Malam pun tiba. Jarum jam dinding ruang makan utama telah menunjuk ke angka sembilan malam.
Zora telah berganti pakaian, mengenakan gaun sutra hitam minimalis yang elegan. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan leher jenjangnya yang putih. Di atas meja marmer panjang, dua porsi steak Wagyu dengan siraman saus rosemary dan penataan yang setingkat restoran bintang tiga Michelin telah tersaji dengan anggun. Dua lilin aromaterapi menyala di tengah meja, memancarkan pendar hangat yang meliuk-liuk.
Namun, kursi di kepala meja tetap kosong.
Ia menatap lilin yang mulai meleleh, menghitung setiap detak jarum jam yang terasa seperti dentang lonceng kematian di dalam ruangan yang terlampau luas itu. Alby belum pulang, dan tidak ada satu pun pesan teks yang masuk ke ponselnya.
Bzzzt.
Ponsel Zora yang tergeletak di atas meja marmer mendadak bergetar halus.
Zora meraihnya dengan cepat, ada secercah harapan kecil yang refleks muncul di dadanya. Namun, layar ponsel tidak menampilkan nama Alby. Sebuah notifikasi pop-up muncul dari aplikasi I*******m, memperlihatkan sebuah unggahan baru dari akun resmi Vanderbilt & Co., mitra bisnis internasional terbesar milik Laurent Group.
Jemari Zora bergerak pelan, mengetuk layar dan membuka postingan foto tersebut.
Di bawah pendar lampu gantung kristal yang mewah dan hangat, Alby tampak duduk di sebuah meja bundar yang intim di dalam restoran L'Ambroisie. Pria itu mengenakan setelan tuksedo yang rapi, tampak luar biasa berwibawa. Dan tepat di sisi kanannya, Selena duduk dengan gaun malam berkilau, tertawa cerah dengan segelas sampanye yang terangkat di udara. Mereka berdua dikelilingi oleh para taipan dan investor asing, tampak begitu hidup, serasi, dan mendominasi ruangan.
Di bawah foto itu, sebuah caption tertulis tegas: "Malam yang luar biasa bersama tim inti Laurent Group di Paris. Merayakan kesuksesan ekspansi kuartal ini."
Zora menatap foto itu tanpa berkedip. L'Ambroisie. Restoran bintang tiga Michelin yang sama yang selalu ia minta untuk mereka kunjungi, restoran yang Alby sebut sebagai 'tempat pembuang waktu yang tidak efisien'.
Ternyata, tempat itu tidak membuang waktu Alby. Tempat itu hanya membuang waktunya jika pergi bersama Zora. Tetapi jika bersama Selena dan urusan bisnis, dua jam di sana adalah sebuah investasi yang berharga.
Zora perlahan menurunkan ponselnya, meletakkannya kembali di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Ia tidak menangis. Tidak ada setitik pun air mata yang jatuh menodai pipinya yang pucat. Tiga tahun telah mendidik Zora dengan sangat baik, bahwa di dalam rumah ini, ia harus mematikan seluruh air matanya jika tidak ingin hancur menjadi serpihan tak berarti.
Diwaktu yang sama, Alby pulang.
"Desain Etoile Collection ini sampah! Berapa persen kerugian kita jika draf ini dipaksa rilis?"
Suara Alby terdengar frustrasi, memecah keheningan lorong utama Laurent Manor.
Zora yang masih duduk membatu di balik meja makan, perlahan menatap suaminya yang baru saja melintasi pintu depan dengan wajah lelah yang mengeras. Langkah kaki Alby terdengar berat, mengabaikan salam hormat dari Martha di lobi.
Alby menghentikan langkahnya di dekat pilar, mendengarkan jawaban dari seberang telepon dengan rahang yang mengatup rapat hingga urat di lehernya menegang.
"Empat puluh persen? Sialan. Batalkan rilis draf itu sekarang," desis Alby tajam. "Hubungi perantara Aura di Jenewa, minta dia kirim sketsa pelengkap malam ini juga. Bayar dua kali lipat jika mereka menolak!"
Alby mematikan sambungan teleponnya dengan sentakan kasar, lalu melempar mantel wol hitamnya ke kursi terdekat.
