Tanpa mencari gelas air, Zora memasukkan pil putih itu ke dalam mulutnya, lalu menelannya bulat-bulat. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan rasa pahit obat yang menusuk itu menyebar di lidahnya dan menelannya dalam diam yang menyiksa.
Setelah beberapa menit menunggu ritme jantungnya kembali stabil, Zora berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ia berjalan lambat menaiki tangga menuju kamar tidur utama di lantai atas, dengan dada yang terasa masih sedikit berdenyut.
Pintu kamar terbuka pelan. Suasana di dalam kamar begitu sunyi.
Alby masih berada di balkon kamar yang dibatasi pintu kaca besar. Pria itu berdiri membelakanginya, merokok dalam diam sembari menatap tajam ke arah layar ponsel di tangannya. Masalah peluncuran koleksi Etoile malam ini jelas-jelas telah merenggut waktu tidurnya.
Zora tidak berniat memanggilnya. Ia berjalan menuju lemari, mengganti gaunnya dengan pakaian tidur berbahan sutra yang longgar.
Selesai bersiap, Zora langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di sisi ranjangnya sendiri. Ia menarik selimut, memejamkan mata, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam tidur yang lelap, mengabaikan siluet suaminya yang masih berdiri gelisah di bawah pendar lampu balkon yang dingin.
**
Keesokan harinya...
Matahari musim dingin yang pucat menerobos masuk melalui jendela kaca lobi utama Laurent Manor, memantul di atas lantai marmer yang dingin.
Alby berdiri tegak di dekat pilar besar, melirik arloji di pergelangan tangannya dengan kening berkerut dalam. Setelan jas abu-abu gelap rancangan desainer ternama membungkus sempurna tubuh tegapnya, memancarkan aura otoritas yang dominan.
Suara ketukan halus sepatu tumit tinggi dari arah tangga melingkar memecah keheningan rumah.
Zora turun dengan langkah perlahan namun sangat anggun. Gaun formal hitam midi yang membungkus tubuh ringkihnya terlihat sedikit longgar di bagian pinggang, namun potongan klasiknya membuat wanita itu tetap tampak sangat berkelas. Rambut hitamnya disanggul rapi, menyisakan leher jenjangnya yang putih tanpa perhiasan apa pun.
"Kau terlambat dua menit," cetus Alby dingin saat Zora menapakkan kaki di lantai dasar.
"Supir masih memiliki waktu sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan kita," sahut Zora tenang, merapikan letak mantel wol abu-abu yang tersampir di lengannya.
Alby melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zora dengan tatapan menilai yang tajam. Ia berhenti tepat di depan istrinya, menatap anting mutiara kecil yang terpasang di telinga Zora.
"Aku memintamu memakai perhiasan dari koleksi musim lalu," kritik Alby, suaranya terdengar tidak puas. "Anting polos itu terlalu sederhana untuk sesi foto media nasional."
"Ini koleksi musim lalu, Alby. Rancangan Aura yang kau rilis musim dingin kemarin," jawab Zora, menatap suaminya lurus-lurus tanpa ada sedikit pun binar hangat di matanya. "Hanya saja, kau mungkin tidak pernah benar-benar memperhatikannya."
Alby terdiam sejenak. Rahangnya mengatup rapat, merasa sedikit terusik oleh nada bicara Zora yang begitu tenang dan asing. Namun, ego dan efisiensinya segera mengambil alih.
"Masuk ke mobil. Supir sudah menunggu," perintah Alby kaku, berbalik dan melangkah lebih dulu menuju pintu depan yang dibukakan oleh Martha.
Zora mengikuti dari belakang dengan jarak beberapa langkah yang konstan, jarak aman yang selama tiga tahun ini memisahkan dunia mereka.
Perjalanan dari Laurent Manor menuju pusat bisnis di La Défense berlangsung dalam kesunyian yang mencekam di dalam limusin mewah yang melaju membelah jalanan Paris yang basah.
Alby sibuk dengan tablet kerjanya, memeriksa draf kontrak pameran galeri London yang baru saja dikirim oleh tim legal. Jemarinya bergerak lincah, mengabaikan kehadiran Zora yang duduk diam menatap keluar jendela kaca yang berembun.
