Lili terkejut. Dua miliar, Jumlah yang sangat besar, dimana baru saja keluar dari mulut Lio. Dan itu cukup untuk melunasi sebagaian hutang Zian sang suami. Namun, ia tahu betul maksud dari tawaran itu. Lio tak menyatakannya secara gamblang, tapi nada bicaranya, sorot matanya, dan senyum tipis di bibir lelaki itu mengisyaratkan untuk dirinya harus tidur dengannya, dan itu imbalan dari dua miliar rupiah yang baru disebutnya.
Lili menatap sahabat suaminya itu dengan jijik, sekaligus bingung harus berbuat apa.
"Jawab saja, mau. Gampang, bukan?" kata Lio tenang, menyandarkan tubuhnya ke jok taksi. "Kapan lagi ada orang yang mau minjemin uang sebanyak itu tanpa jaminan. Tidak ada, Lili. Hanya aku. Jadi terima saja tawaranku." Lio masih tersenyum, dengan tatapan tertuju pada istri dari sahabatnya tersebut.
Lili mengepalkan tangan di pangkuannya, menahan rasa muak. "Aku memang butuh uang," ucapnya pelan, "api tidak dengan menggadaikan harga diriku!" tegasnya.
Nada tegasnya membuat Lio menaikkan alis. Bukannya tersinggung, lelaki itu justru tertawa pelan.
"Jangan bicara tentang harga diri, kalau suamimu sendiri bahkan tidak menghargaimu."
Ucapan itu membuat dada Lili terasa sesak. Ia menautkan kening, menatap tajam ke arah Lio. "Jaga bicaramu!" katanya dengan suara bergetar. Ia tahu Zian memang berubah sejak terlilit utang. Pria itu jadi sering pulang larut, jarang bicara, dan bahkan kadang bersikap kasar. Tapi Lili tetap percaya, Zian hanya sedang tertekan. Ia masih yakin, suaminya tetap mencintainya.
Lio tidak menanggapi lebih lanjut. Ia hanya tersenyum tenang, lalu menyelipkan sebuah kartu nama ke pangkuan Lili.
"Tawaranku masih berlaku. Kalau kamu berubah pikiran, telepon saja nomor itu," ucapnya, lalu meminta supir taksi tersebut untuk menghentikan mobilnya. "Pak, berhenti di depan."
"Baik," sahut sopir.
Begitu taksi berhenti, Lio turun dengan santai. Sebelum menutup pintu, ia sempat menoleh dan melambaikan tangan ke arah Lili, masih dengan senyumannya yang membuat perut Lili terasa mual.
Taksi kembali melaju, bersamaan dengan Lili yang terdiam dengan pandangan tertuju ke kartu nama di pangkuannya. Jemarinya bergetar saat menyentuhnya. Hatinya berperang, antara harga diri dan juga hutang sang suami yang harus cepat di lunasi.
Beberapa saat kemudian, taksi berhenti di depan rumah sederhana Lili. Lili turun sambil memasukkan kartu nama itu ke dalam tas, tak berniat membuangnya tapi juga enggan mengakuinya.
Alisnya langsung berkerut ketika melihat mobil milik Zian terparkir di halaman rumahnya.
"Kenapa Zian tidak bilang kalau mau ke rumah?" gumamnya pelan. Ia bergegas menuju pintu rumah, dadanya dipenuhi rasa penasaran kenapa suaminya itu datang tanpa memberi tahunya.
Zian duduk dengan gelisah di salah satu sofa ruang tamu, matanya menatap tajam ke arah papa dan mama mertuanya. Ruangan itu terasa sunyi, seolah menunggu denting ketegangan pecah kapan saja.
Di depannya, Papa Renan dan Mama Rina saling pandang, saling membaca isi hati masing-masing setelah mendengar permintaan mengejutkan dari menantu mereka.
"Bagaimana, Pa, Ma? Apa boleh aku menjual rumah ini?" tanya Zian, berusaha terdengar tenang meski nada suaranya getir. "Rumah ini milik istriku, bukan? Dan ini satu-satunya jalan keluar untuk membayar hutang-hutangku." Jelas Zian, karena kedatangannya ke rumah kedua mertuanya tersebut, ialah ingin meminta papa Renan dan juga mama Rina menjual rumah tersebut, saat Zian tidak tahu lagi harus mencari pinjaman ke mana.
Papa Renan menarik napas panjang, lalu menatap wajah menantunya yang tampak kusut. "Apa tidak ada cara lain, Zi?" Tanya papa Renan, dirinya benar-benar harus berpikir matang untuk menjual aset satu-satunya yang bisa ia warisan pada sang putri.
Zian mengusap wajahnya yang lelah, lalu mengacak rambutnya dengan frustasi. "Tidak ada cara lain, Pa. Aku sudah mencoba pinjam ke teman, saudara, bahkan menjual mobil. Tapi tetap saja kurang."
Mama Rina menggenggam tangan suaminya, mencoba menyusun kalimat yang tepat. "Sahabat dan keluargamu banyak, Zi. Apa tidak ada satu pun yang bisa kamu mintai bantuan?" tanya mama Rina, dirinya merasa tidak setuju dengan permintaan sang menantu, untuk menjual rumah tersebut.
"Ya ampun! Kalian ini sebenarnya mau bantu aku atau tidak, hah?" suaranya meninggi, membuat suasana berubah mencekam.
Papa Renan terkejut dengan nada suara Zian, namun memilih untuk diam.
Kemudian Zian beranjak dari duduknya. "Kalian lupa, jika aku tidak menikahi putri kalian. Putri kalian jadi apa sekarang hah!" serunya emosinya tidak terbendung. "Di suruh menjual rumah saja perhitungan, apa kalian buta dengan apa yang sudah aku lakukan hah!" teriak Zian.
Belum sempat Papa Renan menjawab, suara langkah pelan terdengar dari arah pintu. Lili berdiri di ambang pintu ruang tamu, wajahnya pucat, menyaksikan semua percakapan tanpa sengaja. Ia menggenggam ujung bajunya dengan gemetar, mencoba menahan detak jantung yang berdegup kencang.
Dengan segera Ia berjalan mendekat, berusaha tenang. "Sayang, kenapa kamu bicara kasar sama mama dan papa?" tanyanya dengan suara pelan.
Zian melirik tajam pada sang istri. Bibirnya menyeringai sinis. "Si pembawa sial datang," ucapnya dengan penuh hinaan.
Lili terkejut, hatinya seperti ditampar keras karena lagi dan lagi, Zian mengatakan hal yang menyakitkan untuknya. "Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu lagi padaku?" matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tahu kamu sedang kesulitan, tapi tidak sepantasnya kamu melampiaskan semuanya padaku, atau orang tuaku."
Zian tertawa pendek, tapi tanpa kehangatan. "Kamu pikir aku nggak boleh marah? Aku sedang jatuh, dan kalian semua cuma melihat dari jauh. Kamu juga! Apa yang kamu lakukan buat bantu aku? Hah? Tidak ada, kan?!"
Lili mencoba menahan air matanya. "Aku sudah mencari bantuan, tapi semuanya nihil."
"Sudahlah!" potong Zian tajam. "Kamu dan keluargamu hanya beban. Hidupku hancur sejak menikahimu!"
Seruan itu menggema di ruangan, menyisakan keheningan yang menyayat. Lili hanya bisa berdiri terpaku, air matanya kini mengalir pelan.
Zian mengambil jaketnya, lalu melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi.
- Akhir Chapter -