Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya.
“Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi.
“U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum.
Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?”
“Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi.
“Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi.
“Baik, Bu.”
Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan.
“Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk.
Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa.
Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil.
“Jaka!”
Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.”
“Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya benar-benar merona.
Jaka cengengesan mendengar hal itu. “I-iya, Bu, aman kok. Tapi…” Jaka menggantung ucapannya.
“Tapi apa?” tanya Bu Lilis ketus.
“Enggak jadi, deh Bu. Ya sudah saya pamit dulu.”
“Cih! Dasar, enggak jelas,” ketusnya seakan kesal, namun rona merah di pipinya berkata lain.
Selepas dari rumah Bu Lilis, Jaka langsung menuju ke pinggiran kota untuk membawa barang bekasnya ke penadah. Karung besarnya kini terisi penuh, namun anehnya, Jaka sama sekali tidak kesusahan saat memikulnya.
Di tempat penadah, seorang lelaki dengan mata sipit berkacamata duduk di balik meja menatapnya.
“Hayya! Jaka, lu punya banyak balang hari ini?”
Itu Koh Ahong, lelaki paruh baya keturunan Cina. Ia sudah cukup mengenal Jaka.
“Lu bawa apa aja hari ini?” tanya Koh Ahong lagi sambil melihat isi karung yang baru diletakkan oleh Jaka.
“Ini, Koh. Ada beberapa, ada besi, plastik, ada juga aluminium,” jawab Jaka sambil membongkar isi karungnya.
Koh Ahong mengelus janggut tipisnya. “Tumben lu punya banyak balang hari ini.”
“Lagi hoki, Koh,” jawab Jaka sekenanya.
“Ya sudah, owe timbang dulu.”
Jaka berdiri menunggu lelaki keturunan cina itu memilah dan menimbang barang bawaannya.
“Hayya, lu olang benar-benar hoki, ini sangat banyak,” kata Koh Ahong setelah menimbang beberapa barang. Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jaka hanya tersenyum, ia cukup senang. Tidak biasanya ia mendapat banyak barang seperti ini. Bukan itu saja, barang ini semua ia ambil gratis di rumah Bu Lilis, wanita yang terkenal galaknya minta ampun.
Setelah selesai menimbang, Koh Ahong langsung merogoh dompetnya. “Nah, ini uangnya,” kata lelaki itu sambil menyerahkan uang 150 ribu kepada Jaka.
“Wah, beneran nih, Koh? Banyak amat?” Jaka seolah tidak percaya dengan uang yang ia dapat.
“Hayya, lu olang aneh banget, dapat dikit salah, dapat banyak juga salah,” gerutu Koh Ahong sambil membetulkan kacamatanya.
Jaka terkekeh, segera menyambar uang 150 ribu itu dan memasukkannya ke saku celana dengan perasaan puas. "Bukannya gitu, Koh. Biasanya kan cuma dapat lima puluh ribu kalau karungnya segini. Makasih ya, Koh!"
Koh Ahong hanya mengibaskan tangan, menyuruh Jaka pergi. Namun, sesaat sebelum Jaka membalikkan badan, mata jeli Koh Ahong menangkap sesuatu yang berkilau di pergelangan tangan pemuda itu.
"Oey, Jaka! Tunggu dulu," panggil Koh Ahong tiba-tiba.
Jaka menoleh, merasa waswas jika Koh Ahong salah hitung timbangan dan ingin meminta uangnya kembali. "Kenapa, Koh?"
"Itu di tangan lu... gelang apa?" Koh Ahong mendekat, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit. "Coba owe lihat sebentar."
Jaka sedikit ragu, namun ia mendekatkan tangannya. Koh Ahong tidak menyentuhnya, ia hanya memperhatikan detail karat yang mulai luntur dan memperlihatkan guratan kuno di permukaan gelang tersebut.
"Hayya... lu dapat dari mana ini?" tanya Koh Ahong dengan nada yang berubah serius, tidak ada lagi logat bercandanya.
"Ini peninggalan mendiang Bapak, Koh. Kenapa emangnya?" tanya Jaka heran.
