Jason sepertinya tidak menyangka Clara akan meminta cerai. Raut wajahnya makin muram. "Aku nggak akan setuju untuk bercerai."
Clara tercengang.
Dia tidak mau cerai. Jangan-jangan…
Pria itu terus melanjutkan, "Nenek juga nggak akan setuju."
Kemudian, terdengar suara pintu ditutup.
Clara terpaku selama beberapa saat. Hatinya seakan tersumbat sesuatu. Dia merasa pemikiran yang sempat muncul di benaknya barusan agak menggelikan.
Mana mungkin Jason tidak mau bercerai karena dia?
Dia cuma takut Nenek Ratna tidak setuju saja.
Sayangnya, dia tidak tahu kalau Nenek Ratna telah menyetujuinya.
Keduanya mengakhiri malam itu dengan tidak gembira dan tidur di kamar terpisah. Keesokan paginya, setelah pengasuh datang bekerja, Jason sudah menghilang.
Clara sarapan sendirian seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah membersihkan kamar, pengasuh pun keluar dan bertanya, "Nyonya, kok banyak barang di rumah yang menghilang?"
Clara tertegun sejenak.
Bahkan, pengasuh pun menyadari barang di rumah banyak yang menghilang.
Jason justru tidak menyadarinya.
Peduli atau tidak, semuanya terlihat jelas.
Dia memaksakan senyum dan berkata, "Barang-barang itu sudah usang, jadi sudah kubuang. Semuanya barang-barang nggak penting."
Pengasuh juga tidak bertanya lagi.
Siang harinya, Clara mendapat telepon dari kepala rumah sakit yang mengabarkan ada operasi besar yang harus dilakukan. Apalagi, kondisi pasien sangat kritis. Dokter kraniotomi sedang dinas dan hanya Clara yang bisa melakukannya.
Clara bergegas ke rumah sakit. Setelah berganti pakaian operasi, dia langsung masuk ke ruang gawat darurat. Semua dokter yang bertugas ada di sana, termasuk Sindy.
Seluruh ruang gawat darurat dipenuhi bau darah yang kuat.
Berbeda dengan dokter lain yang maju untuk memeriksa luka pasien, Sindy bahkan tidak berani mendekati pasien dan terus menahan mual dan muntah-muntah.
"Dokter Clara, kamu sudah datang." Dokter anestesi berjalan mendekatinya. "Pasien jatuh dari lokasi konstruksi dan baru saja dibawa ke rumah sakit. Pasien sekarang nggak sadarkan diri."
Saat melihat kondisi pasien yang kritis, Clara juga terkesiap.
Batang baja sepanjang 20 sentimeter menembus kepala dan mata pasien. Meski pasien kini tidak sadarkan diri, tanda-tanda vitalnya masih ada. Ini sungguh keajaiban!
Sindy menahan rasa mualnya dan berkata, "Dokter Clara, kamu sungguh bisa melakukan operasi ini? Kalau nggak berhati-hati, pasien bisa meninggal."
"Kalau aku nggak bisa, kamu bisa?"
Perkataan Clara membuat raut wajah Sindy berubah jelek.
Clara mengenakan sarung tangan dan memberi instruksi pada dokter lainnya. "Pertama, lakukan kraniotomi untuk mendekompresi otak dan mengeluarkan gumpalan darah."
Dokter anestesi dan dokter lainnya sudah siap.
Sindy menggigit bibirnya dan bertanya, "Bagaimana kalau aku ikut bantu?"
"Yang nggak berkepentingan, tolong keluar dulu." Melihat penampilannya barusan, Clara tahu bahwa tidak ada gunanya mempertahankan Sindy di sana.
"Tapi…"
"Bu Sindy, kondisi pasien kritis. Sebaiknya kamu keluar dulu dan tenangkan keluarga pasien."
Tidak ada satu pun dokter bedah di rumah sakit pusat yang berani melakukan operasi ini, karena kesalahan sekecil apa pun bisa menghancurkan seluruh karier mereka.
Apalagi, semua orang juga telah melihat bagaimana sikap Sindy sejak dia datang.
Kalau saja bukan karena latar belakangnya, mereka pasti sudah memarahinya.
Sindy mengepalkan tangannya dan terpaksa meninggalkan ruang operasi.
…
Setelah memastikan tidak ada kerusakan pada batang otak dan tidak ada cedera pembuluh darah otak yang jelas, Clara beserta timnya menghabiskan waktu lima jam untuk melepaskan batang baja dan melakukan operasi rekonstruksi dasar tengkorak.
Operasi berlangsung hingga malam hari. Setelah melihat tanda-tanda vital pasien stabil, semua orang baru menghela napas lega.
Usai operasi, dokter lainnya segera memberi tahu keluarga pasien.
Clara pergi ke kantor kepala rumah sakit.
Pak Martin sangat gembira saat mengetahui operasinya berhasil. "Clara, ini semua berkat kamu."
"Bukan cuma aku saja, tapi kerja sama tim yang baik. Pasien juga cukup beruntung karena batang baja itu menembus otaknya tanpa merusak struktur vital apa pun. Kalau nggak, siapa pun nggak akan bisa menyelamatkannya."
Pak Martin mengangguk dan mencoba membujuknya untuk tetap tinggal. "Kamu sungguh nggak mau mempertimbangkan mutasimu lagi?"
Dia paling jelas dengan kemampuan Clara. Bukan hanya karena dia adalah dokter bedah termuda saja, tetapi dia juga seorang wanita. Ini adalah hal langka di dunia medis.
Kota Joria termasuk kota kecil dan tunjangan rumah sakit tidak sebaik di Kota Bovia. Sayang sekali dia harus meninggalkan fasilitas sebaik itu dan memilih untuk pindah ke Rumah Sakit Joria.
Clara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah putuskan, tapi jangan khawatir. Kalau Pak Martin butuh bantuanku kelak, aku pasti akan datang membantumu pas senggang."
Mendengar itu, Pak Martin tidak lagi memaksanya.
Setelah meninggalkan kantor kepala rumah sakit, dia melihat Jason berjalan mendekatinya dengan langkah besar.
Clara berhenti dan hendak berbicara.
Pria itu berjalan melewatinya dan hanya berkata, "Dokter Clara, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Clara dan Jason berjalan ke balkon. Clara baru saja selesai operasi dan sebenarnya sangat lelah. Wajahnya tampak kelelahan. "Kamu cari aku…"
"Kenapa kamu menargetkan Sindy di ruang operasi tadi?"
- Akhir Chapter -