“Sorry, Em.” Suara Tobias terdengar menyesal.
Aku mendesah, meski merasa sangat kesal aku tidak bisa menyalahkan pria ini. Tadi aku baru selesai memotret kembali para pemain skateboard dengan latar belakang sunset ketika menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 20.16 pm. Lalu aku memutuskan untuk memotret anak-anak muda yang sedang bermain basket dan langsung pulang. Sebelum aku beranjak ke lapangan basket, aku meminta Tobias mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir dan menungguku di persimpangan jalan. Namun ternyata, saat pria itu muncul di tempat yang sudah kita janjikan, dia tidak membawa kendarannya.
“Mobilku mogok,” lapornya.
Dan sekarang, di sinilah kami berada. Duduk di tepi pantai yang sudah mulai sunyi, memperhatikan matahari yang perlahan-lahan masuk ke peraduannya.
“Mobil tua sialan!” umpat Tobias untuk yang kesekian kalinya.
Aku meliriknya, melihat ekspresi wajahnya yang memendam perasaan tidak enak, aku merasa iba padanya.
“Sudahlah, aku bisa mencoba menelepon Eli, mungkin dia bisa menjemput kita. Atau kalau terpaksa sekali kita bisa mencari taksi,” kataku, melakukan panggilan kepada Elian, tapi sepupuku itu tidak menjawab teleponku. “Aku akan menelepon taksi,” kataku lagi.
“Kau tidak keberatan kalau pulang naik taksi sendiri, Em?” tanya Tobias pelan.
Aku meliriknya, memutuskan panggilan yang belum terangkat. “Dan kau?” aku balik bertanya.
“Aku tetap di sini. Aku tidak bisa meninggalkan Crimson.”
“Crimson?”
Tobias berdeham malu sebelum menjawab, “Mobilku.”
“Oh.” Hanya itu yang keluar dari celah bibirku. Aku tidak menyangka Tobias memberi nama pada mobilnya.
“Sorry, Em. Aku benar-benar merasa tidak enak. Aku yang minta untuk mengantarmu, tapi tidak bisa mengantarmu pulang.”
Sekali lagi aku mendesah. “Itu bukan hal penting yang harus dipermasalahkan,” kataku. “Masalahnya, Tobias, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini.”
Tobias menelengkan kepalanya. “Kenapa? Kau takut aku akan menghabiskan malam bersama Sara?” Sorot jenaka berkilat di matanya.
Aku tahu dia bergurau, tapi tak urung pipiku memanas juga. Kusepak kakinya dengan sebal, dan dia malah terkekeh senang.
“Kita berangkat berdua, jadi pulang juga harus berdua. Kalau kau tidak mau meninggalkan Crimson-mu itu, aku juga akan tetap di sini. Kita bisa mencari hotel.”
“Hotel? Kita?” Aku menangkap nada antusias pada suaranya.
“Ya, tentu saja kita akan menyewa dua kamar,” sahutku tajam.
“Wah, itu tidak akan menyenangkan.” Cengiran pada wajahnya tampak menyebalkan.
“Aku tidak tahu apa kita bisa mendapatkan kamar saat musim panas seperti sekarang,” gumamku sambil membuka aplikasi booking hotel pada smartphone-ku.
“Tidak perlu kamar,” kata Tobias, “kita bisa duduk-duduk di sini semalaman sambil mengobrol.”
Aku menghentikan gerakan jariku pada layar ponsel dan melirik pria di sampingku. “Sepertinya itu ide yang bagus,” ucapku setuju. Lalu memasukkan ponselku ke tas. “Kau benar, kita bisa duduk-duduk di sini, menikmati sunset di Venice Beach.”
“Yup. Kau masih bisa menikmati sunset sekarang sebelum mataharinya benar-benar tenggelam,” ujarnya yang membuatku berpaling ke arah barat.
Ah, ya. Langit yang tadi kulihat begitu merah kini sudah meredup, masih terlihat sedikit terang, dengan awan-awan yang menyebar bagai sobekan kapas, dan sisa semburat jingga di kaki langit. Di bawahnya, hamparan permukaan laut yang berkilau tampak gemerlap, beriak, menghasilkan ombak-ombak kecil yang melemparkan buih-buih ke bibir pantai.
