Aku melirik cermin di kamar tamu yang kini aku tempati. "Sialan, jejak tangannya benar-benar membuatku kesal.." gumamku sambil menyentuh pipiku yang memerah akibat tamparan dari Naima.
Walaupun Ara membalasnya kembali, namun sikap Babas yang lebih membela Naima membuat Ara kesal. Ia tak habis pikir, siapa sebenarnya yang berhak atas Babas.
BAAAMM..
Suara keras bantingan pintu membuat Ara terkejut.
Ara segera melirik ke arah pintu, di sana ia menemukan Bastian dengan wajah murka dan sekarang Babas tengah mendekatinya.
"Minta maaf pada Naima!" perintah Babas dingin.
Cih! Tak akan sudi, batin Ara membalas.
"Kau dengan aku? Minta maaf pada Naima!"
"Harusnya dia yang melakukan itu.." balas Ara dingin.
"Apa?"
"Harusnya dia yang minta maaf padaku karena secara hukum dan agama aku, adalah istrimu.." lanjut Ara sambil menatap mata Nanas lirih.
"Cih! Istri? Kau pikir aku menganggapmu istri?"
Ara merasakan perih di ulu hatinya. Ia tak menyangka Bastian akan mengatakan hal seperti itu.
"Jika tidak istri, lalu sekarang kau anggap aku apa?" tanya Ara tertunduk.
"Angin.."
Ara tersenyum sinis, "Kau tahu? Angin bisa menghancurkan apapun. Dan aku, bisa menghancurkan bocah itu.."
Suasana langsung menegang seketika saat Ara mengeluarkan ancamannya.
Bahkan Babas pun tak bisa bicara lagi. Ia mendadak kelu dengan yang Ara ucapkan dan ancamkan padanya.
"Sekarang kau bisa keluar? Atau karena kau menganggap ini rumahmu jadi kau bebas? Kau harus ingat Bastian, Aku, Istrimu.." Ara menekan kata istri pada Babas.
Setelah mengakhiri ucapannya, Ara langsung berjalan menuju kamar mandi.
Dan siapa yang tahu, sekuat-kuatnya Ara, Di dalam sana ia luruh juga. Saat pintu tertutup, Ara langsung merosot terduduk. Nafasnya sesak, air matanya seketika keluar menandakan hatinya terluka.
Namun dalam setiap tetes air mata yang muncul, ada satu kekuatannya yang ikut bangkit. Ia tak mau di tindas begitu saja. Ia berhak atas Bastian dan ia berhak mempertahankan nasib pernikahannya.
*****
Siang ini Ara memiliki jadwal latihan untuk pertandingan karate tiga bulan lagi. Dan ia harus segera pergi.
Setelah mengambil tas sandangnya, Ara langsung keluar dari kamar tamu.
Ara tersenyum sinis saat pemandangan tak layak kini ia lihat di depan matanya.
Gadis sialan itu tengah memakai dapur untuk membuatkan Bastian makanan dan kalian tahu? Pria sialan itu memeluknya dari belakang.
BAAMM..
suara bantingan pintu yang keras membuat keduanya terkejut.
Bastian melirik ke arah Ara yang juga menatapnya tajam.
Mau kemana dia? Tanya Babas dalam hatinya.
Ara berhenti dari langkahnya, "Aku pergi sebentar." ucap Ara dingin, "kau jangan ge er. Aku meminta izin karena kau suamiku. Dan aku istri SAH mu.." lanjut Ara sambil menekan kata SAH.
Naima yang tengah mengaduk spatula langsung terhenti. Ia memutar tubuhnya menghadap Ara dan berjalan secara perlahan mendekati wanita itu.
"Cih? Apa kau bilang? Istri SAH? Bastian sudah menceritakan semuanya padaku kenapa dia menikahimu. Cih! Dasar murahan.." ejek Naima tak terhindarkan.
Ara menatap tajam Babas dan Naima bergantian.
"Aku pikir di sini aku yang penggoda, ternyata kau lebih gila dariku. Kau manfaatkan kondisi Bastian yang tengah mabuk untuk mencari keuntungan. Apa kau miskin? Kau kurang belaian di tubuhmu? Atau kau memang haus akan bercinta? Jika ia, kenapa harus Bastian yang kau jadikan sasaranmu? Apa karena dia kaya raya? Cih! Pelacur.."
Tes...
Satu tetes air mata terjatuh dari pipi Ara, dan itu tak luput dari penglihatan Bastian.
Pria itu menatap Ara dalam dan tatapan itu begitu sulit untuk di ungkapkan maupun ditebak.
"Terserah kau ingin mengatakan apa, Bastian sekarang suami ku. Kau harus mengingat itu.."
Ara menatap Bastian dengan tatapan kecewa sebelum ia benar-benar pergi.
*****
Ara kini tengah berada di rumah Riani. Ia butuh ketenangan dan beruntung Riani ada di rumah begitupun Tian.
"Ada masalah lagi?" tanya Riani penasaran. Pasalnya ia bisa melihat dari wajah Ara jika wanita itu sedang tak baik-baik saja.
"Kau kenal Naima?" Ara menanyai Riani tentang gadis yang kini ada di rumahnya.
Riani mengkerutkan keningnya, di sana Ara bisa menebak jika Riani tak mengetahuinya.
Ara tertunduk lesu, "Siapa Naima?" tanya Riani yang juga kebingungan.
Ara menggeleng, "Dia bilang, dia adalah kekasih Bastian.."
Mendengar jawaban Ara, Riani langsung terdiam. Ia tak tahu menahu soal kekasih Bastian karena selama ini yang ia tahu Bastian itu single dan tak punya pacar.
