"Kak, Jati dan aku benar-benar saling mencintai. Kamu biarkan kami bersama, ya?"
"Lagi pula, kami sudah melakukan hubungan suami istri. Kalau aku nggak menikah dengan Jati, bagaimana aku bisa menikah nanti?"
Dalam keadaan setengah melamun, aku mendengar adik perempuanku, Dianti Baskara, menangis.
Ayahnya juga berbicara membelanya.
"Gayatri, bagaimana kalau kamu bertunangan dengan yang lain? Dianti sudah melakukan kesalahan karena kehilangan akal sehatnya untuk sesaat."
Selama ini, ayahku selalu memihak pada Dianti karena aku adalah anak haramnya, sedangkan Dianti adalah anaknya yang lahir dari pernikahan yang sah.
Aku menatap Dianti yang sedang berlutut di tanah.
Meskipun wajahnya basah oleh air mata dan tampak begitu sedih, binar ambisi dan kegembiraan di matanya tetap terpancar dengan jelas.
Aku tahu Dianti juga terlahir kembali, dia bahkan sengaja naik ke atas tempat tidur Jati terlebih dahulu.
Di kehidupanku sebelumnya, tunangan yang kupilih adalah Jati Jatmiko, putra sulung dari Klan Serigala.
Menurut pendapatku, Klan Ular berdarah dingin dan kejam, Klan Rubah plin-plan dan penuh nafsu, sedangkan Klan Naga sombong dan angkuh.
Hanya Klan Serigala yang setia dan penuh kasih sayang. Menurutku, mereka adalah pilihan terbaik.
Setengah tahun setelah menikah dengan Jati, aku akhirnya melahirkan seorang anak manusia setengah serigala putih. Kunamai dia Dylan.
Sebagai manusia setengah binatang pertama yang lahir, Dylan secara otomatis menjadi penguasa Aliansi Manusia dan Binatang yang berikutnya.
Dianti sendiri memilih Arko Mahendra, putra sulung dari Klan Rubah, karena dia sangat mendambakan paras molek dari Klan Rubah. Namun, Dianti sama sekali tidak menyangka Arko adalah seorang buaya darat dan selalu menggoda wanita lain di luar.
Akibatnya, Dianti terserang penyakit yang membuatnya mandul seumur hidup dan dibenci oleh Klan Rubah.
Namun, Dianti malah menyalahkanku atas kemalangannya. Dia iri karena hidupku lebih baik daripadanya. Jadi, dia diam-diam membiusku, lalu membakarku dan Dylan hingga tewas.
Begitu teringat akan hal ini, kebencian yang mendalam pun muncul dalam benakku. Rasanya aku ingin segera membunuh Dianti untuk membalaskan dendam Dylan.
Aku mengepalkan tanganku yang tersembunyi di balik lengan baju, rasa sakit di telapak tanganku membuatku sedikit sadar.
Aku mengangguk dengan ekspresi pengertian.
"Karena adikku dan Jati saling mencintai, tentu saja aku nggak akan memisahkan mereka."
Dianti tidak menyangka aku akan setuju begitu saja. Air mata yang baru saja dia keluarkan menggantung dengan canggung di sudut matanya.
"Dianti, ayo cepat berdiri dan cepat bilang terima kasih pada kakakmu karena dia telah membantumu."
Ayahku menghela napas lega.
"Te โฆ terima kasih, Kakak."
Dianti berlari keluar dengan gembira sambil berkata bahwa dia akan pergi ke Klan Serigala untuk memberi tahu Jati tentang kabar baik ini.
"Memang benar kalau anak perempuan itu nggak bisa dikurung di rumah saat mereka sudah dewasa."
Ayahku yang berada di samping pun melontarkan candaan. Namun, ketika menoleh, dia melihat ekspresiku yang acuh tak acuh. Ayahku pun berkata dengan nada bersalah.
"Gayatri, satu-satunya pemuda lajang dari keluarga manusia setengah binatang yang tersisa adalah Yudha Satya dari Klan Ular dan Arko Mahendra dari Klan Rubah."
"Menurut Ayah, Klan Rubah boleh juga. Dari segi penampilan maupun status, mereka jelas jauh lebih tinggi daripada Klan Ular."
"Lalu, Dianti juga sebelumnya bilang kalau โฆ."
Aku langsung menyela ayahku.
"Ayah, aku memilih menikah dengan Yudha dari Klan Ular."
Kaum manusia selalu meyakini bahwa ular adalah makhluk berdarah dingin dan kejam. Mereka selalu penuh prasangka buruk terhadap manusia setengah ular.
Selama ribuan tahun, tidak ada manusia yang memilih untuk menikah dengan anggota Klan Ular. Itu sebabnya Klan Ular tidak pernah menjadi pemimpin Aliansi Manusia dan Binatang.
Akibatnya, Klan Ular pun diusir dari Lima Klan Utama Manusia Setengah Binatang. Mereka menjadi klan manusia setengah binatang dengan kasta terendah dan tidak bisa memperoleh sumber daya apa pun.
Di kehidupan sebelumnya, saat lautan api melalapku, aku melihat sepasang mata berwarna hijau. Itu mata Yudha.
Dia mencoba menyelamatkanku, tetapi tidak bisa karena api yang terlalu besar.
- Akhir Chapter -