Nyonya Ratna tertegun sejenak, lalu menoleh ke arahnya. "Bukan ini yang kamu katakan sewaktu membuat kesepakatan denganku. Kenapa? Kamu menyesal?"
Iya, dia menyesal.
Clara menundukkan pandangannya dan berusaha menahan kepahitan di matanya. "Maaf, aku sudah mengecewakan Nenek."
Nyonya Ratna memejamkan mata dan menghela napas. "Ya sudah. Kalau kamu mau cerai, ya cerai saja. Aku sudah kasih kamu kesempatan. Karena kamu nggak bisa bikin Jason jatuh cinta padamu, Keluarga Horman nggak berutang padamu lagi."
Hati Clara mendadak terasa pilu, lalu dia tertawa serak. "Terima kasih."
…
Sekembalinya di Vila Harmoni.
Di saat itu juga, Clara bertemu Jason, Sindy beserta anaknya di lantai bawah.
Keduanya kembali dengan mobil Jason.
Clara tertegun sejenak.
Sindy menatapnya dengan heran. "Dokter Clara? Kamu juga tinggal di Vila Harmoni?"
Dia refleks menatap Jason.
Jason bahkan tidak menunjukkan sikap apa pun.
Makin tenang pria itu, makin sakit pula hati Clara.
Vila Harmoni adalah kompleks perumahan mewah di pusat Kota Bovia. Ini juga merupakan salah satu aset Keluarga Horman. Rumah ini adalah kompensasi yang dijanjikan Jason padanya.
Lantaran dekat dengan rumah sakit, Clara pun menerimanya.
Namun, dia tidak menyangka Jason juga akan mengatur Sindy dan anaknya tinggal di sini.
Dia benar-benar tidak sabar lagi…
"Kebetulan sekali."
Clara menahan emosinya dan bersiap pergi. Sindy tiba-tiba berkata, "Dokter Clara, kudengar kamu sudah nikah. Kok nggak pernah lihat suamimu?"
Langkah Clara tiba-tiba membeku.
Suami?
Dia melirik Jason.
Tatapan Jason dipenuhi kesuraman.
Clara mendengus dalam hatinya. Apa Jason begitu takut Sindy tahu hubungan mereka?
Clara berkata dengan nada datar, "Aku nggak punya suami."
Tatapan mata Jason yang tadinya suram pun berubah lebih tenang.
"Nggak punya suami? Tapi bukannya Dokter Clara sudah menikah?" Sindy masih tersenyum.
Menikah…
Di resume rumah sakit, dia mencantumkan statusnya sebagai menikah.
Namun, tidak ada seorang pun yang pernah melihat suaminya.
Clara tersenyum. "Aku cuma iseng-iseng saja. Aku nggak punya suami."
Tidak punya suami?
Jason menyipitkan matanya.
Lantaran sudah mengundurkan diri dan memutuskan untuk pergi, Clara tidak tertarik mengungkapkan dirinya sudah menikah atau tidak.
Tidak repot-repot menggubris orang-orang di belakangnya, Clara pun berjalan memasuki gedung perumahan tanpa menoleh ke belakang.
...
Malam harinya.
Clara menyimpan semua barang-barang miliknya dan mengemas dua koper besar di ruang ganti.
Matanya tertuju pada bingkai foto pernikahan mereka. Di dalam foto itu, Clara mengenakan gaun pengantin dan menggamit lengan Jason dengan senyum menawan. Sangat kontras dengan Jason yang berwajah dingin.
Saat itu, Clara mengira Jason tidak suka tersenyum.
Walau hanya ada satu foto bersama, Clara sangat menghargainya.
Namun jika dilihat sekarang, semuanya penuh dengan ironi.
Jason bukan tidak suka tersenyum.
Clara hanya tidak pantas mendapatkan senyumannya.
Dia mengambil bingkai foto itu dan melihat untuk terakhir kalinya. Kemudian, memasukkannya ke dalam kotak kardus dan menyimpannya di ruang ganti bersama dengan barang-barangnya yang ditinggalkannya.
Saat keluar dari kamar tidur, dia mendengar suara gaduh dari ruang tamu.
Dia tahu Jason telah kembali.
Clara berjalan ke ruang tamu. Dia melihat Jason menggantung jasnya di gantungan pintu masuk dan mengganti sepatunya.
Clara menarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekatinya. "Kamu nggak berencana menjelaskan masalah hari ini?"
Masalah Jason mengatur agar Sindy dan anaknya tinggal di Vila Harmoni.
Jason melepas dasinya. Tatapannya dingin. "Apa yang mau aku jelaskan?"
"Vila Harmoni dekat dengan rumah sakit. Kamu saja tinggal di sini, kenapa mereka nggak boleh?"
Jason menggantungkan dasinya di sikunya dan menatapnya. "Clara, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jangan terlalu picik."
Kata-kata itu sungguh membuat hati Clara pedih.
Apa dia picik?
Ya, di mata Jason, Clara telah mendapatkan posisi Nyonya Horman. Sekarang dia masih ingin bersaing dengan Sindy dan anaknya. Bukankah itu namanya picik?
Jason bersiap masuk ke kamarnya, tetapi Clara menghentikannya dan berkata, "Ayo kita bicara."
Jason berhenti dan berbalik dengan tidak sabar. Dia menatap Clara dengan tatapan acuh tak acuh. "Ada apa lagi?"
"Kita cerai saja."
Clara perlahan melepas cincin nikahnya dan memegang di tangannya. "Aku kasih kamu kebebasan."
- Akhir Chapter -