Lili terasa panas.
Ia menarik napas dalam, kemudian menunduk memeriksa kembali nomor yang tersimpan di layar ponselnya. Mungkin saja ia salah mencatat? Tapi setelah beberapa kali mengecek digit demi digit, ia yakin bahwa nomor itu benar. Tapi kenapa tidak bisa dihubungi? Apakah Lio sengaja memberikan nomor palsu?
Lili menggigit bibirnya, mencoba menahan kecewa yang mulai membuncah. Untuk apa Lio melakukan itu padanya? Bukankah dia yang menawarkan bantuan lebih dulu? Tapi kini seperti menghindar.
Setelah beberapa menit termenung dalam keraguan dan kekecewaan yang bercampur aduk, Lili akhirnya memutuskan. Ia tidak bisa menunggu dan berharap lagi. Ia harus menemui Lio secara langsung. Jika memang niat pria itu hanya main-main, maka ia akan meminta penjelasan dengan kepala tegak. Tapi kalau Lio serius, maka Lili siap menerima tawarannya.
Demi Zian, suaminya yang sedang terjerat hutang dan butuh pertolongan.
Dengan gemetar, Lili memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dan masa bodoh dengan harga diri sebagai perempuan dan juga seorang istri yang selama ini Lili junjung, yang terpenting dirinya segera mendapat uang.
Ia langsung menatap pada supir taksi yang sedang fokus mengendarai mobil.
"Pak, ke perusahaan X," pintanya pada sopir taksi, dan mengubah tujuan awalnya yang semula hendak pulang ke rumah.
Selama perjalanan, Lili hanya diam menatap ke luar jendela. Dadanya sesak, pikirannya kacau. Ia tahu apa yang akan ia lakukan bertentangan dengan hati nuraninya. Tapi harga dirinya kini terasa tak berarti dibanding rasa cinta dan tanggung jawab terhadap suami yang sedang terlilit hutang yang sangat banyak. Ia ingin menolong, bagaimanapun caranya.
Tak butuh waktu lama, taksi berhenti di depan sebuah gedung tinggi nan megah, perusahaan milik Lio. Bangunan yang pernah ia datangi beberapa waktu lalu, saat pertama kali mengenal sahabat suaminya itu. Lili menghela napas panjang, lalu turun dari taksi dan melangkah masuk ke dalam gedung.
Langkahnya pelan dan ragu saat menaiki lift menuju lantai tempat ruang kerja Lio berada. "Ini salah satu jalan yang harus kamu ambil, demi Zian, Li," bisiknya pada diri sendiri. Tapi suara hatinya tetap berat. Ia belum sepenuhnya ikhlas. Betapa tidak, ia akan menyerahkan diri pada pria lain, bukan karena cinta, bukan pula karena nafsu. Tapi karena keadaan memaksanya.
"Ini demi Zian, Li… demi suamimu…' gumamnya berulang kali, seperti mantra yang ia paksa untuk diyakini.
Begitu sampai di lantai tujuan, Lili melangkah menuju ruangan Lio. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu. Jantungnya berdetak cepat. Ia tak tahu apa yang akan dikatakan, tapi ia tahu ia harus masuk dan menyelesaikan semua ini.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Lili membuka pintu perlahan, namun matanya langsung membelalak. Ruangan itu bukan kosong, tapi juga bukan diisi oleh Lio. Yang duduk di balik meja kerja adalah seorang pria asing yang sama sekali tidak ia kenal. Pria itu terlihat seumur dengan Lio, mengenakan kemeja putih dan dasi abu-abu. Sorot matanya tajam, ekspresinya datar.
Lili refleks memandang sekeliling ruangan, berharap menemukan sosok Lio di sana. Tapi tidak ada.
"Siapa kamu?" tanya pria itu sambil menautkan kening melihat Lili.
Lili gugup, tapi mencoba tetap tenang. "Maaf, Lio di mana?" tanyanya.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru mengernyitkan dahi, seolah menilai siapa sebenarnya perempuan asing yang tiba-tiba masuk ke ruangan tersebut.
"Kamu siapa?" ulangnya, kali ini nadanya lebih tegas.
"Aku…" Lili menggantung kalimatnya, bingung harus menjawab apa. Apa ia harus berkata bahwa dirinya istri dari sahabat Lio? Atau mengakui maksud kedatangannya? Lili benar-benar bingung, dan kini memilih untuk diam.
"Hei, kamu siapa?" desak pria itu lagi.
Lili akhirnya menghela napas dan menjawab, "Temannya Lio."
Pria itu masih tampak ragu. Sorot matanya tak berubah, tetap menatap Lili.
"Untuk apa kamu mencarinya?" tanyanya lagi.
"Ada urusan penting," jawab Lili dengan suara sedikit gemetar.
Beberapa detik hening, lalu pria itu bersandar di kursinya dan berkata. "Pak Lio sedang berada di luar negeri.
Lili terdiam. Matanya membesar. "Luar negeri?"
- Akhir Chapter -