Koh Ahong diam sejenak, tampak berpikir keras. "Enggak... kayaknya itu cuma besi tua yang sudah buluk. Tapi, kalau lu mau jual, owe bisa kasih harga tinggi. Bagaimana?"
Jaka tersentak. Tawaran Koh Ahong yang mendadak itu justru membuatnya curiga. Jika seorang penadah pelit seperti Koh Ahong berani menawar barang yang buluk, berarti barang itu punya nilai yang tidak main-main.
"Enggak, Koh. Ini peninggalan orang tua, mau saya simpan saja," tolak Jaka tegas.
Koh Ahong hanya mengangkat bahu, walau matanya masih terus menatap gelang itu sampai Jaka keluar dari gudangnya. "Ya sudah, kalau lu berubah pikiran, datang sama owe ya!”
Akhirnya siang itu, Jaka pulang ke desa dengan perasaan senang. Ia merasa cukup beruntung hari ini. Namun bukan itu saja, di perjalanan menuju rumah ia merasa tatapan para warga mulai berubah kepadanya. Mereka yang biasanya membuang muka dan menutup hidung saat Jaka melintas, kini malah tampak tertegun melihatnya.
“Kenapa ya orang-orang?” gumamnya yang belum sadar jika aura dan kharismanya mulai menguar hebat.
Hingga akhirnya ia berhenti di warung nasi di perempatan, hendak membeli makan siang. Kebetulan di sana ada Marni—si janda kembang simpanan Pak Kades.
Jaka berdiri tepat di sebelahnya. “Eh, Mbak Marni,” sapa Jaka spontan. Bahkan ia sendiri terkejut kenapa ia sepercaya diri ini.
Marni menoleh, matanya terbelalak melihat Jaka di sebelahnya. Ia segera menunduk, malu karena kejadian kemarin di gudang.
“Mau beli nasi juga, Mbak?” tanya Jaka basa-basi.
“I-iya.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut janda kembang itu, namun entah mengapa ada debar aneh di jantungnya yang membuat ia sesekali melirik ke arah Jaka.
“Ini, Mar, nasi kamu,” kata si ibu penjaga warung.
“Iya, Bu. Ini uangnya.” Setelah mengambil pesanannya, Marni langsung beranjak dari sana dengan pipi masih merona merah.
Jaka hanya melirik sekilas ke arah pinggul Marni yang bergoyang kiri kanan saat ia berjalan. Namun suara si ibu penjaga warung segera membuyarkan hayalannya.
“Jaka, kamu mau beli apa mau ngutang hari ini?”
“Beli lah, Bu, hehe.” Jaka cengengesan. “Satu, Bu ya? Mata sapi aja.”
Si ibu sedikit mengernyit menatap Jaka.
“Kenapa, Bu?” tanya Jaka heran.
“Eh, enggak. Kamu agak beda aja hari ini,” jawab si ibu sambil menyiapkan pesanan.
“Beda?” gumamnya sambil mengangkat bahu. Jaka tidak terlalu menghiraukan perkataan si ibu barusan.
Lima menit kemudian, pesanannya siap. “Ini Jaka,” kata si Ibu sambil menyodorkan nasi bungkus kepada Jaka.
“Ini Bu, uangnya.”
Setelah selesai membeli makan siang, Jaka langsung kembali ke rumah. Sebelum makan, ia menyempatkan diri untuk mandi. Cuaca akhir-akhir ini memang cukup terik.
Jaka membuka baju dan celananya, menyisakan celana dalam saja. Namun saat ia hendak melilitkan handuk di pinggangnya, Jaka tersentak melihat gundukan miliknya tampak lebih besar.
“Eh, kok punya gue jadi besar begini, ya?” gumamnya bingung. Ia menarik celana dalamnya untuk melihat miliknya di dalam sana.
“Astaga! Kok bisa begini?”
Betapa terkejutnya Jaka, saat melihat kejantanannya kini lebih besar dari sebelumnya, padahal ia tidak ereksi sama sekali.
- Akhir Chapter -