'Pembawa sial'
Kata itu memang sering Lili dengar dari mulut mama mertuanya. Sudah menjadi semacam label yang menempel di dirinya sejak awal pernikahannya dengan Zian.
Lili tidak pernah membalas, hanya diam dan mencoba memahami. Ia percaya, Zian mencintainya dan akan selalu membelanya, seperti yang selama ini suaminya itu lakukan.
Tapi hari ini, semua keyakinannya seperti runtuh dalam sekejap.
Zian, yang selama ini menjadi pelindungnya, justru mengatakan hal yang sama seperti yang mama mertuanya katakan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut suaminya, tanpa beban, tanpa rasa bersalah.
Lili tahu Zian sedang frustrasi dan membuat emosinya labil. Tapi Lili tidak pernah menyangka, di tengah semua itu, Zian justru akan melampiaskan kemarahan padanya, dengan kata-kata sekejam itu.
Lili beranjak dari sofa ketika melihat Zian kembali keluar dari kamar, dan sepertinya akan pergi.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Lili menghampiri sang suami.
"Dugem!" sahut Zian asal. "Sudah tahu kondisi kita sedang susah, masih tanya mau ke mana, tentu saja mau cari pinjaman. Emang kamu mau bantu aku hah? Kamu aja bisanya cuma bawa sial!" seru Zian.
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Lili, tidak menyangka sang suami akan mengatakan lagi kata tersebut.
"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Zian menatap tajam pada sang istri. "Kamu saja tidak bisa membantu aku," Celetuknya.
"Aku sudah coba untuk mencari pinjaman, sayang. Tapi semua tidak bisa memberi pinjaman."
"Tinggal jual saja rumah kamu, apa susahnya."
"Tapiβ"
"Eleh, kalau kamu masih cinta sama aku. Jangan banyak tapi, tinggal jual saja rumah itu." Zian memotong perkataan dari Lili.
"Rumah itu masih di tempati mama dan papa, sayang."
"Eleh banyak alasan!" seru Zian lalu mendorong tubuh sang istri agar tidak menghalangi langkahnya.
Lili hanya menatap pada sang suami yang keluar dari dalam rumah. "Apa aku harus menjual rumah itu? Tapi bagaimana dengan mama dan papa." ucap Lili bingung, dirinya benar-benar ingin membantu sang suami, tapi jika ia menjual rumahnya. Orang tuanya akan tinggal dimana.
Hal tersebut benar-benar membuat Lili bingung. Dan ia memutuskan untuk pergi menemui sahabatnya untuk menceritakan apa yang sedang dirinya alami.
Sampai akhirnya Lili tiba di sebuah Kafe yang sering dirinya kunjungi bersama dengan sang sahabat, untuk menunggu sahabatnya datang.
Saat Lili sedang menikmati secangkir kopi, tiba-tiba seorang pria menarik kursi dan duduk tetap di hadapannya.
"Sendirian?" Tanya Lio sambil mengukir senyum.
Lili tidak menjawab pertanyaan dari pria tersebut, yang ada bingung kenapa Lio tiba-tiba datang.
"Sedang berantem dengan Zian?"
Pertanyaan Lio kali ini membuat Lili menautkan keningnya, karena Lio tahu apa yang sedang ia alami dengan sang suami.
"Terima aja tawaran aku, pasti Zian akan bangga padamu."
Lili menggelengkan kepalanya, masih jelas apa yang Lio tawarkan, agar dirinya mau tidur dengan pria tersebut. Supaya Lio mau meminjamkan uang.
Kemudian Lili beranjak dari duduknya, dan langsung meninggalkan kafe tersebut. Tidak sudi dirinya harus tidur dengan pria selain suaminya.
Tanpa Lili sadari, Lio mengikuti langkahnya. Dan saat Lili sedang menunggu sebuah taksi, Lio mengsejajarkan tubuhnya di samping Lili.
"Kamu." ucap Lili menatap pada Lio.
"Kenapa?"
"Untuk apa kamu mengikuti aku, hah!"
"Aku tidak mengikuti kamu, aku sedang menunggu taksi." Bohong Lio.
Lili tidak menimpali ucapan dari Lio yang ada menghentikan taksi yang lewat.
Dengan segera Lili masuk ke dalam taksi tersebut. Namun, saat ia ingin menutup pintu.
Pintu tersebut di tahan oleh Lio, dan ia langsung masuk dan duduk di samping Lili.
"Keluar!" perintah Lili. "Aku yang lebih dulu menghentikan taksi ini." kata Lili.
Tapi Lio tidak mendengar, yang ada menyuruh supir taksi tersebut untuk melajukan mobil.
"Jalan Pak, ke jalan senandung nomor lima puluh."
Lili menautkan kening, karena tujuan yang baru Lio sebut, adalah alamat rumahnya dimana kedua orang tuanya tinggal.
Saat taksi mulai jalan, Lio menatap pada Lili. "Rumah kamu masih disana kan?" tanyanya.
"Kenapa kamu tahu?" tanya Lili bingung, karena ia baru mengenal Lio setelah menikah dengan Zian. Dan semua sahabat sahabat sang suami tidak ada satupun yang tahu dimana rumahnya.
Namun, Lio tidak menjawab pertanyaan dari Lili yang ada menyadarkan tubuhnya di kursi.
"Bagaimana kalau aku tambah jadi dua miliar, itu cukup untuk membayar hutang Zian kan?"
- Akhir Chapter -