Perlahan aku melangkah semakin dekat, kulongokkan kepala dalam bak mandi yang tengah diisi air itu, dan hatiku seakan mengembang, napas terembus lega saat tak mendapati apa pun di dalamnya, hanya ada busa air karena tengah mengalir deras.
Ratna masih tampak ketakutan saat aku menoleh padanya, tubuhnya sampai menggigil dengan kuku jemari tangan digigitinya, aku mendekat.
"Sayang, nggak ada apa-apa," ucapku, Ratna terbeliak keheranan, sejurus kemudian menggeleng cepat, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.
"Nggak mungkin, Bang! Tadi aku lihat sendiri, bak mandi itu penuh dengan ular!" pekiknya histeris, aku mendekap Ratna sembari mengusap pelan rambutnya.
"Itu hanya halusinasi kamu saja, Dek. Udah, sana mandi dulu!" titahku meski pun yakin istriku itu tidak sedang berhalusinasi, aku percaya sebab tadi aku juga mengalami hal yang hampir serupa, iblis itu ... sepertinya akan terus meneror kami.
Ratna menggeleng, "Enggak, Bang! Aku nggak salah lihat!" serunya, ia tetap enggan membersihkan dirinya. Akhirnya aku menyerah, tak membujuknya lagi agar tidak tertekan.
"Ya sudah, kalau begitu mandinya abang temani, mandi shower saja, jangan pakai bak mandi lagi," ucapku, dia pun mengangguk patuh, walhasil aku harus berdiri di luar, Ratna membiarkan pintu sedikit terbuka, takut menguncinya kembali.
โโโ
Malam harinya, aku dan Ratna tidak pergi ke mana pun, biasanya malam-malam begini kami akan pergi ke luar, sekadar makan bakso atau duduk menghabiskan waktu di taman kota, kini keceriaan itu harus rela kami lepaskan, kata Pak Kusno, kami dilarang pergi malam hari.
"Dek, tidur yuk!" ajakku seraya menguap, ini belum jam sepuluh, tetapi rasanya mata ini teramat berat, seakan ingin cepat terpejam saja.
Aku merangkul Ratna ke kamar, setelah kejadian tadi aku tak ingin melepasnya barang sekejap saja, mauku kedua mata ini terus mengawasinya, dalam hati terus berdoa, semoga Tuhan tak mencabut nyawaku sebelum Ratna benar-benar pulih dan kembali seperti sedia kala.
Kami berbaring bersisian, kutatap langit-langit kamar kami dengan pandangan sayu, hanya sesaat, sebelum berbaring miring ke arah istri yang paling kucintai dan memeluknya hangat.
"Tidurlah, Sayang! Besok sore kita akan ke rumah Pak Kusno, semoga ikhtiar kita membuahkan hasil," ucapku, Ratna balas memelukku, dia mengangguk samar.
"Semoga saja, Bang," sahutnya menenggelamkan wajah di dadaku.
*
Aku membuka mata perlahan, kenapa pagi begitu cepat datang? Ah, bukan. Di mana aku? Sebuah tempat dengan selimut berupa kabut yang begitu pekat, aku melangkah perlahan menembus tempat yang tak diketahui itu.
Semakin jauh, tubuh terasa kian letih, persendianku seakan mau luruh, dahaga dan lapar menyerang bersamaan, sejauh mata memandang aku tak bisa melihat apa pun, hanya ada kabut, dan pohon besar menjulang tanpa seberkas cahaya menyinari.
Tak kuasa melanjutkan perjalanan tak tentu arah, aku memutuskan berhenti di bawah pohon, tubuhku menggigil, tengkuk dan jemari tangan-kaki terasa begitu dingin, tetapi peluh membasahi seluruh tubuh ini.
Aku bersandar di batang pohon besar itu, lumut tebal membuat punggungku terasa tengah berbaring di kasur empuk, aku memejam menghalau lapar dan dahaga.
Namun, sesaat kemudian netraku yang sedikit terbuka menangkap cahaya di ujung timur, semakin lama bertambah terang, besar dan menyilaukan.