Zora masih memperhatikan, sebelum akhirnya berdiri dari kursinya. Tanpa berniat menyapa suaminya, tangannya terulur menuju piring porselen berisi steak Wagyu dingin yang telah ia siapkan dengan susah payah siang tadi.
"Nyonya Zora, biar saya yangβ¦" Martha mencoba mendekat dengan cemas dari sudut dapur terbuka.
"Tidak perlu, Martha. Ini sudah dingin," potong Zora dengan nada suara yang tenang namun tegas.
Plop.
Daging mewah itu meluncur ke dalam tempat sampah tanpa ragu. Zora melakukannya dengan gerakan yang begitu anggun, seolah membuang hidangan mahal senilai ratusan Euro adalah hal yang biasa.
Alby melirik gerakan Zora dengan kening berkerut. "Kau membuangnya?"
"Makanan dingin tidak baik untuk lambungmu," jawab Zora, menyeka ujung jemarinya yang pucat dengan tisu tanpa memandang suaminya.
Alby tidak menyahut. Ia berjalan menuju kulkas, mengambil botol air mineral dan meneguknya kasar hingga sisa air dingin mengalir di rahangnya yang mengeras.
Zora meletakkan tisu bekasnya, lalu melangkah meninggalkan ruang makan tanpa sepatah kata pun. Ia melewati lorong panjang Laurent Manor menuju sayap kiri lantai bawah.
Alby hanya menatap punggung Zora hingga wanita itu menghilang di balik pintu ruangan di ujung koridor. Bagi Alby, ruangan itu hanyalah tempat biasa di mana Zora sering menghabiskan waktu untuk menyendiri dari keheningan rumah.
Klik.
Pintu tertutup rapat. Zora mengunci pintu dari dalam, lalu melangkah mendekati meja kerja kayu gelapnya. Ia membuka laptop tipis yang terletak di sudut meja.
Sebuah notifikasi email langsung masuk sesaat setelah layar menyala. Email itu dikirim melalui server terenkripsi dari Varon & Co. di Jenewa, perantara anonim yang menghubungkannya dengan Laurent Group.
"Permintaan Darurat: Revisi Sketsa Etoile Collection. Laurent Group bersedia membayar komisi ganda."
Zora menatap draf kasar dari tim kreatif Laurent Group yang terlampir di sana. Matanya memindai garis-garis kaku yang tidak memiliki jiwa, desain yang beberapa menit lalu membuat Alby mengamuk di lorong depan.
"Sampah," bisik Zora lirih, meniru kata-kata suaminya dengan senyum getir yang dingin.
Ia mengambil pena digitalnya. Jemarinya yang pucat mulai bergerak lincah di atas permukaan layar sentuh, merombak total proporsi mahkota dan kalung Etoile.
Dengan sapuan garis yang sangat presisi, Zora mengubah potongan berlian kaku tersebut menjadi lengkungan halus berbentuk tetesan air yang meluncur lambat, estetika melankolis yang luar biasa mewah yang selama ini menjadi ciri khas dari desainer misterius bernama "Aura".
Dua jam berlalu dalam kesunyian studio yang rapat. Di bawah jemari Zora, desain yang semula tak berjiwa kini bertransformasi menjadi mahakarya yang siap menyelamatkan pameran eksklusif Laurent Group di London.
Zora menekan tombol kirim. Surel terenkripsi itu meluncur detik itu juga menuju agensinya di Swiss untuk kemudian diteruskan ke divisi kreatif suaminya di Paris.
Saat Zora bersiap merapikan mejanya dan hendak berdiri, sebuah hantaman rasa nyeri yang sangat tiba-tiba menyerang dadanya. Pandangannya mengabur seketika, berputar-putar bagai badai.
Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat dalam hitungan detik. Napas Zora tercekat di tenggorokan, menciptakan denyut menyakitkan di dada kirinya.
Dengan tangan gemetar hebat, ia membuka laci meja kerjanya dengan tergesa-gesa. Zora meraih botol kecil berisi obat pereda rasa sakit dari dalam laci.
- Akhir Chapter -