Di dalam hatinya, padahal Mira sedang mengkal dan sama sekali tak ingin di ganggu.
Namun, dengan kehadiran Nyonya Salma yang terhormat ini, bagaimana pula ia bisa menolak?
"Panggil aku Ibu, Nak! sekarang aku adalah Ibumu!"
sebenarnya, Nyonya Salma sungguh berniat baik dengan mendatangi kamar Mira. Hanya saja, Mira yang memang sedang tak bisa berfikir dengan lebih baik, justru membenakkan kata-kata yang buruk di hatinya, yaahh, walau pada permukaan ia masih bisa menampilkan 'sedikit' senyuman.
Mira, "Bagaimana Mira bisa, Nyonya?"
Nyonya Salma tersenyum, ia bukannya tidak tahu kalau Mira sedang ingin sendiri. Namun jika anak itu tak segera mampu beradaptasi dengan keluarganya, bagaimana pula ia akan menjalankan kehidupan pernikahannya? "Pasti bisa! karena mulai sekarang, aku adalah Ibumu dimana pun berada."
Mira terdiam, menenggelamkan kepalanya di antara lutut yang ia lipat.
Bila saja ia mendengar kata-kata itu dalam keadaan yang berbeda, boleh jadi ia akan sangat menghargainya dan merasa terharu dengan ketulusannya.
Tapi lihatlah apa yang Mira lakukan sekarang! ia justru menunduk dalam-dalam seolah kedatangan Nyonya Salma mengganggu saja. Ia bahkan dengan begitu kentara, menghela nafasnya.
Sungguh! Mira tak memiliki maksud lain, ia juga tak ingin menyakiti hati selembut sutra Nyonya Salma.
Hanya saja, ketika mendengar kata-kata tulus dari mulut Nyonya Salma, Mira tak lagi bisa membendung air matanya, dan ia tak mau Nyonya Salma mengetahui hal itu.
maka dari itu, Satu-satunya yang bisa Mira lakukan hanyalah terus menenggelamkan kepalanya dan tak berniat menjawab perkataan dari Nyonya Salma. Karena selama ia bisa menutup mulut, maka Nyonya Salma tak akan menyadari tangisannya.
Nyonya Salma, "Baiklah kalau tidak mau makan sekarang, Ibu akan menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu, dan menyuruh pelayan untuk membawakan makanan untukmu."
Mira masih tetap diam. Membiarkan Nyonya Salma mengecup puncak kepalanya dan kembali berkata, "namun ingatlah, Nak! di rumah kami, tak akan ada yang menyentuh makanan ketika meja makan belum lengkap! Jadi, Ibu harap kau jangan biarkan kesedihanmu bertahan begitu lama, dan membuat semua orang ikut bersedih."
Dengan itu, Mira akhirnya mendengar langkah kaki Nyonya Salma yang menjauhinya, kemudian pintu terbuka dan tertutup kembali.
Bagi Mira, bagaimana ia bisa menunjukkan diri di depan suami yang bahkan sama sekali tak mengharapkan kehadirannya?
Waktu itu, saat Mira akhirnya menyetujui pernikahan ini, dalam otaknya ia membenak, 'jika memang aku hanya akan di jadikan mesin reproduksi bagi suamiku kelak, maka tak apa, aku akan terima. Karena setidaknya, aku yang miskin ini masih ada gunanya di rumah besar yang terhormat itu'.
Tapi lihatlah! Bahkan semalam suaminya sendiri yang bilang, bahwa dia tak akan menyentuhnya bila ia yang tak datang sendiri! Dan itu semua, dia lakukan untuk istri tercintanya! Dia bahkan tega sekali berkata tak akan pernah mengisi hatinya untuk yang lain lagi!
Lalu bagaimana pula Mira akan mendatanginya? Ia akan datang seperti wanita penggoda dan menawarkan rahim untuk benih dari orang yang sama sekali tak menginginkannya? Bukankah itu terlalu bodoh untuk di lakukan?
***
Nyonya Salma kembali ke meja makan. Wajahnya terlihat sedih, dan ia langsung mendekati Alka di samping Amina.
"Mira tak mau makan bersama, kau datanglah ke kamarnya, dan bujuk ia!"
