Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi.
Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya.
“Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi.
Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya.
Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lilis untuk memberikan uang sewa kontrakan.
Tok Tok!
Tidak lama kemudian pintu terbuka, seorang wanita dengan piyama tidur berdiri di ambang pintu.
“Jaka?!”
Itu Bu Lilis, seperti biasa, penampilannya selalu saja berhasil membuat Jaka menelan ludahnya. Piyama tidur yang wanita itu pakai begitu tipis, hingga siluet lekuk tubuhnya terlihat samar di bawah lampu teras yang menyala.
“Ma-malam, Bu, maaf mengganggu,” kata Jaka terbata-bata. Saking seringnya ia dibentak oleh Bu Lilis, membuat mental Jaka selalu ciut saat bertemu dengan istri Pak Kades tersebut.
Namun di luar dugaan, Bu Lilis tidak segarang biasanya.
“Nga-ngapain kamu ke sini malam-malam?” tanya wanita itu, suaranya terdengar sedikit bergetar.
“Anu, Bu.” Jaka mengangkat wajahnya menatap mata si wanita pemilik tubuh aduhai dan wajah yang mempesona.
Deg!
Bu Lilis yang biasanya akan langsung tantrum saat melihat Jaka, malam ini tampak berbeda. Wanita itu merasa ada yang aneh, jantungnya tiba-tiba berdebar saat matanya bertemu dengan mata Jaka. Ia menatap Jaka dari ujung kaki ke ujung kepala, tidak biasanya ia melihat pria itu sedalam ini.
“Ini, Bu.” Jaka menyerahkan uang 400 ratus ribu pada Bu Lilis. “Saya baru punya segini, untuk satu bulan. Sisa dua bulan lagi nanti akan segera saya lunasi, Bu.”
Tangan Jaka gemetar saat memberikan uang tersebut. Ia sudah menyiapkan mental dan telinganya untuk mendengar makian istri Pak Kades itu lagi.
Namun lagi-lagi di luar dugaan. Alih-alih memakii Jaka, Bu Lilis malah tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil uang yang diberikan Jaka kepadanya.
“Ya sudah, kali ini kamu saya kasih kesempatan.” Bu Lilis akhirnya bersuara setelah dari tadi ia diam memandangi Jaka.
“Terima kasih banyak, Bu.” Jaka langsung membungkuk, berterima kasih karena diberi keringanan.
Bu Lilis menghela napas panjang, hingga membuat dua bukit kembarnya naik turun seirama. Entah mengapa, Jaka terlihat berbeda malam ini di matanya. Pemuda yang biasanya tampak kusam dan bau sampah, kini terlihat cukup tegap dengan bahu lebar dan garis rahang yang tegas.
“Ya sudah, Bu, saya permisi dulu.” Jaka membungkuk sejenak, lalu ia segera berbalik arah ingin meninggalkan kediaman Bu Lilis.
Namun baru satu langkah ia berjalan, tiba-tiba Bu Lilis kembali memanggil.
“Jaka!”
Ia menoleh kembali. “I-iya, Bu.”
Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme napasnya yang tiba-tiba saja memburu tanpa ia tahu apa sebabnya. “Besok kamu ke sini, di belakang ada beberapa rongsokan yang udah enggak kepakai lagi,” katanya tegas namun tidak berani menatap mata Jaka.
“Oh, iya, Bu, Baik. Besok pagi saya ke sini lagi,” sahut Jaka sambil tersenyum, ia juga merasa sikap Bu Lilis berbeda kepadanya malam ini.
“Ya sudah, kamu pulang sana. Saya mau tidur,” kata istri Pak Kades itu lagi, lalu ia segera masuk ke dalam dan menutup pintu.
Jaka langsung kembali ke rumahnya. Seharian memulung barang-barang bekas cukup membuatnya lelah dan segera ingin tidur.
