Tubuh Clara menegang. Dia memandang Jason dengan tidak percaya. "Aku menargetkannya?"
Jadi, Jason datang mencarinya karena masalah Sindy?
"Dia atasanmu. Apa pun yang terjadi, kamu nggak seharusnya mempermalukannya di depan banyak orang." Jason memperlakukannya dengan adil dan tidak ada sedikit pun kasih suami istri di dalamnya.
Clara menahan kepahitan di hatinya dan tiba-tiba tertawa. "Kamu pasti lupa kalau akulah dokter bedah utama. Bukannya aku punya hak ini?"
"Kalau begitu, kamu mungkin juga lupa," kata Jason dengan nada sinis. "Aku juga punya hak untuk mengganti dokter bedah."
Hati Clara serasa dihantam benda tumpul. Dia bergetar hebat.
Sayang sekali.
Dia sudah mengajukan permohonan pindah kerja.
Jason mau menggantinya atau tidak, bukan urusannya lagi.
"Kelak jangan…"
"Kalau Pak Jason mau ganti, silakan saja."
Clara menyelanya.
Senyum Jason membeku. Perlahan, tatapannya makin dalam.
Dulu, Clara hanya memanggilnya Pak Jason atau Tuan Jason saat berada di depan orang lain.
Kalau hanya mereka berdua saja, dia tidak akan menyebutnya seperti itu.
Wanita itu juga tidak akan menjauhkannya.
"Kamu panggil aku apa?"
"Pak Jason." Clara menjawab dengan tenang, "Bukannya kamu ingin aku memanggilmu seperti itu?"
Jason mengerutkan keningnya.
Tepat saat dia mau mengatakan sesuatu, seorang perawat tiba-tiba berlari keluar. "Dokter Clara, keluarga pasien entah kenapa malah bertengkar dengan Bu Sindy!"
Sebelum Clara sempat bereaksi, pria di sampingnya sudah meluncur begitu saja dan hanya memperlihatkan punggungnya.
Melihat betapa gugupnya Jason saat mengetahui Sindy dalam masalah, Clara tidak bisa menahan tawa...
Kapan Jason pernah gugup karena dirinya?
Entah apa alasannya, keluarga pasien mulai berdebat dengan Sindy di luar bangsal.
Saat Clara tiba, dia mendengar teriakan Sindy.
Dia menerobos kerumunan dan melihat Jason tengah melindungi Sindy. Pria itu mencegah keluarga pasien memukul Sindy. Sindy sendiri meringkuk ketakutan di pelukannya. Dia tampak kasihan.
Keluarga pasien jelas ketakutan oleh aura Jason. "Siapa…siapa kamu?"
Jason mendorong anggota keluarga pasien dan berkata, "Kalau ada masalah, kenapa nggak dibicarakan baik-baik? Mengapa harus menggunakan kekerasan?"
"Tanya saja padanya!" Keluarga pasien menunjuk Sindy dan berkata dengan marah, "Putraku baru saja dioperasi dan nyawanya terselamatkan. Sebagai seorang dokter, dia berani mengeluhkan luka putraku saat datang memeriksa. Kalau dia nggak tahan, buat apa dia jadi dokter?"
"Bukan begitu…" Sindy menggelengkan kepalanya dan menatap Jason dengan mata memerah. "Jason, aku salah makan tadi pagi. Perutku nggak nyaman, jadi aku baru mual. Bukan karena kondisi pasien."
Jason bergumam, "Serahkan saja padaku."
Jason memandang keluarga pasien dan berkata, "Dia lagi nggak enak badan, bukan sengaja. Begini saja. Biar aku yang tanggung biaya rawat inap pasien."
Mendengar hal itu, keluarga pasien yang mulanya tidak senang pun mendadak segan untuk mempermasalahkannya lagi. Mereka pun membiarkan masalah itu berlalu.
"Sialnya!" Keluarga pasien pun kembali ke bangsal.
"Maaf, Jason. Aku sudah merepotkamu," kata Sindy dengan nada bersalah. "Sebenarnya, kamu nggak perlu membantuku. Bagaimana kalau kamu terluka?"
Jason tersenyum dan berkata, "Yang penting kamu baik-baik saja."
"Bu Sindy, Pak Jason itu pacarmu, 'kan?"
Sindy menunduk dan tersipu malu. "Bukan. Kalian jangan sembarangan…"
"Masih bilang bukan. Lihat, betapa serasinya kamu dengan Pak Jason!"
Yang lainnya juga ikut bersorak dan menimpali.
Jason memandang ke arah kerumunan.
Tatapan Clara bertemu dengan pria itu. Hatinya terasa seperti dicubit seseorang dan penuh dengan kepahitan.
Betapa serasinya suaminya dengan wanita lain.
Buat apa dia tinggal di sini lagi?
- Akhir Chapter -