Wajah Jason mendadak muram. Tepat di saat dia ingin melepaskan Sindy, wanita itu malah menahannya. "Jason, aku masih nggak enak badan. Bisa nggak temani aku ambil obat?"
Pria itu mengerutkan kening. Dia mengalihkan pandangannya dari sosok Clara yang menghilang dan bergumam pelan.
Jason menemani Sindy ke ruang farmasi untuk mengambil obat. Sindy menoleh. Melihat pria itu tidak fokus, dia pun tersenyum dan mendekatinya. "Jason, Stefan ingin masuk TK swasta, tapi dia masih belum punya KK. Boleh nggak untuk sementara biarkan Stefan masuk ke KK-mu..."
Khawatir Jason akan menolaknya, Sindy pun menambahkan. "Jangan khawatir, hanya sementara saja. Nggak akan ada yang tahu."
Jason menatapnya.
Sindy tidak berani menghindari tatapannya, tetapi diam-diam mengepalkan tangannya. "Jason, kamu…nggak senang?"
"Kurang pantas kalau pakai KK-ku." Jason tetap tenang. "Aku bisa minta ibuku untuk mengakuinya sebagai anak angkat."
Sindy terdiam.
Anak angkat Keluarga Horman…
Bukankah itu berarti satu generasi dengan Jason?
Putranya malah menjadi 'adik angkat' Jason. Jadi, apa kedudukannya sebagai seorang ibu?
Jason menatapnya. Matanya sedikit menggelap. "Nggak mau?"
Sindy tidak berani protes. "Bukan…kamu atur saja."
Jason hanya menggumam pelan dan tidak berbicara lagi.
Sindy mengepalkan tangannya.
Hatinya tidak rela.
Namun, masalah ini tidak boleh terburu-buru.
Asalkan putranya masuk ke dalam Keluarga Horman dan mendapat dukungan dari para tetua Keluarga Horman, apa dia masih khawatir tidak bisa membalikkan keadaan?
…
Jason tidak kembali sepanjang malam.
Dulu, Clara akan membiarkan lampu menyala dan menunggunya, tetapi dia tidak melakukannya lagi sekarang.
Karena Jason pulang atau tidak, sudah tidak penting lagi.
Clara baru saja mau pergi ke rumah sakit. Dia kebetulan bertemu dengan Sindy dan anaknya di lantai bawah.
Dia ingin melewati mereka berdua, tetapi Sindy menghentikannya. "Dokter Clara."
Clara berhenti dan menatapnya. "Ada apa?"
"Dokter Clara, kamu…nggak suka sama aku ya?" Sindy menatapnya.
"Nona Sindy berpikir terlalu banyak."
Bukannya tidak suka, tetapi tidak perlu menyukainya.
Toh, Clara tidak dekat dengannya.
Sindy dan anaknya berjalan mendekatinya. "Baguslah kalau begitu. Oh ya, kamu mau ke rumah sakit, 'kan? Habis antar anak, aku juga mau ke rumah sakit."
"Karena searah, nanti aku minta Jason antar kamu sekalian."
Ekspresi wajah Clara menjadi sedikit tidak terkendali.
Ternyata Jason tidak pulang semalaman karena bersama dengan Sindy.
Mereka masih belum bercerai.
Pria itu sudah tidak sabar naik ke ranjang wanita lain.
Clara pun berkata, "Nggak usah, aku punya mobil sendiri."
Sindy menahannya dan berkata, "Jangan segan. Kita kerja di rumah sakit yang sama. Jason sudah mau datang kok."
Clara diam-diam menahan amarah di hatinya.
Dia bahkan curiga Sindy sengaja melakukannya. Apa dia sudah tahu hubungannya dengan Jason dan sengaja pamer di depannya?
Clara menarik tangannya dengan kuat. "Sudah kubilang, nggak usah."
Sindy tiba-tiba terjatuh.
Melihat ibunya terjatuh karena didorong, Stefan pun mendorong Clara. "Dasar wanita jahat. Berani-beraninya dorong ibuku!"
Ponsel Clara terjatuh ke tanah.
Saking kesalnya, Stefan sampai menginjak ponselnya beberapa kali.
"Apa kamu nggak diajari?" Clara hanya menarik Stefan ke samping. Anak itu langsung duduk di tanah sambil menangis sekeras-kerasnya.
Melihat hal itu, Jason memarkir mobilnya di pinggir jalan dan keluar. Dia berjalan dengan kaki jenjangnya. "Clara!"
Karena tergesa-gesa, dia bahkan tidak khawatir Sindy mengetahui hubungan mereka dengan memanggil nama Clara langsung.
"Ayah, wanita jahat ini mendorongku!"
Stefan menangis tersedu-sedu, seolah baru saja dirugikan.
Sindy berbalik dan memeriksa luka di tubuh Stefan. Wajahnya tampak tidak senang. "Dokter Clara, kalau ada masalah, silakan serang aku saja. Tapi jangan main tangan sama anak!"
Clara menarik napas dalam-dalam dan menggertakkan giginya. "Mengapa Nona Sindy nggak bilang anakmu dengan sengaja menginjak ponselku?"
Sindy menghindari tatapannya. "Stefan…juga nggak sengaja!"
"Kalau hanya diinjak sekali, mungkin dia nggak sengaja, tapi dia sudah menginjaknya beberapa kali. Itu berarti dia sengaja!"
"Clara."
Ada sedikit kemarahan di mata Jason.
- Akhir Chapter -