***
Keesokan paginya. Jaka terjaga cukup pagi seperti biasanya. Hidup seorang diri memaksanya untuk melakukan semuanya sendirian, ia harus mencuci pakaiannya pagi buta lalu menjemurnya, baru setelah itu ia keluar untuk mengais barang-barang bekas guna menyambung hidupnya.
Sesuai janjinya kepada Bu Lilis semalam, sekitar jam sembilan pagi, Jaka sudah berada di depan rumah wanita itu.
Tok Tok!
Bu Lilis membuka pintu dan mendapati Jaka sudah berdiri di depan dengan sebuah karung kosong yang ia sampirkan di bahu.
“Oh kamu sudah datang rupanya,” ujar Bu Lilis. Wanita itu hanya mengenakan daster tanpa lengan dan kerah cukup rendah, hingga samar belahan bukit kembarnya mengintip keluar membuat Jaka sedikit salah tingkah karenanya.
“Ayo masuk, rongsokannya ada di belakang,” kata wanita itu lagi.
“Baik, Bu.”
Jaka langsung melangkah ke dalam mengikuti Bu Lilis yang berjalan di depannya. Goyangan pinggul wanita itu cukup membuat Jaka betah berlama-lama di belakangnya.
“Ma-maaf, Bu. Pak Kades enggak ada di rumah?” Jaka memberanikan diri untuk bertanya.
“Enggak,” jawab wanita itu singkat. “Pagi-pagi tadi udah berangkat dia,” lanjutnya. Ada nada yang tidak mengenakkan dari suaranya. Sepertinya hubungan mereka kurang baik.
Di belakang rumah, terlihat tumpukan rongsokan di dekat dinding.
“Itu rongsokannya, ambil aja semuanya,” kata Bu Lilis.
“Baik, Bu.” Jaka langsung mendekat ke arah tumpukan rongsokan di belakang. Sementara Bu Lilis mengambil kursi plastik dan ikut duduk di sana melihat Jaka yang sedang sibuk memilah-milah rongsokan ke dalam karung.
Bu Lilis duduk menyilangkan kakinya hingga dasternya tersingkap memperlihatkan betisnya yang putih mulus. Ia sesekali mengulum senyum sambil melihat lengan Jaka yang tampak kekar saat memindahkan beberapa rongsokan. Entah mengapa, ia cukup betah menatap pemuda itu hari ini.
Sementara Jaka, ia mulai memasukkan beberapa rongsokan ke dalam karung, ia tampak sangat fokus, hingga sebuah benda yang ia temukan di sana membuat fokusnya buyar.
“Eh, ini?” Kening Jaka mengerut, ia melihat benda karet hitam panjang, persis seperti alat kelamin pria.
Jaka mengambilnya, lalu ia menoleh ke arah Bu Lilis yang masih duduk di sana. “Bu… i-ini.”
Bu Lilis yang sedang asik memandangi Jaka tiba-tiba tersentak kaget saat melihat benda yang pemuda itu pegang.
“Ehh, itu?!”
Bu Lilis langsung bangkit dan dengan cepat merebut benda itu dari tangan Jaka. Pipinya langsung merah merona.
“Ihh, dasar! Pantesan aku cari-cari enggak ada, pasti si bapak yang buang,” gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Jaka.
Jaka cengengesan, ia tahu apa kegunaan benda itu. Apalagi saat melihat Bu Lilis menggenggam benda itu dengan erat, pikirannya langsung melayang kemana-mana.
“Apa kamu senyam-senyum?” tanya Bu Lilis gugup sambil menyembunyikan benda itu di balik punggungnya.
“A-anu, itu Bu—”
“Bukan urusan kamu,” potong Bu Lilis cepat, pipinya merah padam karena malu. Lalu tanpa menunggu jawaban Jaka lagi ia langsung bergegas masuk ke dalam untuk menyimpan benda kesayangannya itu.
Jaka menggeleng pelan sambil terkekeh. “Apa punya Pak Kades enggak cukup, ya? Sampe Bu Lilis harus pake benda gituan,” gumamnya.
- Akhir Chapter -