Setelah mengetahui bahwa proses penghapusan data kependudukan membutuhkan waktu setengah bulan untuk selesai, Gabriella berdiskusi dengan orang tuanya dan akhirnya memutuskan untuk kembali dulu ke rumah Keluarga Hartama.
Selama setengah bulan ini, dia harus tetap berada di sisi Nigel dan tidak boleh membiarkan Nigel menyadari kejanggalan sedikit pun.
Kalau tidak, dengan sifat Nigel yang kejam, mereka bertiga tidak akan bisa pergi.
Setelah kembali ke vila, Gabriella mulai merapikan barang-barangnya.
Foto-foto bersama yang dulu dia anggap sangat berharga, surat cinta yang pernah Nigel tulis untuknya, serta suvenir yang mereka beli saat bepergian bersama ... semuanya dia lemparkan ke dalam perapian.
Kobaran api melahap masa lalu itu, seolah sedang membakar sebuah mimpi konyol.
Keesokan harinya, Gabriella pergi ke halaman belakang.
Di sana ada deretan pohon kemuning yang dulu ditanam Nigel sendiri untuknya. Dia pernah berkata bahwa pohon kemuning melambangkan kesetiaan, sama seperti cintanya kepada Gabriella yang tidak akan pernah layu.
Gabriella mengambil kapak dan menebangnya satu per satu.
Para pelayan berdiri jauh di sana. Tidak ada yang berani mendekat atau menghentikannya. Suara batang pohon yang patah terdengar berat dan menyakitkan, seperti suatu keterikatan yang diputus secara paksa.
Hari ketiga, Gabriella pergi ke Tebing Cinta di puncak gunung.
Di sana tergantung sebuah gembok cinta. Di atasnya terukir nama mereka berdua. Dulu Nigel menggendongnya dan melemparkan kunci gembok itu ke jurang, mengatakan bahwa sepanjang hidup ini mereka akan terkunci bersama selamanya.
Sekarang, Gabriella langsung memotong rantai gembok itu dengan tang. Gembok itu jatuh ke tanah dan mengeluarkan bunyi nyaring yang jelas. Dia berbalik dan pergi tanpa menoleh ke belakang sekali pun.
Ketika dia kembali ke vila, di ruang tamu sudah ada dua orang.
Nigel duduk di sofa, sementara Della bersandar di pelukannya. Wajahnya pucat dan rapuh. Gabriella melewati mereka tanpa ekspresi dan langsung berjalan menuju lantai atas.
"Berhenti." Suara Nigel terdengar dingin dari belakang.
Gabriella menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh.
"Kamu tahu kenapa aku bawa dia pulang?" tanyanya.
"Nggak peduli."
"Setelah kamu mengirim Della ke luar negeri, dia nggak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dia nggak bisa tidur nyenyak selama beberapa malam." Nada bicara Nigel penuh teguran, "Gabriella, minta maaf sama dia."
Gabriella akhirnya berbalik dan menatap mereka.
Della memegang lengan baju Nigel dengan ragu, tetapi terlihat rasa puas di matanya sekilas.
"Kalau aku nggak minta maaf?" tanya Gabriella dengan tenang.
"Lupakan saja, nggak apa-apa ...," kata Della dengan suara lembut dan lemah. "Aku dirugikan sedikit juga nggak masalah. Lagi pula ... kakaklah yang jadi Nyonya."
Nigel langsung merangkulnya lebih erat. "Bukankah aku sudah bilang, jangan terlalu pengertian begini?"
Nigel mencium puncak kepalanya dan berkata, "Mulai sekarang aku yang akan memanjakanmu. Kamu mau gimana pun boleh."
Gabriella menarik sudut bibirnya, merasa semuanya sangat ironis.
Seorang pelayan membawa semangkuk sup penenang, katanya khusus disiapkan untuk Della.
Saat itu, ponsel Nigel berbunyi. Dia melihat sekilas layar panggilan, lalu berkata dengan lembut kepada Della, "Kamu biasanya pusing kalau dengar aku bicara soal urusan kerja. Aku keluar sebentar untuk jawab telepon. Kamu minum supnya."