"Kurator galeri nasional sangat cerewet mengenai citra keluarga," ujar Alby tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Berikan senyum terbaikmu selama sesi foto. Aku tidak ingin ada spekulasi konyol dari pers mengenai hubungan domestik kita."
"Tiga puluh menit, bukan?" tanya Zora, menoleh perlahan.
"Ya. Tiga puluh menit yang sangat menentukan untuk kestabilan saham musim ini," sahut Alby dingin.
"Aku akan memberikan apa yang kau butuhkan, Alby," jawab Zora tipis, sebelum kembali memalingkan wajahnya ke arah jalanan kelabu di luar.
Pintu lift berdenting terbuka di lantai lima puluh kantor pusat Laurent Group, langsung menyuguhkan riuh rendah kru media, fotografer, dan beberapa perwakilan kurator seni yang sedang menata area pemotretan.
"Tuan Laurent, Nyonya, selamat datang. Mohon berdiri sedikit lebih rapat di dekat panel pajangan berlian ini," instruksi kepala fotografer dengan sangat sopan begitu mereka memasuki ruangan.
Alby melangkah mendekat. Sebelah tangannya mendarat di pinggang Zora, menarik tubuh istrinya agar merapat pada tubuh tegapnya.
Sentuhan fisik itu terasa tegas dan kuat, namun Zora tahu itu murni gerakan mekanis tanpa emosi yang dirancang khusus demi lensa kamera.
"Tersenyumlah sedikit," bisik Alby dengan bibir yang nyaris tidak bergerak di dekat telinga Zora. "Kau terlihat seperti sedang menghadiri pemakaman."
"Aku sedang memberikan senyum terbaikku," balas Zora dengan nada yang sangat pelan, mempertahankan kurva senyum formalnya di depan kamera.
Blitz kamera mulai menyala bergantian, menangkap setiap sudut wajah tajam Alby dan senyum tenang Zora yang terpoles sempurna. Di depan lensa, mereka adalah potret pasangan harmonis yang memimpin imperium perhiasan mewah. Di belakang lensa, mereka adalah dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang demi sebuah kepatuhan hukum.
Tepat di menit kedua puluh sesi foto berjalan, pintu ganda ruang eksekutif terbuka lebar.
"Kak Alby! Kabar baik dari galeri London!" seru Selena, melangkah masuk dengan map kulit tebal di tangannya tanpa memedulikan sesi foto yang sedang berlangsung.
Seketika, Alby menarik tangannya dari pinggang Zora. Pria itu berbalik arah, melangkah lebar menyambut Selena dan melupakan kamera di hadapannya dalam sekejap mata.
"Mereka setuju dengan proposal kita?" tanya Alby dengan binar ketertarikan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Tentu saja," Selena tersenyum lebar, memamerkan aura profesionalnya yang cerah dalam balutan blazer merah marun yang tajam. "Tetapi ada syarat mutlak dari pihak kurator mereka."
Para fotografer terpaksa menurunkan kamera mereka dengan canggung, menyadari bahwa fokus sang CEO telah terbelah sepenuhnya demi urusan bisnis.
"Katakan," desak Alby, berdiri sangat dekat di samping Selena.
"Mereka meminta Aura mengeluarkan tiga sketsa baru untuk melengkapi koleksi ‘L’évanouissement’ sebelum musim semi," jelas Selena, membuka dokumen di atas meja kaca. "Mereka tahu koleksi Aura adalah pilar utama kekuatan saham kita saat ini."
Zora berdiri diam di posisinya, menatap dokumen yang kini menjadi pusat perhatian suaminya dan adiknya sendiri dari jarak beberapa langkah.
"Bagaimana dengan agensi hukum di Jenewa?" tanya Alby, keningnya berkerut dalam. "Mereka masih bersikeras menyembunyikan identitas asli Aura?"
"Mereka mempertahankan privasi Aura dengan sangat ketat," Selena menghela napas, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat akrab di depan Alby. "Mereka meminta komisi tambahan sebesar dua ratus ribu franc Swiss untuk memediasi komunikasi darurat ini."
Alby terdiam sejenak, mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kaca. "Dua ratus ribu franc hanya untuk mengirimkan pesan pada satu desainer?"
- Akhir Chapter -