Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya.
Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas.
“Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan.
Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.”
Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?”
Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.”
Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa ini. Suaminya bekerja di kilang minyak dan pulang sekitar 2 sampai 3 bulan sekali. Bu Susi tinggal bersama putranya, Rendi, yang masih berusia tiga tahun.
“Kamu enggak kedinginan?” tanya wanita itu lagi sambil melirik otot lengan Jaka yang tampak kekar.
“Enggak, Bu. Enggak apa-apa, kok.” Jaka tersenyum ramah, walau matanya sesekali masih terpaku pada dua bukit kembar yang naik turun di bawah leher Bu Susi.
“Makasih ya Jaka, kamu sampai telanjang dada begitu gara-gara kasih kaos buat saya,” ujar wanita itu lagi sambil meremas ujung kaos Jaka yang ia pakai.
“Enggak apa-apa, Bu. Enggak usah dipikirin,” sahut Jaka santai.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Bu Susi yang tampak asri dengan pagar tanaman yang rapi. Suasana sudah mulai remang-remang karena matahari hampir tenggelam sempurna.
"Sudah sampai, Bu," ujar Jaka sambil berhenti di depan pagar.
Bu Susi tidak langsung masuk. Ia berdiri diam, menatap Jaka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jaka... kamu jangan langsung pulang. Tunggu sebentar, saya ganti baju dulu, biar kamu bisa pake lagi baju ini.”
Jaka hendak menolak, namun Bu Susi sudah terlanjur menarik pergelangan tangannya. Akhirnya Jaka mengikut saja dan duduk di teras menunggu Bu Susi yang sedang mengganti baju di dalam.
Tidak lama kemudian, wanita itu kembali. Ia sudah memakai daster rumahan yang lumayan tipis, namun ada sesuatu yang menarik perhatian Jaka. Ujung bukit kembarnya tercetak jelas di balik kain tipis nan halus tersebut.
Jaka menelan ludah, Bu Susi sepertinya tidak mengenakan dalaman.
“Ini Jaka,” kata Bu Susi pelan namun berhasil membuyarkan lamunan Jaka yang mulai liar.
“Loh, apa ini, Bu?” tanya Jaka heran. Bu Susi bukan hanya mengembalikan kosnya, wanita itu juga memberikan sebuah amplop untuknya.
“Ini tanda terima kasih saya Jaka, kamu terima ya?” ujar Bu Susi penuh harap. “Kalau enggak ada kamu tadi, saya enggak tau bakalan gimana.”
“Anu, Bu. Tapi—”
“Udah, Jaka.” Bu Susi langsung memotong sambil meraih tangan Jaka memaksa menerima amplop darinya. “Terima aja, ya?”
Bu Susi memang termasuk salah satu keluarga berada di desa ini, ia yang bekerja sebagai guru dan suaminya yang bekerja di kilang minyak tentu saja mempunyai penghasilan bulanan yang stabil.
Karena Bu Susi memaksa, akhirnya Jaka menerima amplop tersebut. “Ya udah, Bu. Terima kasih banyak,” kata Jaka sambil tersenyum.
Bu Susi membalas senyum tersebut, namun rona merah di pipinya terlihat jelas sedari tadi. Dan wanita itu tampak betah memegang tangan Jaka.
Suasana hening sejenak saat mata mereka berdua bertemu.
“Oh, ya Bu, Rendi mana?” tanya Jaka basa-basi sambil menarik tangannya.
“Oh, itu sama Mbok Minah, kalau saya lagi ngajar, Rendi saya titipin sama Mbok Minah di sebelah,” jawab wanita itu menjelaskan.
Jaka hanya mengangguk pelan, ia menyimpan amplop tersebut ke dalam sakunya. Lalu segera memakai kembali kaosnya untuk menutupi tubuh.
Aroma tubuh Bu Susi langsung menguar dari kaos tersebut memberikan sensasi aneh pada penciuman Jaka.
“Bu, anu… saya—”
“Masuk dulu, yuk! Jangan langsung pulang,” potong Bu Susi cepat. Tanpa menunggu jawaban Jaka wanita itu langsung menarik tangannya ke dalam.
“Duduk dulu biar saya buatin minum,” katanya lagi, lalu ia beranjak ke dapur.