“Ah,” desisku tak sanggup berkata-kata. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku merasa semuanya begitu indah. Bahkan desiran angin dan deburan ombak pun terdengar bagai musik yang melodius.
Di kejauhan, tabuh-tabuhan dari drum circle masih terdengar. Namun seiring dengan berjalannya waktu, suara-suara tersebut mulai mereda, hingga kemudian tidak terdengar sama sekali. Kerumunan orang-orang mulai berkurang, satu per satu mereka menyingkir dari pantai, mungkin kembali ke hotel, atau pulang ke rumah. Namun sampai langit menjadi gelap, aku dan Tobias masih tetap duduk di tempat ini.
Kulihat jam tanganku untuk melihat waktu, ternyata sudah hampir satu jam kami saling berdiam diri. Aku menoleh pada Tobias, bersirobok pandang dengannya yang sudah mengubah posisi duduknya menjadi setengah berbaring dengan bertumpu pada siku lengannya. Sesaat aku menjadi gentar, sorot tajam mata birunya membuat perutku terasa mulas; degup jantungku terasa lebih cepat; dan bibirku terasa kelu. Aku benci perasaan seperti ini, membuatku merasa lemah dan tak berdaya.
Mendengar aku berdeham dia langsung mengalihkan tatapannya dariku, seketika aku menjadi lega, seakan apa yang barusan membelengguku terlepas begitu saja.
“Rupanya kita terlalu asyik memperhatikan hal-hal indah sampai lupa waktu begini,” katanya sambil bangkit, kini dia kembali duduk tegak di sampingku.
Aku tidak menanyakan apa yang ia maksud dengan hal-hal indah, dan hanya mengangguk menyetujui sebagai respon. Aku bersumpah menangkap sorot geli di matanya, entah apa yang ia pikirkan.
“Jadi, kita akan mengobrol saja di sini atau mencari tempat yang nyaman untuk tidur? Mungkin ada yang menyewakan tenda atau apa di toko-toko itu.”
“Oh, tidak usah. Lagi pula aku tidak akan bisa tidur,” gumamku.
“Kenapa? Kau takut padaku,” kekeh Tobias.
Aku mengarahkan bola mata ke atas. “Insomnia. Kau tidak pernah dengar?”
“Tentu saja aku tahu apa itu insomnia.”
“Nah itu,” sahutku pendek.
“Tapi kenapa kau bisa terkena insomnia?”
Aku beringsut, mengubah posisi dudukku jadi menghadap Tobias. “Dengar,” kataku, “insomnia bukan penyakit, itu hanya kebiasaan yang susah dihilangkan.”
“Aku tidak sependapat.”
“Kenapa tidak?”
“Karena insomnia itu gangguan tidur, tidak normal, dan itu bisa disebut dengan ‘penyakit’. Kau butuh psikiater!”
Sekali lagi aku mengarahkan bola mataku ke atas. “Aku tidak butuh psikiater, aku tidak merasa terganggu, aku menyukai terjaga di malam hari.”
“Dasar Baykus! Mungkin kau butuh pelukan menjelang tidur,” ledek Tobias kembali terkekeh.
Aku meninju bahunya, tawanya malah semakin keras. “Apa itu Baykus?” tanyaku.
Tobias tidak menjawab, dia malah berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. “Ayo berenang jika kau tidak ingin tidur. Berikan ranselmu! Aku simpan di mobil dulu.”
“Aku tidak ingin berenang,” sahutku enggan. Tapi Tobias tidak mau tahu, dia tetap meminta ranselku.
“Lepaskan juga sepatumu.”
Aku menyerahkan semua benda yang ia minta, membiarkan pria itu lari ke tempat ia memarkir mobilnya. Dia kembali tidak lama kemudian, langsung menarikku hingga aku berdiri, dan menggandengku menuju pantai. Kaki telanjang kami tersaruk di pepasiran, meninggalkan dua pasang jejak yang berurutan. Meski sudah larut, udara masih cukup hangat. Beberapa manusia masih terlihat di sepanjang pantai.
“Aku tidak ingin berenang.” Aku mengulang ucapanku.
“Kenapa? Apa kau takut air?”
“Tentu saja tidak,” sungutku, “aku tidak membawa baju ganti.”
“Kau tidak butuh baju ganti.”
