Tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Aku yang semula hendak mengajak mereka pulang, kuurungkan, menunggu hujan reda. Kami berteduh. Mepet ke depan pintu, agar tidak basah terkena air hujan. Dinta dan Danis tertidur setelah menangis. Dinta kubaringkan dengan berbantalkan tas. Sedang Danis berada di pangkuan. Gawaiku bergetar. Ada sebuah pesan di aplikasi dari Fani.
[Mbak, udah kuantar semua keripiknya. Tadi bagi tugas sama Anis. Ini dapat uang enam juta.]
[Ya, Fan…]
[Mbak, kapan pulang? Gak kenapa-napa kan di sana?]
[Iya, gak terjadi apa-apa. Bentar lagi pulang. Nunggu hujan reda.] Fani serta Bapak Ibu pasti mengkhawatirkanku. Biar nanti di rumah saja aku cerita sama mereka.
[Paket krimnya tadi ada yang ambil. Temen Mbak katanya. Udah kasih uang juga. Habis mbak, creamnya] Lanjutnya lagi.
Alhamdulillah usahaku maju.
Segera kuminta Fani untuk mentransfer uang hasil penjualan pada Afifah. Setelahnya, sambil memangku Danis kuhubungi Afifah, mengatakan kalau aku siap menjadi member. Tentunya dengan dibantu Fani menawarkan pada teman-teman kampusnya. Afifah menyambut hangat dan mengatakan akan mengirim barang dengan nominal uang lima belas juta. Syarat utama menjadi member, kita harus belanja sebanyak lima belas juta. Aku iyakan. Tak perlu menunggu untung dari produk tersebut untuk mencicilnya. Karena terhitung sampai hari ini, dari usaha keripik sudah mengantongi untung enam juta. Artinya, dalam sebulan aku bisa mendapat dua kali lipat. Di bank juga masih ada tabungan yang lumayan. Itu bisa kugunakan untuk mengembalikan modal pada Afifah. Dalam hati kuberjanji, hasil kerja kerasku akan kugunakan untuk menyenangkan kedua buah hatiku.
Hujan telah reda. Tinggal menyisakan gerimis-gerimis kecil. Kubangunkan Dinta dan Danis untuk mengajak mereka pulang. Menunggu sampai mereka sadar sepenuhnya. Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah sebelah. Itu rumah bibinya Mas Agam. Dinta dan Danis segera memakai jaket. Kami bertiga berdiri. Kugandeng tangan mereka berdua. Namun langkah kami terhenti, saat melihat rombongan keluarga Mas Agam telah pulang dari piknik.
Anak-anak semakin mengeratkan pegangan pada lengan, saat melihat Ayahnya menggendong Aira sambil tangan satunya menenteng boneka besar. Senyum sumringah terpancar di bibirnya. Berjalan sambil sesekali menggoda keponakannya itu. Demi apapun juga, hati terasa perih. Menyusul kemudian di belakang, Bapak Ibu mertua, Mbak Eka, Iyan serta istrinya Rani. Mereka terlihat membawa banyak sekali oleh-oleh. Mas Agam sontak berhenti demi melihat kami bertiga ada di sini. Sedang keluarganya terlihat salah tingkah. Muka kedua anakku memancarkan kesedihan. Lagi-lagi mata berdua kakak beradik ini berkaca-kaca. Aku paham apa yang mereka rasa. Seumur hidup, belum pernah mereka diperlakukan seperti Aira saat ini, baik oleh Ayah maupun kakek neneknya.
Aku berjongkok demi mensejajarkan tubuh dengan Dinta dan Danis.Kuusap pelan kepala dan mengecup rambut mereka. Mencoba memberi kekuatan atas apa yang dilihatnya.
“Sayang, mau sama Ayah atau pulang?”
“Pulang…” Jawab mereka kompak.
“Dinta… Danis… Eh, datang gak bilang-bilang. Sudah lama? Ayo masuk, sini! Mbah ada oleh-oleh buat kalian…” tergopoh Ibu mertua berlari merangkul kedua anakku. Sedang yang dirangkul terlihat enggan. Danis menggeleng, semeakin mengeratkan pegangan pada lenganku. Mas Agam terlihat kikuk, segera diturunkan Aira dari gendongannya. Anak perempuan yang berusia tiga tahun itu berlari riang sambil menggendong bonekanya.
“Asyiiiikkk… Dapat boneka dali Pak Dhe…” Soraknya girang. Sambil berlari masuk rumah. Mbak Eka dan Iyan sudah masuk lebih dulu. Rani menghampiri dan bersalaman denganku.
“Ayo Nia, diajak masuk anaknya. Ini ada oleh-oleh dari Guci.” Ajak Ibu mertua. Bila belum berbicara serius, beliau memang terlihat biasa-biasa saja. Namun ketika terlibat sebuah obrolan, maka akan terdengar pula kata-kata ketusnya. Bapak mertua entah ke mana aku tidak memperhatikan.