Jaka duduk namun matanya terus mengikuti lekuk pinggul guru cantik itu yang sangat menggoda. Sedikit dasternya tampak menyelip ke dalam belahan pantat menandakan wanita itu memang tidak mengenakan dalaman atas bawah.
“Jaka… kamu mau minum apa?” tanya Bu Susi dari dapur.
“Apa aja, Bu,” jawab Jaka singkat sambil membenarkan posisi kejantanannya yang mulai sesak di dalam celana.
Tidak berselang lama wanita itu kembali membawa segelas sirup yang tampak segar. “Ini Jaka, diminum dulu,” katanya sambil meletakkan minuman di atas meja. Lalu ia segera duduk tepat di sebelah Jaka, hingga aroma tubuh wanita itu menyerang penciuman Jaka begitu hebat.
Jaka langsung meneguk sirup tersebut sampai habis.
“Jaka, kamu haus, ya?” tanya Bu Susi sambil terkekeh.
“Hehe, iya Bu.” Jaka hanya cengengesan sambil mengusap tengkuknya.
“Mau minum lagi?”
“Hah?”
“Mau sirup lagi? Atau kamu mau minum yang lain?” tanya Bu Susi menegaskan.
Jaka mengernyit. “Minum yang lain? Apa, Bu?”
“Hmm… apa ya?” sahut Bu Susi sambil memutar manik matanya dan mengulum senyum. “Kamu mau susu?”
“Susu?”
“Iya, susu saya.”
“Eh?!” Jaka tersentak.
“Eh, bukan! Maksud saya, ada susu di belakang, kamu mau?” Bu Susi langsung menunduk malu.
“Oh, hehe kirain,” sahut Jaka cengengesan.
“Emang kamu mikir susu apaan tadi? hayoo!” goda guru cantik itu.
“Hehe, enggak, Bu.” Jantung Jaka benar-benar berdebar. “Tapi enggak usah, Bu. Udah cukup kok.”
“Jadi, beneran nih enggak mau susu?” tanya Bu Susi lagi, kata-katanya begitu ambigu.
“Hehe, bener, Bu.” Jaka hanya cengengesan, sambil sesekali merapatkan pahanya agar gundukan di celananya tidak terlihat.
“Oh, ya udah kalau begitu,” ujar Bu Susi sambil bersandar di sofa, membuat goncangan pada dua bukit kembarnya terlihat jelas.
“Anu, Bu. Saya mau pulang dulu, udah sore.” Jaka langsung bangkit, namun ia lupa jika gundukan di celananya terlihat jelas kini.
“Loh, Jaka! Itu?” Bu Susi langsung memalingkan wajahnya, pipinya benar-benar merona melihat gundukan di celana Jaka.
“Eh, maaf, Bu.” Jaka reflek menutup selangkangannya dengan tangan.
“Kok itu bangun sih?” tanya Bu Susi sambil melirik pelan.
“Enggak tau, Bu, bangun sendiri dia,” jawab Jaka polos sambil terus menutup selangkangannya.
“Dasar kamu! Bisa bahaya itu kalau bangun tiba-tiba begitu,” goda Bu Lilis sambil bangkit dan mencolek pinggang Jaka.
Jaka hanya cengengesan, pipinya merah menahan malu.
“Ya sudah,” kata Bu Lilis lagi. “Kalau kamu ada waktu nanti, main-main ke sini, di belakang ada beberapa rongsokan yang bisa kamu ambil.”
“Iya, Bu, baik. Nanti kapan-kapan saya mampir ke sini buat ambil rongsokannya,“ jawab Jaka gugup sambil terus memegang selangkangannya. “Ya udah, Bu. Saya pamit, ya?”
“Iya, Jaka. Makasih ya?”
Jaka mengangguk lalu segera beranjak dari sana. Jantungnya berdebar hebat. Namun, ia cukup senang, selain bisa melihat dua bukit kembar Bu Susi tadi, Jaka juga mendapat hadiah amplop. Jaka yakin isinya adalah uang, namun ia tidak tahu berapa jumlahnya karena belum membukanya. Namun setidaknya dengan uang pemberian Bu Susi ini, ia bisa mencicil kontrakan Bu Lilis yang tersisa dua bulan lagi.
- Akhir Chapter -