Aku mendengus, mengerti apa maksudnya. “Kau pikir aku mau berenang telanjang, sementara mereka bisa bebas melihatku?” gumamku memandang ke arah sekelompok manusia yang tengah bersenang-senang.
“Oh, itu tidak akan terjadi.” Dan Tobias menyeretku agak cepat. Dia membawaku ke sisi pantai yang sepi.
“Aku tetap tidak akan berenang,” kukuhku melihat Tobias mulai melepas kaos dan celana panjangnya, menyisakan bokser pendek yang tampak seksi di tubuhnya.
“Kau akan,” katanya seraya mengangkatku.
Aku hanya bisa berteriak sambil menggerak-gerakkan kaki, namun sepertinya itu tidak berarti apa-apa buat Tobias. Dia dengan mudah membawaku berlari ke arah pantai dan melemparkanku ke dalam air. Aku basah kuyup.
“Tobias!” teriakku kesal seraya mengusap wajah yang terkena air laut.
Pria yang baru saja membuatku basah hanya tertawa, melompat ke arahku hingga aku kembali jatuh ke air. Takut terbawa ombak, aku merangkul lehernya kuat-kuat.
“Kau gila,” desisku marah. Tapi kemudian terdiam ketika menyadari wajah Tobias berada sangat dekat. Ia menatapku tajam.
Ah, lagi-lagi mata itu membuatku terhipnotis. Bahkan ketika bibirnya dengan berani menempel pada bibirku, matanya masih saja membuatku terpesona.
Bibir kami yang basah saling memagut, mencari tahu rasa yang mampu menggetarkan segala pertahanan. Aku menikmati ciumannya, menikmati lidahnya ketika menjilat bibir bawahku, menikmati giginya yang menggigit kecil ujung daguku ... aku sungguh menikmati semua itu. Dan ketika tangannya menggoda payudaraku dari balik kaus yang kukenakan, aku tak mampu menahan keinginan untuk beringsut duduk di pangkuannya, merekatkan tubuh kami.
Aku mendongak saat bibir Tobias menyusuri leherku dan berhenti di puncak dada. Aku mendesah, menyebut nama pria itu. Memohon dia untuk berada di dalamku. Dia menjawab dengan suara seraknya, menyebut namaku dengan putus asa. Aku tidak pernah berharap untuk berhenti.
Kami memang tidak berhenti, Tobias menanggalkan kausku, mencampakkannya entah ke mana. Aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan tubuh telanjangnya.
Demi Tuhan aku menginginkannya. Dan aku sama sekali tidak malu ketika rintihan memohon lolos dari bibirku.
“Kau menginginkanku, Em?” bisiknya sambil menggigit kecil cuping telingaku.
“Yaaa...” desahku.
“Kau ingin aku memasukimu?” bisiknya lagi.
“Ya, Tobias ... yaa....”
Tapi Tobias tidak segera memenuhi permintaanku, dia masih melanjutkan cumbuannya. Bibirnya turun ke leher dan bahuku, meninggalkan gigitan di sana. Aku melengkungkan tubuh ketika tangan besar lelaki itu meremas lembut payudaraku. Kuangkat dadaku, berharap Tobias melakukan lebih di sana. Dia mengerti. Perlahan bibirnya menuju puncak payudaraku, memulai dengan jilatan kecil yang mampu menghadirkan ribuan getaran dalam diriku. Dia memainkan lidahnya di sana dan aku mengerang, meremas bahunya, tak peduli ketika kukuku yang runcing menancap di sana. Dia membalasnya dengan isapan lembut, dan aku pun menggila. Tanpa sadar panggulku bergerak maju, meminta lebih.
“Em....”
Sumpah aku mendengar getaran dalam suaranya yang berat, seolah apa yang sudah kulakukan membuatnya tak berdaya. Tangannya gemetar ketika turun melewati perutku, menuju kancing celana denim pendek yang kukenakan. Tobias membukanya dengan hati-hati.
Aku mengerang merasakan gesekan tangannya yang menyelinap ke dalam celana, menyentuh milikku.
“Jangan lakukan ini, Tobias ... kau membuatku lemah,” bisikku tersengal, menahan perasaan agar jantungku tidak meledak. Tapi jarinya tidak berhenti bermain di dalam sana.
Gerakan panggulku meliar, aku menginginkan lebih, demi Tuhan aku menginginkan lebih!