Setelah berkata demikian, dia bangkit dan pergi.
Gabriella berdiri di tempatnya. Jantungnya terasa seperti dihantam keras.
Dulu Nigel tidak pernah membicarakan urusan kerja di luar rumah, karena menyangkut rahasia bisnis. Namun sekarang, kebiasaan itu pun bisa diubahnya demi Della.
Di ruang tamu hanya tersisa Gabriella dan Della.
Wajah lemah Della langsung menghilang, digantikan oleh kesombongan seorang pemenang.
"Kamu lihat sendiri, 'kan?" ucapnya sambil tertawa pelan. "Walaupun kamu Nyonya Keluarga Hartama dan bahkan sudah mengirimku pergi dengan statusmu itu ... tubuh dan hati Nigel tetap ada padaku."
Gabriella menatapnya dengan tenang. "Kalau kamu mau dia, ambil saja."
Della tertegun sejenak, lalu marah. "Aku nggak perlu kamu yang ngasih! Cepat atau lambat, dia akan menjadi milikku sepenuhnya dan posisimu juga akan menjadi milikku!"
Melihat Gabriella tetap tidak terpengaruh, dia semakin kesal.
Pada saat itu, dari luar terdengar langkah kaki Nigel.
Kilatan kejam melintas di mata Della. Tiba-tiba dia mengangkat mangkuk sup penenang yang masih panas itu dan langsung menyiramkannya ke tubuhnya sendiri.
"Ah!" jeritnya sambil berlinang air mata.
Ketika Nigel bergegas masuk, yang dia lihat adalah pemandangan itu.
Della tampak kacau. Sup menetes dari pakaiannya, sementara dia menangis tersedu-sedu.
"Gabriella!" Sorot mata Nigel tampak marah. "Kamu nggak minta maaf saja sudah keterlaluan, masih berani melakukan ini padanya?!"
"Bukan aku yang melakukannya," sergah Gabriella dengan tenang. "Kamu bisa cek kamera pengawas."
"Oke, cek!" Nigel mencibir.
Della segera menarik lengannya dan menangis. "Nigel, ini bukan salah Kakak ... akulah yang nggak seharusnya berharap bisa tetap di sisimu. Aku pergi sekarang ...."
Dia baru berjalan satu langkah ketika Nigel langsung menariknya kembali.
"Aku sudah susah payah menemukanmu kembali, kamu mau pergi lagi dari pandanganku? Kamu mau ambil nyawaku, ya?"
Nigel memeluknya erat, seolah memeluk harta yang baru saja didapatkan kembali. Lalu, dia menatap Gabriella dengan sorot yang dingin dan menakutkan.
"Aku akan tuntut keadilan untukmu."
Gabriella kemudian dikurung di ruang pendingin.
Saat para pengawal menyeretnya masuk, dia berjuang mati-matian. "Nigel! Cek kamera pengawas! Bukan aku yang melakukannya!"
Nigel bahkan tidak meliriknya sedikit pun, melainkan hanya berkata dengan dingin, "Nggak perlu cek. Aku cuma percaya dia."
Pintu ruang pendingin tertutup dengan keras.
Kegelapan dan hawa dingin langsung menelan Gabriella. Dia meringkuk di sudut dengan tubuh yang gemetar, tetapi hatinya bahkan lebih dingin daripada ruangan itu.
Inikah yang dimaksud Nigel ketika dia mengatakan bahwa orang yang paling dicintai Nigel adalah dirinya?
Air mata Gabriella mengalir tanpa henti.
Sejak kecil, tubuhnya memang dingin dan sangat takut pada udara dingin.
Setelah menikah, Nigel menghabiskan banyak uang untuk memasang sistem suhu konstan di rumah. Bahkan halaman luar terasa seperti musim semi sepanjang tahun.
Saat musim dingin, Nigel akan menghangatkan tangan dan kakinya yang dingin di dalam pelukannya, lalu tersenyum dan berkata, "Aku akan terus menghangatkanmu seperti ini seumur hidup."
Sekarang jika dipikirkan kembali ....
Janji, mungkin hanya benar pada saat diucapkan saja.
- Akhir Chapter -