Setelah Marissa pergi dari kamarnya, Bara langsung mandi untuk bersiap makan siang. Bara keluar dari kamar dengan rambut yang masih agak basah. Dia berjalan pelan menuju ruang makan yang luasnya mungkin dua kali lipat rumahnya di kampung. Di sana, meja makan panjang dari kayu jati sudah penuh dengan berbagai macam lauk. Harum masakan langsung membuat perut Bara berbunyi nyaring.
Marissa sudah duduk di salah satu kursi. Dia menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Bara.
"Sini duduk, Bar. Keyla belum pulang sekolah dan Papamu pasti makan di kantor. Jadi kita makan berdua saja ya," ajak Marissa ramah.
Bara mengangguk sopan lalu duduk di kursi yang ditunjuk Marissa. Dia merasa kecil sekali di hadapan meja sebesar ini.
"Mau makan pakai apa? Biar Tante ambilkan," tawar Marissa sambil berdiri dan mengambil piring Bara.
"Eh, tidak usah repot-repot, Tante. Saya bisa ambil sendiri," tolak Bara sungkan. Dia mau berdiri untuk mengambil sendok nasi, tapi tangan Marissa menahan lengannya pelan.
"Sudah, duduk saja. Kamu itu tamu, lagipula Tante senang kok melayani anak laki-laki. Keyla kan perempuan, makannya sedikit," kata Marissa sambil tertawa kecil.
Marissa mulai menyendokkan nasi putih yang masih mengepul ke piring Bara. Setelah itu, dia menjangkau mangkuk sayur asem di tengah meja. Karena posisinya agak jauh, Marissa harus membungkukkan badannya cukup rendah di dekat Bara.
Bara terpaku di kursinya. Dari posisi duduknya yang lebih rendah, mata Bara langsung disuguhi pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Saat Marissa membungkuk, gaun sutranya melorot ke bawah karena gravitasi. Belahan dadanya yang dalam terekspos jelas di depan mata Bara.
Dua gundukan daging putih mulus dan montok itu terlihat berguncang sedikit saat Marissa menyendok sayur. Bara bisa melihat betapa halusnya kulit di sana, bahkan dia bisa mencium aroma sabun mandi yang segar bercampur parfum manis dari tubuh Marissa. Jarak wajah Bara dan dada itu hanya tinggal jengkal.
'Ya Gusti, cobaan apa lagi ini,' batin Bara panik. Dia ingin memalingkan wajah, tapi lehernya terasa kaku. Pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan oleh laki-laki normal sepertinya, apalagi dia tidak pernah melihat wanita sebening ini di kampung.
"Suka ayam goreng paha atau dada, Bar?" tanya Marissa tiba-tiba tanpa mengubah posisinya. Dia menoleh sedikit ke arah Bara, membuat jarak wajah mereka makin dekat.
Bara tersentak kaget, wajahnya langsung panas.
"Euh ... Paha, Tante. Paha saja," jawab Bara tergagap, matanya liar mencari objek lain untuk dilihat, akhirnya mendarat di gelas air putih.
Marissa tersenyum geli melihat tingkah Bara, lalu mengambilkan potongan paha ayam yang besar dan menaruhnya di piring Bara.
"Nah, ini. Makan yang banyak ya. Kamu kurus sekali, harus banyak makan biar badannya makin tegap," ucap Marissa sambil kembali duduk di kursinya.
Bara mulai menyuap nasi dengan tangan gemetar. Rasa masakannya enak sekali, bumbunya meresap, tapi konsentrasi Bara buyar. Di seberang meja, Marissa tidak makan. Dia hanya menopang dagu dengan kedua tangannya, memperhatikan Bara makan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lengan baju Marissa yang longgar melorot ke bawah, memperlihatkan lengan atasnya yang putih dan berisi. Sesekali dia membetulkan posisi duduknya, membuat dadanya yang besar itu terlihat makin menonjol di balik baju tipisnya.
"Enak masakannya, Bar?" tanya Marissa lembut.
Bara mengunyah cepat lalu menelan makanannya.
"Enak banget, Tante. Ibu saya dulu jarang masak daging ayam begini," jawab Bara jujur.
Marissa tersenyum prihatin, tangannya terulur menyeberangi meja lalu mengusap punggung tangan Bara yang ada di atas meja.
"Sekarang kamu bisa makan enak tiap hari. Kalau mau apa-apa, bilang saja sama Tante. Jangan sungkan, anggap saja Tante ini pengganti Ibumu," katanya dengan suara mendayu.
Bara merasakan kehangatan dari tangan Marissa. Dia menatap wajah ibu tirinya itu. Cantik, wangi, dan baik hati. Tapi setiap kali mata Bara turun sedikit ke bawah lehernya, pikiran kotor itu muncul lagi. Bara merasa bersalah, tapi dia juga merasa nyaman dimanja seperti ini.
"Habiskan ya, nanti Tante buatkan es buah segar buat cuci mulut," ucap Marissa sambil mengedipkan sebelah matanya pelan.
Bara hanya bisa mengangguk patuh, jantungnya masih berdetak tidak karuan.
Bara meletakkan sendok dan garpunya pelan di atas piring yang sudah licin tandas. Perutnya terasa kenyang sekali. Dia buru-buru menumpuk piring kotornya dengan piring bekas Marissa.
"Biar saya cuci piringnya ya, Tante. Sebagai ucapan terima kasih," kata Bara sambil bersiap mengangkat tumpukan piring itu. Dia merasa tidak enak kalau cuma makan tidur saja di rumah mewah ini.
Tapi Marissa langsung menahan tangan Bara.