Mendengar itu, Alka justru mengedikkan bahunya acuh, "dia sudah besar, Bu. sepertinya terlalu berlebihan bila harus memaksanya untuk hanya sekedar makan."
Nyonya Salma, "tapi dia istrimu, kau harus lebih memperhatikannya. Bagaimana jika ia tumbuh begitu kurus setelah baru saja memasuki keluarga kita?"
Alka, "Tentang ia akan menjadi kurus atau tidak, itu bukan lagi urusan kita, bukankah sudah terhitung lebih dari tiga kali pelayan kita mengingatkan untuk bersegera makan?"
Di tempat duduknya, Amina menundukkan kepalanya dalam, sama sekali tak berani ikut dalam pembicaraan.
Tuan Maheer berdeham kecil, "saat kau menawarinya makan tadi, apa yang dia katakan?"
Nyonya Salma, "dia hanya bilang belum lapar,"
Alka, "kalau begitu, bukankah memang boleh jadi dia tidak mau makan hanya karena belum lapar? lalu apa yang perlu kita pusingkan?"
Nyonya Salma memandang putra satu-satunya itu dengan heran, "apakah kau lupa tentang kebiasaan keluarga kita?"
Alka membuang nafasnya.
Sedari kecil, ia telah di ajarkan untuk selalu menunggu yang lain di tempat makan. lalu, setelah ia telah melakukan tradisi itu hingga lebih dari dua puluh tahun, bagaimana pula ia akan lupa dalam sekejap?
Alka, "aku tidak pernah lupa, Bu" ia menggerakkan tangannya untuk meraih centong nasi dan mulai mengambil nasi juga lauk yang ada ke atas piring, "tapi aku tak bisa membiarkan perutku kosong lebih lama hanya karena keegoisan orang baru."
Setelahnya, Alka meletakkan piring itu ke depan Amina, "makanlah, jangan biarkan dirimu lemas karena lapar."
Melihat itu, Nyonya Salma mengkal sekali, "kau bahkan belum mencoba membujuknya, dan dengan mudah kau mengatakan bahwa dia egois? Dengar Nak! tak Pernah ada wanita egois yang rela menjadi istri dari pria yang telah menikah dengan lapang dada, sedang ia tahu boleh jadi tujuan dari pernikahan ini semata-mata karena istri pertama dari pria itu mandul!"
Mendengar itu, hati Amina tersentak dalam hingga merasa tak habis fikir.
Dulu, bahkan setidaknya hingga kemarin, tak pernah ada satupun di keluarga ini yang dengan tega mengungkit dirinya yang mandul.
Dan sekarang, ketika seorang menantu baru datang, entah mengapa kata-kata itu yang hanya di ucapkan sekali oleh Nyonya Salma seolah terdengar ribuan kali di telinga Amina.
Namun ia tetap menundukkan kepalanya dalam, menyadari bahwa itu memanglah keadaannya!
Tuan Maheer berdiri, menyadari bahwa menantu pertamanya tersinggung dengan ucapan istrinya, "duduklah dulu, Bu! Ayah rasa apa yang di ucapkan Alka ada benarnya juga, kita tak bisa menyiksa perut semua orang sekarang."
Di tempat duduknya, Diam-diam Alka meraih jemari Amina di bawah meja. Ia tadi sudah akan memprotes ucapan Ibunya kalau Ayahnya tak segera berdiri dan menghentikan niatnya itu.
Nyonya Salma, "tapi Yah, Ibu hanya tidak mau kalau di kemudian hari...."
Tuan Maheer, "Bu..." Ia memberi tanda bahwa apa yang ia ucapkan telah menyakiti menantu pertama mereka dengan kedipan mata, dan hal itu langsung di sadari oleh Nyonya Salma.
Nyonya Salma, "astaga Amina, maaf... Ibu... e- Ibu tidak bermaksud untuk..."
Amina segera memotong ucapan Nyonya Salma, ia tahu Nyonya Salma tak sengaja mengucapkan hal itu di depannya, "tak apa, Bu. Menurut Amina Mas Alka dan Ayah ada benarnya juga, kita harus makan sekarang, dan setelah itu, biar Amina yang membujuk Mira untuk makan. Karena bagaimana pun, di antara semua orang disini, Aminalah orang terdekat bagi Mira."
- Akhir Chapter -