"Kau tahu dia dari siapa?" tanya Riani penasaran.
"Dia ada di rumahku sekarang. Dan dia datang pagi-pagi buta. Aku bertengkar dengannya dan dia menamparku. Kau tahu Ri, Bastian menceritakan pada Naima kenapa pria itu menikahiku. Setelahnya, Naima benar-benar mencaciku." cerita Ara Lirih.
Mendengarnya Riani langsung emosi. Ia segera memanggil Tian keluar kamar. Ia ingin menanyakan pada suaminya itu siapa Naima dan apa sebenarnya hubungan Naima dengan Babas. Ia yakin Tian pasti mengetahui tentang Naima. Karena Tian bisa dikatakan sahabat terdekat Babas.
"Sayang, apa bisa keluar sebentar?" Riani mengintip dari balik pintu kamar dan mendapati Tian tengah sibuk dengan laptopnya.
Tian segera menutup laptop tersebut dan berjalan mendekati Riani, "Ada apa sayang? Apa ada yang gawat?" ucapnya sembari bertanya.
Riani mengangguk yang seketika membuat Tian cemas. "Kenapa? Kau sakit? Apa ada yang menyakitimu? Anak kita kesakitan? Kau kenapa sayang?" wajah panik Tian membuat Riani ingin tertawa, namun segera ia urungkan.
"Ada Ara di bawah dan dia ingin bertanya padamu.."
Jawaban Riani membuat Tian mengernyit. "Ara?" ulang Tian. Riani mengangguk. "Ada apa?"
"Ada yang penting. Ayuk ikut aku ke bawah.." ajak Riani.
Tian mengangguk. Ia berjalan keluar mengikuti Riani dan benar saja, di sofa tengah duduk Ara dengan wajah yang memperlihatkan banyak masalah.
"Ara?" Ara yang dipanggil langsung melirik ke depan.
"Oh, Tian. Maaf aku mengganggu istirahatmu.." ucap Ara dengan wajah menyesal.
"Tak apa." jawab Tian sambil tersenyum.
Tian mengambil posisi duduk di sofa yang ada di depan Ara, sedangkan Riani duduk di sebelah Ara.
"Tian, ada yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Ara membuka kata.
Tian menatap Riani sekilas lalu kembali menatap Ara, "Bertanya tentang apa?"
Ara diam sejenak. Agak berat baginya menanyakan ini pada Tian, pasalnya ini urusan keluarganya, namun jika tak bertanya, Ia tak akan tahu jawabannya.
"Kau mengenal Naima?"
Mendengar nama Naima, Tian langsung terkejut, "Kau tahu Naima?" tanta Tian balik.
Ara menggeleng, "Pagi ini ada seorang gadis bernama Naima datang ke rumahku. Dia menanyakan Bastian dan gadis itu mengatakan jika dia adalah kekasih Bastian." Ara tertunduk sedih setelah menceritakannya.
Sedangkan Tian terdiam. Ia tak percaya Naima balik dan menemui Bastian.
"Bisa kau ceritakan padaku siapa Naima, Tian?" Ara menatap Tian penuh harap.
Tian lagi-lagi melirik Riani. Ia meminta persetujuan dari istrinya tersebut. Melihat Riani mengangguk, Tian langsung menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Naima memang kekasih Bastian.."
Ara dan Riani langsung membeku terdiam saat Tian membenarkan apa yang dikatakan Naima padanya tadi pagi.
"Tapi..."
"Tapi?"
"Tapi mereka sudah hampir tak bertemu selama dua tahun karena Naima menyelesaikan kuliahnya di luar negeri."
"Apa ada kata putus dari keduanya?"
"Setahuku tidak.." ucap Tian.
"Jadi apa di sini aku yang merebut Babas?"
Riani langsung menggeleng spontan. "Tak ada yang merebut di sini Ra.."
"Tapi..."
"Lupakan itu. Sekarang kau berstatus sebagai istri Bastian..."
Tapi Bastian tak menganggap itu Ri..
"Jadi jangan pernah berpikir yang macam-macam. Statusmu jauh lebih kuat sekarang dari pada Naima.."
Ara diam sambil menatap Tian. Ia menatap Tian yang tak menatapnya.
"Tiga bulan lagi aku akan ikut pertandingan karate internasional..." Tian seketika menatap Ara begitupun Riani.
"Ra..."
"Dan itu kujadikan penentu nasib pernikahanku dengan Bastian.."
"Ra.." Riani tak bisa menghentikan Ara berbicara.
"Jika aku kalah, saat itu akan menjadi akhir pernikahanku, tapi jika aku menang, aku tak akan lepaskan Bastian pada siapapun.."
Riani menatap Tian, ia mencoba meminta bantuan suaminya itu. Namun Tian sendiri tak bisa apa-apa. Yang akan ia lakukan nanti yaitu bicara dengan Babas, itu saja.
"Kau di sini dulu. Aku akan menemui Bastian sebentar. Apa saat kau pergi dari rumah Naima masih ada?"
Ara mengangguk. "Baiklah." Tian menatap Riani, "Sayang, biarkan Ara di sini dulu. Aku akan menemui mereka.."
Riani mengangguk. Ia memeluk Ara hangat. Bagaimana pun, ia sudah berhutang nyawa dengan Ara, jadi ia tak akan rela Bastian melukai Ara seperti ini. Pernikahan mereka pun baru seumur jagung, tapi sudah ada ujian seperti ini.
"Aku yakin semua akan baik-baik saja Ara.." ucap Riani berbisik di telinga Ara.
*****
Pliis jaangan lupa bintang lima nya ya..^^
- Akhir Chapter -