← Kembali ke Detail

02. Lembaran Baru

Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)4 menit · 779 kata · Chapter 2/97

Chapter 2 / 97 · 2%02. Lembaran Baru
Ukuran huruf
18px

"Hachu!" bersin Jenar Nareswari begitu tiba di rumah dinasnya.

"Maaf, Mbak. Rumah dinas ini kecil dan berdebu. Tidak mewah seperti harapan."

Mendengar itu, Jenar menggelengkan kepala. "Tidak, Pak, ini lebih dari cocok. Jika bukan karena aku ditipu, aku sudah menempati rumah kontrakan itu hari ini," jawab wanita cantik, dengan poni tipis itu.

Ya, salah satu temannya menipu Jenar dengan membawa uang kontrakan yang dia harusnya tempati sekarang.

Mau marah juga percuma karena temannya itu tidak kembali, jadi Jenar hanya menikmati kemalangan kisahnya.

Untungnya, masih ada rumah dinas yang disiapkan.

"Baiklah. Lagian Mbak juga Dokter di rumah sakit Militer sini, jadi tidak perlu dipikirkan sampai mendapat rumah baru. Ini juga atas persetujuan kepala Dokter di sana."

"Iya, Pak, terima kasih sebelumnya."

Jenar menatap sekeliling rumah dinas yang dekat dengan rumah sakit militer itu dan akan menjadi tempat tinggalnya sementara.

****

"Ma, Jenar sudah sampai tadi pagi, maaf kalau baru memberi kabar, harus membereskan barang dulu," ucapnya dari balik sambungan telepon.

Sejak sampai, Jenar harus membersihkan rumah dinas itu karena juga lama tidak ditinggali.

Namun, dia merasa senang karena ada teman Dokter yang membantunya.

"Tidak apa-apa, Nak. Oh ya, apa kamu sudah bertemu dengannya? Apa tampan?" Terdengar pertanyaan lawan bicara Jenar begitu antusias.

Jenar memutar matanya malas. "Mama, Jenar saja baru sampai pagi, bagaimana bisa bertemu. Lagian apa Mama sudah memastikan jika dia mau bertemu denganku. Nanti bagaimana anakmu ini kalau di tolak, pasti malu tujuh turunan.

"Sudah, katanya sih siang tadi dia berangkat. Harusnya sudah sampai apalagi kalian di kota yang sama. Semoga kalian bisa cocok ya, Nak. Dari fotonya sih tampan."

Jenar hanya mengiyakan apa yang mamanya katakan. Dia tidak berani untuk menolak, karena kebahagian orang tua menjadi prioritasnya. Usianya baru 29 tahun, namun dia sudah dibilang perawan tua oleh saudaranya karena terlalu fokus bekerja.

"Sebaiknya Jenar tutup teleponnya, Jenar lelah sekali. Besok pagi harus datang ke rumah sakit, malu jika terlambat."

"Tapi apa di sana aman, Nak?"

"Iya, di sini sangat aman, Ma. Tinggal di komplek militer harusnya aman kan. Sudah, aku ingin mandi dan tidur. Mama jaga kesehatan, jangan sakit lagi. Jika sakit, maka Jenar tidak mau menerima perjodohan ini."

"Tentu Mama harus sehat. Mama ingin melihatmu menikah dengan pria tampan dan sukses seperti pria itu. Apalagi poin lebihnya, dia begitu sayang keluarga."

"Mama akan terus bicara tentang ini, Jenar tutup teleponnya."

Setelah sambungan telepon di matikan, Jenar langsung membersihkan tubuh. Terlihat jam menunjukan pukul 8 malam, dan dia baru menyelesaikan semua

Sebelum tidur, dia coba membaca materi yang dia pelajari sampai dia benar-benar mengantuk. Namun, saat baru akan terpejam, suara pintu membuatnya harus berjalan ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang.

"Dokter Jenar?"

"Iya, saya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya pada pria dengan seragam TNI datang ke rumahnya.

"Ada yang menunggu di Pos, dia bilang teman Anda, maaf mengganggu malam-malam. Saya tidak berani untuk menyuruhnya masuk."

Deg!

"Siapa ya, Pak?"

"Saya kurang tau, Dok. Kalau mau silahkan temui atau saya antar untuk datang ke sini?"

"Laki-laki atau perempuan, Pak?"

"Laki-laki." Jenar coba mengingat siapa yang mencarinya, kenapa datang malam-malam. Apalagi petugas yang berjaga juga takut untuk membolehkan masuk. Mungkin karena Jenar tinggal sendiri di komplek itu.

Jenar berjalan kaki ke depan, di mana seseorang itu menunggu. Dengan jaket yang menyelimuti tubuhnya, dia bersilang tangan karena rasa dingin yang merasuk. Petugas tadi mengajaknya bersama, namun Jenar tidak ingin karena malu.

"Benarkah Anda mencari saya, kalau boleh tau apa yang bisa saya bantu?" Suara Jenar membuat laki-laki di hadapannya itu menoleh ke arahnya. Ternyata dari pihak rumah kontrakan sebelumnya mengirimkan barang miliknya yang sempat dia kirimkan awal.

"Izin, Ndan. Komandan sudah pulang!" Jenar yang mulanya mengajak orang di hadapannya bicara, seketika menoleh ke arah petugas yang tadi datang padanya sedang bicara dengan seseorang yang dia panggil Komandan.

"Ini untuk kalian, tadi ada penjual makanan yang kasihan sudah malam begini dagangannya masih banyak. Makan untuk kalian."

"Mohon izin, terima kasih, Ndan."

"Berikan Mbak ini juga kalau mau." Jenar tersenyum sopan ketika pria itu menawari bungkusan yang dia beli.

"Terima kasih, Pak, untuk Bapak saja. Sebaiknya saya permisi, terima kasih sudah memberitahu tentang pria tadi."

"Apa Dokter mau berjalan kaki dengan koper besar itu? Biar saya antar setelah ini." Pria tadi menawarkan untuk mengantar Jenar dengan koper yang dia bawa.

"Mau ke mana?" Pria yang dipanggil Komandan tadi memotong obrolan mereka.

"Oh iya, bukankah Komandan melewati rumah yang Dokter tempati. Mohon izin, Ndan, apa tidak bisa Komandan membantunya, Dokter ini tinggal di dekat lapangan voli sebelum ke rumah dinas Bapak."

"Kalau begitu mari saya antar." Jenar menatap bingung karena dia akan lelah jika mengangkat koper besar itu sendiri, kebetulan pria yang dipanggil Komandan itu menggunakan motor.

"Sudah, Dok, sudah malam juga, nanti ada Kunti loh."

Hah? Kunti?

— Akhir Chapter —