← Kembali ke Detail

Sandiwara Di Depan Keluarga

Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa 6 menit · 1.040 kata · Chapter 2/295

Chapter 2 / 295 · 1%Sandiwara Di Depan Keluarga
Ukuran huruf
18px

Arumi terus mematung dan menutup mata. Namun, lama ia menunggu, tidak ada yang terjadi dengan dirinya sama sekali. Bahkan hembusan napas hangat itu pun sudah tidak terasa di wajahnya lagi.

“Buka mata. Saya cuma mau ngasih tahu kamu, untuk bersikap biasa saja selama nanti di meja makan. Jangan sampai keluarga saya curiga soal pernikahan kita,” tutur Langit dengan penekanan intonasi.

Ia lalu menjarak. Melihat Arumi dengan ujung ekor matanya. Sejenak hanya ada keheningan di antara mereka. Serta detak jantung Arumi yang sudah sedikit lebih stabil.

Perlahan dua netra indah itu pun terbuka. Ia lihat Langit sudah dalam posisi duduk di tepi ranjang. Fokus pria dewasa itu sudah beralih kepada benda pipih yang ada di tangannya.

‘Nggak jadi keluar kamar apa?’ batin Arumi.

“Cepat ganti pakaianmu, semua orang sudah menunggu kita,” titah Langit lagi tanpa melihat sedikitpun kepada Arumi.

“I—iya, Om ....” Arumi lekas berlalu ke arah kopernya. Koper yang seharusnya tidak pernah ada di kamar itu dan menjadi saksi bisu betapa menyedihkannya hidupnya saat ini.

Sebab jika dikaji dari segi manapun, yang menjadi korban di sini tidak hanya Langit, tapi juga Arumi.

Ia yang seharusnya masih memiliki masa depan yang panjang, menghabiskan masa muda dengan happy-happy bersama teman-teman, justru sudah harus menjadi istri orang.

Parahnya lagi, laki-laki itu tidak pernah mencintainya. Sebab Arumi bukanlah sang ibu, yang cantik, dewasa dan sangat sempurna di mata seorang Langit. Mau menandingi ibunya sendiri, rasanya Arumi seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami.

Arumi mengeluarkan sebuah dress panjang dengan warna kalem dan desain yang sopan. Ia langsung membawanya ke kamar mandi karena akan memakainya di sana. Tidak mungkin juga ia mengganti pakaian di depan Langit.

Walau pria itu sudah berstatus sebagai suami yang sah baginya. Tetap saja, mereka tidak saling menginginkan pernikahan ini. Dan pada akhirnya, mereka akan bercerai juga, kan?

Setidaknya, kalau pun nanti ia menjadi jandanya seorang Langit, dirinya tidak sampai harus rugi secara fisik.

Langit sempat melempar pandang ke arah Arumi, tapi kemudian kembali melihat kepada ponselnya.

***

“Kapan kamu mulai masuk kuliah lagi, Rum?” Viola-Bundanya Langit, bertanya kepada Arumi di sela-sela makan malam mereka.

“Senin depan Arum udah mulai masuk kuliah lagi, Bu,” jawab Arumi dengan sopan.

“Panggil Bunda aja. Kamu sekarang kan udah jadi istrinya Langit.” Viola tersenyum ramah.

Arumi mengangguk patuh. Kemudian kembali menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Meski rasanya seperti menelan duri, tapi jujur saja, dikelilingi oleh banyak orang seperti ini membuat dirinya sedikit bahagia.

Wajar saja, sebab selama ini ia hanya hidup berdua bersama Andini. Wanita yang merupakan seorang single parent.

Sejak sang ayah meninggal, ibunya memang tidak menikah lagi. Hingga kemudian perempuan paruh baya itu bertemu dengan Langit. Pria dewasa yang lima tahun lebih muda darinya.

“Lusa kami sudah harus balik ke Belanda. Ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lama-lama. Nanti kabari Bunda ya, Lang … kalau Arumi udah hamil.”

“Uhuk-uhuk-uhuk ....” Langit terbatuk mendengar kalimat spontanitas Bundanya. Dengan cepat, ia pun mengambil air putih dan menenggaknya hingga tandas.

Di sampingnya, Arumi juga tidak kalah terkejutnya. Perempuan itu bahkan sampai mematung beberapa saat dengan mulut yang ternganga. Tersadar tatkala Mutiara-adik Langit yang paling bungsu, menyenggol lengannya pelan.

“Kak ....”