"Eh, jangan! Kamu itu tamu, bukan pembantu. Biar nanti Mbak di belakang yang bereskan. Ayo, temani Tante duduk di depan saja sambil menunggu perut turun," tolak Marissa sambil menarik pelan lengan Bara.
Bara tidak berani membantah. Dia mengikuti langkah Marissa menuju ruang keluarga. Di sana ada sofa kulit besar berwarna krem yang terlihat sangat empuk. Marissa duduk lebih dulu lalu menepuk sisi kosong di sebelahnya yang jaraknya cukup dekat.
Bara duduk dengan hati-hati. Tubuhnya langsung tenggelam sedikit ke dalam busa sofa yang empuk itu. Rasanya canggung sekali duduk di tempat semewah ini. Marissa menyandarkan punggungnya santai lalu menyilangkan kakinya. Gerakan itu membuat gaun sutranya tersingkap cukup tinggi sampai ke atas lutut. Paha ibu tirinya yang putih mulus dan padat itu terpampang jelas di pinggir mata Bara.
"Sebentar ya, Tante ambilkan es buah yang tadi Tante janjikan," kata Marissa sambil beranjak lagi.
Tak lama kemudian, Marissa kembali membawa nampan berisi dua mangkuk es buah yang segar. Mungkin karena karpetnya agak tebal atau hak sandalnya tersangkut, langkah Marissa tiba-tiba goyah saat sudah dekat dengan sofa.
"Eh!" pekik Marissa kaget.
Cairan sirup merah dan susu dari mangkuk itu tumpah sedikit sebelum Marissa berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Celakanya, tumpahan itu membasahi tepat di bagian dada kiri bajunya.
Bara refleks berdiri mau menolong. "Aduh, Tante! Tante tidak apa-apa?"
Marissa menaruh nampan di meja dengan tenang, lalu menunduk melihat bajunya.
"Yah ... Basah deh," keluhnya pelan sambil mengibaskan tangannya di area yang basah.
Mata Bara seakan terkunci di sana dan tidak bisa berpaling. Kain sutra tipis yang tadinya buram, kini menjadi transparan karena basah oleh air es. Kain itu menempel ketat di kulit dada Marissa, memperlihatkan warna kulitnya yang putih kemerahan di balik sana. Bara bahkan bisa melihat samar-samar lekukan dan puting payudaranya yang mencuat karena kedinginan terkena es.
Pemandangan itu begitu jelas dan menantang. Dada montok yang basah itu terlihat naik turun di depan wajah Bara yang sedang berdiri canggung.
"Lengket nih, Bar. Tante ambil tisu dulu," kata Marissa santai. Dia justru terlihat tidak malu sama sekali, malah seolah sengaja membusungkan dadanya sedikit saat mengusap cairan sirup yang menetes ke belahan dadanya dengan jari lentiknya.
Darah Bara berdesir hebat. Dia menelan ludah berkali-kali, berusaha keras mengalihkan pandangan ke arah pas bunga di pojok ruangan, tapi bayangan kain basah yang menjiplak kulit mulus itu sudah terlanjur terekam di otaknya.
Tepat saat suasana sedang hening dan canggung itu, pintu depan terbuka kasar.
"Aku pulang, Ma!" suara cempreng terdengar, diikuti langkah kaki cepat.
Bara dan Marissa menoleh serentak. Keyla berdiri di perbatasan ruang tamu, masih memakai seragam SMA yang ketat. Gadis itu menatap ibunya dan Bara bergantian dengan tatapan melotot. Matanya berhenti pada baju Marissa yang basah dan posisi Bara yang berdiri cukup dekat dengan ibunya.
Wajah Keyla langsung berubah jijik. Dia melempar tas sekolahnya ke sofa lain dengan kasar.
"Ih! Ngapain sih Ma? Pulang sekolah malah lihat pemandangan aneh begini. Risih banget deh lihatnya," sembur Keyla pedas sambil melirik sinis ke arah Bara. "Heh kampungan, lo ngapain Mama gue? Jangan kurang ajar ya di rumah orang!"
Bara langsung menunduk dalam-dalam, wajahnya pucat.
"Sa-saya tidak ngapa-ngapain, Non. Tadi Tante cuma kesandung," bela Bara dengan suara gemetar.
Namun reaksi Marissa di luar dugaan. Dia tidak membenarkan bajunya atau menjauh, malah berjalan mendekati Bara dan merangkul bahu pemuda itu dengan erat.
"Keyla! Jaga mulut kamu," tegur Marissa dengan nada tegas namun tetap tenang. "Bara ini Kakak kamu sekarang. Tadi Mama cuma tumpah minuman dan Bara mau bantu. Jangan suka menuduh sembarangan. Minta maaf sama Bara sekarang."
Keyla melongo, tidak percaya ibunya membela anak kampung bau matahari itu.
"Apa? Minta maaf sama dia? Ogah! Mama aneh banget sih belain gembel ini," dengus Keyla kesal, lalu dia menghentakkan kakinya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Brakk! Pintu kamar di lantai atas dibanting keras.
Suasana kembali hening. Bara merasa tidak enak hati, takut dia jadi penyebab pertengkaran.
"Maaf, Tante ... Gara-gara saya Keyla jadi marah," cicit Bara pelan.
Marissa tersenyum lembut, lalu tangannya kembali mengusap lengan Bara. Posisi mereka masih sangat dekat, dan baju basah itu masih mencetak jelas bentuk dadanya yang indah.
"Bukan salah kamu, Sayang. Keyla memang manja. Sudah, jangan dipikirin. Yuk, kita makan es buahnya, keburu cair," ajak Marissa santai seolah tidak terjadi apa-apa, sambil menarik Bara untuk duduk kembali di sofa empuk bersamanya.
- Akhir Chapter -