Kudorong pria di depanku hingga telentang, bunyi kecipak air terdengar saat punggung Tobias menyentuh pasir. Dengan tidak sabar, aku melepas celanaku dan menaikinya. Menyatukan miliknya dengan milikku, dan ... tersentak saat kami benar-benar telah menyatu.
Ini bukan yang pertama bagiku, tapi rasanya berbeda ... entah kenapa.
Kami sama-sama terdiam beberapa saat, hanya saling menatap, sama-sama terkejut. Lalu bagian bawahku mendesak, menuntut rasa yang lebih lagi. Dan begitu saja, kugerakkan panggul sambil meraba dada pria di bawahku. Tobias mengumpat kasar.
Seolah ingin mengganti kehilangan waktu akibat rasa terkejut tadi, dia mencengkeram panggulku kuat, mengangkatku dan menjatuhkannya lagi hingga kami menyatu semakin dalam. Gairahku memuncak. Kusebut namanya dengan teriakan. Dia memanggilku penuh pemujaan.
Kami menyatu dalam basah, air laut berkali-kali mengempas menerpa tubuh kami, bercampur keringat yang dihasilkan percintaan panas kami. Aku terhanyut ... melayang tanpa batas. Erangan dan rintihan yang lolos dari bibir kami menyatu dengan suara debur ombak dan angin laut. Gerakan liar di awal percintaan kini melembut, seolah kami ingin memperpanjang kesempatan untuk merasakan rasa membuai ini, seolah kami tidak ingin benar-benar kehilangan waktu walau sedetik pun. Kami menuju akhir dengan hati-hati. Sentuhannya ... kecupannya ... suaranya ketika menyebut namaku, aku tahu aku takkan melupakannya begitu saja. Ini berbeda dengan yang sudah-sudah....
Yang kuingat kemudian, Tobias mengangkatku menjauh dari pantai. Kemudian dia membaringkanku di atas pasir, menyelimuti tubuh telanjangku dengan dirinya, dan aku kembali terbanting dalam rasa. Terpagut bersama segala kenikmatan.
*****
“Emily....”
Bisikan lembut di telingaku membuatku menggeliat, mendesah dan membalikkan badan menolak bangun. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan posisi tidurku.
“Bangun, Emily....” Kali ini suara itu terdengar memaksa. “Gelap sudah melarikan diri, kau tidak ingin terlihat telanjang di depan orang-orang, bukan?”
Seketika aku membuka mata, dan mengetahui penyebab perasaan aneh yang baru saja kurasakan, aku tidur dengan posisi terduduk di dalam mobil Tobias. Hal kedua yang aku sadari adalah tubuh telanjangku. Sontak aku memekik, mencari-cari sesuatu yang bisa kugunakan untuk menutupi tubuhku, tapi sialnya aku tidak menemukan apa pun.
“Di mana bajuku?” teriakku panik.
“Aku lupa membawanya semalam, dan...”—dia mengangkat bahu—”saat kembali, aku sudah tidak menemukannya. Mungkin sudah terbawa ombak.”
Aku menekuk tubuhku, sebisa mungkin menutupi bagian dada dengan kedua tangan. Sorot mataku tajam menatap sebal pada pria di sampingku, dia juga tidak mengenakan kaosnya, tapi masih memakai celana panjangnya.
“Aku beruntung celana panjangku masih berada di tepian pantai, tapi aku juga tidak menemukan kaosku,” jelasnya.
“Sekarang bagaimana?” ucapku kesal. “Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan telanjang seperti ini.”
Rasa panas menjalar di sekujur tubuhku karena malu, menyadari di luar mulai terang dan mungkin tempat parkir akan dipenuhi orang-orang. Jendela mobil Tobias tidak berkaca gelap, ada kemungkinan mereka bisa melihatku dalam keadaan telanjang di dalam sini, meski aku sudah meringkuk dan menunduk sampai hampir rata dengan kursi. Dan yang paling menyebalkan adalah melihat sorot geli di mata Tobias, bahkan aku bersumpah bibir pria itu berkedut, dia pasti berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Dia menghindari mataku yang melotot kepadanya.
“Sekarang pasti sudah ada toko yang buka, akan kubelikan kau baju dulu sebentar,” katanya buru-buru keluar dari mobil. Dan tidak lama kemudian aku mendengar tawanya meledak, keras sekali.
Bersambung
- Akhir Chapter -