“Heuh?” sahut Arumi seadanya.

“Kok kalian kaget gitu sih? Yang mama bilang kan hal yang wajar dari sebuah pernikahan. Masa sudah menikah, nggak mau punya anak?” jelas Viola lagi.

Arumi mengulas senyum canggung. Dalam hati hanya bisa berkata, bagaimana mau hamil dan punya anak, Langit saja sudah bilang tidak akan pernah mau menyentuhnya. Bibit dari mana coba?

“Kecepatan membahas itu, Bun.” Langit buka suara.

Jelas, mana mungkin dia setuju. Dia bahkan tidak menganggap Arumi sebagai istri sungguhan. Hanya tebusan atas kesalahan yang telah Andini lakukan.

Lagi pula, selama ini ia hanya menaruh hati kepada Andini, bukan Arumi. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan wanita yang tidak pernah ia cintai.

“Nggak ada yang kecepatan, Lang. Kami ini udah tua dan udah kepingin sekali menimang cucu.” Erlangga, Ayah Langit ikut nimbrung di sela-sela percakapan ibu dan anak itu.

“Arumi masih kuliah, Yah. Biar dia selesaikan kuliahnya dulu.” Langit jelas membuat alibi.

Arumi hanya terdiam dan terus memainkan sendoknya. Membolak-balik nasi tanpa berniat memasukkannya lagi ke dalam mulutnya. Seketika terlintas kembali bagaimana awal mula kesalahan ini terjadi.

Semua berawal dari Andini yang mendadak menghilang tanpa jejak. Padahal, Langit sudah memberitahu keluarganya yang saat itu sudah menetap di Belanda, jika ia akan menikah sebentar lagi.

Tak ingin keluarganya kecewa, ia pun mendatangi Arumi. Menuntut gadis tak berdosa itu untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah ibunya lakukan.

“Kamu tahu, siapa yang sudah membayar biaya kuliah kamu selama ini? Itu saya. Saya yang sudah menanggung semua kebutuhan kamu dan Mama kamu. Sekarang, anggap saja kamu sedang membalas kebaikan saya. Bisa kan?” ucap Langit sore itu di depan kampus Arumi.

“Tapi Arum bukan Mama, Om,” ucap gadis polos itu.

“Kamu nggak perlu khawatir. Keluarga saya tidak pernah melihat Andini. Mereka hanya tahu kalau saya akan menikah. Besok mereka akan tiba di Indonesia. Saya nggak mungkin mengecewakan mereka. Lagi pula, ini semua karena ulah Mama kamu, kan?”

Triiinggg!

Suara sendok Arumi yang mental dari ayam goreng, seketika menyadarkannya dari lamunnya. Sekilas ia sapu pandang ke arah semua orang. “Ma—maaf,” ucapnya lirih.

“Nggak apa-apa, sayang.” Viola mengelus lembut punggung tangan Arumi.

Dan setelah makan malam, Arumi pun membantu Mbok Jum untuk membersihkan piring-piring kotor. Awalnya perempuan itu melarangnya, tapi Arumi tetap mau membantu. Lagi pula, selama ini ia sudah terbiasa dalam melakukan pekerjaan rumah, di saat Andini pergi bekerja.

“Sedang apa kamu?” tiba-tiba saja suara Langit mengejutkan Arumi. Ia lekas berbalik dan melihat kepada laki-laki itu.

“Eh, Om. Arum lagi bantu Mbok Jum cuci piring,” jawab Arumi polos.

“Tidak perlu. Langsung masuk kamar,” perintah yang punya kuasa.

“Tap—”

“Kamu tidak dengar saya bilang apa?” tanya Langit dengan intonasi yang lebih tegas.

“Sudah, Non, biar si Mbok aja yang lanjutkan.” Mbok Jum mengelus pelan lengan Arumi. Satu-satunya orang yang tahu dengan apa yang tersembunyi dibalik pernikahan Arumi dan Langit.

Arumi mengangguk patuh. Ia lalu membersihkan tangannya dan segera mengikuti Langit kembali ke kamar.

Padahal sesuai perjanjian di awal, mereka akan tidur secara terpisah, tapi karena keluarga Langit masih ada di rumah itu, malam ini, mau tidak mau, suka tidak suka, Langit tetap harus sekamar dengan Arumi.

“Malam ini, jangan ada yang ganggu pengantin baru. Biarkan mereka membuat keturunan untuk keluarga kita,” ucap Viola sambil tertawa ringan.

— Akhir Chapter —