Aku berusaha bangkit, coba menggapai cahaya itu, semakin dekat kian jelas terlihat sebuah gerbang berwarna emas, ukirannya seperti bukan dari orde baru, terkesan kekunoan, tetapi tampak begitu indah.
Entah dorongan dari mana tanganku menyentuh karena kagum, tak kuduga secepat kilat pintu gerbang ganda itu terbuka lebar, pemandangan pertama sungguh membuat diri ini tersentak.
Di ujung sana, aku melihat Ratna terbaring tak sadarkan diri, di atas sebuah batu seukuran tubuhnya, tergesa aku berlari menghampiri, sedang apa Ratna di sini? Kenapa kami bisa ada di tempat yang sama?
Aku berlari sekencang yang kubisa, tetapi langkah terasa begitu berat, seolah sekuat apa pun aku melangkah tak akan sampai menggapai tubuh tanpa daya itu.
"Ratna!" Aku meneriakkan namanya, tetapi suaraku tercekat di tenggorokan. Aku terus berlari hingga tak sengaja tersandung sebatang kayu, jatuh tersungkur ke tanah lembap berlumpur.
Dalam tengkurap, aku mengangkat kepala, melihat Ratna yang masih begitu jauh dari jangkauan, lalu suara desisan bersahutan mengusik rungu.
Pandanganku mengedar, kedua mata membola melihat tanah yang tadinya lapang kini dipenuhi ular-ular berukuran besar, sontak aku bangkit mengambil kayu yang membuatku tersandung untuk melindungi diri.
Kutatap ke depan sana, Ratna masih terbaring, dan di sekelilingnya binatang melata itu sedang mendekat.
Dalam keletihan luar biasa kucoba mengumpulkan sisa tenaga, berbekal sebatang kayu itu aku nekat menembus lautan reptil demi menyelamatkan Ratna.
Kukibaskan kayu berbentuk tongkat itu, mengusir ular yang terus menghadang, hati terasa lega saat binatang tersebut berhasil kulalui.
Aku terus memanggil Ratna walau teriakanku tak pernah mengudara dan menyadarkannya dari pembaringan itu.
Hampir, lima langkah lagi aku akan sampai padanya, hingga seekor di antara banyaknya ular itu menghadangku, desisnya membuat bulu kuduk berdiri.
Ular ini persis seperti yang kulihat saat itu, sisiknya hitam mengkilap kedua matanya merah menyala, dan lidah berupa pedang bercabang dijulurkan padaku.
Mengesampingkan rasa takut, aku acungkan tongkat itu agar ia pergi, tak seperti yang lain, ular ini tidak beranjak, bahkan mulutnya terbuka lebar hingga taring-taring runcingnya terlihat.
Melihat Ratnaku terbaring dalam keadaan terancam bahaya di belakang hewan itu, aku memberanikan diri memukul kepalanya sekuat tenaga.
Ular itu menggelepar, berubah menjadi butiran kristal bercahaya lantas sirna seketika, begitu pun ular lainnya, semua hancur berubah menjadi percikan bunga api, berangsur menghilang tanpa sisa.
Aku menatap kagum sebatang kayu dalam genggaman, netraku memicing melihat goresan huruf kitab suci di sepanjang tongkat, aku hafal betul, tetapi begitu jarang membacanya, ini adalah Ayat Kursi.
Aku terenyak, Ratna terbaring dengan wajah seputih kapas, aku berusaha membangunkannya, tetapi suaraku tetap tak mau keluar, sedang kedua tangan ini tak sampai menggapai tubuhnya.
*
"Bang! Bang Angga!" Aku bangkit terkejut, terduduk di ranjang dengan peluh membasahi sekujur badan.
"Abang mimpi buruk?" tanya Ratna, aku masih terengah.
"Kau akan membayarnya dengan mahal, kau melukai kepalaku, aaarrrhhh!" Bisikan dengan suara ganda berujung pekikan kesakitan itu menyapu telingaku, terdengar pedih dan begitu memekakkan indra pendengaran.
Bersambung.
*****
- Akhir Chapter -