“Enggak Bu, terimakasih. Kami pamit pulang saja,” sanggahku.
“Jangan-jangan… Sini masuk dulu, masih gerimis. Nanti saja kalau hujan sudah benar-benar reda,” Ibu masih memaksa.
Semesta seakan tak mendukungku.Tiba-tiba hujan turun kembali. Dengan terpaksa aku mengajak Dinta dan Danis masuk ke rumah yang saat ini terasa begitu menakutkan buatku.
Kami sudah berada di ruang keluarga saat ini. Bersama Bapak mertua yang terbaring lelah, Mas Agam yang terlihat salah tingkah dengan memainkan gawainya. Serta Ibu yang sibuk memilah-milah oleh-oleh. Iyan sepertinya ada di kamar. Sedang Mbak Eka terkesan menghindariku. Sibuk di dapur bersama Rani. Terdengar suara cekikikan mereka, sepertinya tengah bercanda. Hal yang tidak pernah dilakukan bila bersamaku.
Berusaha menahan debar hebat dalam dada. Aku mengalihkan dengan mengecek handphone. Afifah mengabarkan bila proses pendaftaranku sebagai member telah disetujui. Ia memang sudah meminta persyaratan administrasi sebelumnya. Aku sudah mengirimkan foto KTP dan KK serta buku rekening.
[Nanti sore, barang siap kirim ke rumah kamu Ni.]
[Ok. Makasih Fifah… Uang yang kemarin dah ku transfer ya? Besok aku transfer lagi sepuluh juta buat daftar membernya. Biar gak banyak utang ke kamu. Kurangnya aku lunasi dua minggu lagi] balasku.
[Wah, lagi banyak uang ya?] goda sahabatku itu. Tapi tidak aku balas. Suasana hatiku sedang tidak enak.
[Makasih Nia sayang… Semoga sukses] balasnya lagi.
[Ok. Amin…] jawabku singkat.
Fainna ma’al usri yusro Inna ma’al usri yusro. Di setiap kesukaran pasti ada kemudahan. Aku harus berfikir positif, keadaan saat ini benar-benar menjadi ujian bagiku. Dan aku tidak boleh terpuruk. Justru harus bangkit. Bukankah membalas sakit hati yang paling baik adalah dengan berusaha menjadi sukses? Bismillah… Semoga Allah meridhai langkahku. Toh aku tidak berbuat jahat. Jusrtu saat ini menjadi orang yang terzdalimi.
Dinta dan Danis masih anteng di tempat duduknya. Pandangan mereka terlihat memperhatikan Aira yang sedang bermain dengan banyak mainannya.
“Aira, Mbak Dinta sama Mas Danis diajak bermain. Dipinjemi mainannya. Kamu ini, mainan dah banyak kalau pergi masih selalu minta dibelikan. Kalau gak minta sama Mbah, ya sama Bu Dhe Eka. Tapi seringnya minta sama Pak Dhe Agam. Manja banget itu si Aira sama Pk Dhenya. Kamu juga sih Gam, terlalu manjakan Aira.” Ibu berbicara sambil memasukkan oleh-oleh ke dalam plastik. Sepertinya mau dibagi-bagi. Aku tambah tidak nyaman berada di sini. Kami memang jarang kemari setelah Aira lahir. Jadi tidak tahu kalau Mas Agam sebegitunya dalam memanjakan Aira. Karena aku merasa mereka memang berbeda dalam memperlakukan Aira. Lebih mengistimewakan. Sepupu-sepupu Mas Agam serta keponakannya selalu memanggil dengan istilah ‘kesayangan’.
Apakah Ibu memaksaku masuk karena mau pamer? Ingin memanas-manasi aku atau ini hanya fikiran jelekku? Mas Agam memandang sayu pada kedua buah hatinya. Entah merasa bersalah atau malu dengan kenyataan yang terjadi di belakang kami.
“Pak Dhe, ini dibelikan waktu kita ke Semalang ya? Ini juga, oleh-oleh Pak Dhe dali Jogja. Ini, ini, ini semuanya Pak Dhe yang belikan, ya, Mbah?” Aira terlihat memilih-milih mainan yang dibelikan Mas Agam. Semuanya bagus-bagus. Pasti mahal harganya. Dinta dan Danis tidak pernah dibelikan oleh-oleh saat Ayahnya pergi. Mereka paling beli saat ada pedagang mangkal di hiburan hajatan, atau kalau enggak ya di pasar saat mereka ikut aku belanja. Ternyata Mas Agam melakukan banyak hal pada Aira, yang tidak ia lakukan terhadap anaknya …
- Akhir Chapter -