Home/Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)/03. Seseorang Itu adalah Kamu!
← Kembali ke Detail

03. Seseorang Itu adalah Kamu!

Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)6 menit · 1.046 kata · Chapter 3/97

Chapter 3 / 97 · 3%03. Seseorang Itu adalah Kamu!
Ukuran huruf
18px

"Terima kasih, Pak, sudah mengantar. Maaf tidak mempersilahkan masuk, sudah malam juga."

Pada akhirnya, Komandan itu mengantarkan Jenar sampai rumah dengan koper besar miliknya.

"Tidak apa-apa. Apa Anda bertugas di Rumah sakit Militer?"

"Iya, Pak, saya tinggal di sini hanya sementara selama saya mendapatkan kontrakan baru untuk tinggal. Pak Danki yang meminta saya tinggal di sini."

"Oh begitu, yasudah, saya tinggal dulu. Selamat istirahat."

Jenar masih berdiri di depan rumah sampai pria itu pergi. "Masih muda dan tampan lagi, pemandangan menyegarkan. Ah ... Jenar, kau itu memikirkan apa."

Sejenak Jenar membayangkan sesuatu tentang Komandan itu. Bau tubuhnya begitu harum, dia pikir akan beruntung memiliki suami seperti Komandan tampan itu. Sudah tampan, masih muda juga menjadi Komandan, walau tidak mengerti kedudukan di dalam satuan militer, tapi saat mendengar kata Komandan, iti artinya kedudukannya pasti lebih tinggi, itu pikir Jenar. Dia tidak tau pastinya. "Tadi dia itu Komandan apa ya? Bukankah Pak Danki juga di panggil Komandan? Ah ... kenapa aku jadi memikirkan dia terus. Sebaiknya tidur, karena besok hari yang panjang."

Jenar menutupi tubuhnya dengan selimut dan coba memejamkan mata di tempat baru. Suasananya cukup tenang, asri dan pastinya aman, karena ada penjagaan di komplek atau biasa di sebut Asrama itu.

***

Esok paginya, Jenar sudah tampak rapi dengan jas Dokter yang di kenakan.

Sepatu kets yang selalu menemaninya, karena dia jarang sekali menggunakan heels atau wedges pikirnya itu pasti akan merepotkan.

"Nama saya Jenar Nareswari, Spesialis Konservasi Gigi (Sp.KG.). Salam kenal."

Dihadapan para dokter lain, Jenar mengenalkan diri. Ini hari pertamanya bertugas menggantikan dokter sebelumnya yang menjalani pendidikan lanjutan.

"Dokter bisa memanggil saya jika ada yang ingin dibutuhkan, dan ini ruangan Anda sekarang." Salah satu perawat yang akan menemaninya bekerja mulai sekarang, menunjukan ruangan prakter setelah mengenalkan diri.

"Terima kasih, Mbak."

Hari itu dia merasa senang karena di terima di lingkungan baru. Walau itu tidak begitu dipikirkan tentang lingkungan kerjanya tidak nyaman, karena dia juga mudah akrab dengan orang lain. Dan pasien di hari pertamanya bekerja tidak begitu banyak karena dia juga tidak mengambil jadwal penuh seperti yang asisten perawatnya jelaskan.

"Apa yang dikeluhkan?"

"Gigi berlubang sebelah kiri, bisakah dicabut saja, Dok?"

"Biar aku lihat dulu. Jika bisa dirawat kenapa dicabut?" Seperti biasa sebelum melakukan tindakan, dia mengenakan masker dan sarung tangan setelahnya mulai melihat kondisi gigi pasiennya.

Banyak keluhan yang dia dengar, dari gigi berlubang, karang gigi, hingga masalah syaraf di gigi. Sebenarnya Jenar tidak ingin mengambil jurusan kedokteran gigi, hanya saja dia malah terdampar di jurusan itu hingga menjadi mahasiswa cumlaude dan lulus lebih cepat.

"Aku berikan surat untuk kontrol minggu depan, kita rawat dulu giginya sebelum ditambal."

"Terima kasih, Dok."

Pasien terakhir kali ini, membuat Jenar bisa pulang lebih cepat.

Seperti tadi pagi, dia pun berjalan dengan santainya menuju rumah dinasnya.

Suasana sore di Kota Solo membuat rindu kampung halaman. Namun, dia harus membiasakan diri karena ini juga menjadi keinginannya pindah ke rumah sakit Militer, jauh dari orang tua dan berjuang seorang diri.

Hanya saja, mata Jenar tak senga melihat pemandangan indah untuknya--para Prajurit yang sedang berlatih!

"Dokter baru pulang." Sapaan Danki membuat Jenar menghentikan langkahnya.

Eh?

Jenar buru-buru menunduk. "I--iya, Pak."

"Wow ... Pak, siapa dia? Cantik sekali." Salah satu dari Prajurit yang sedang melakukan latihan ketika Danki mereka menyapa Jenar.

"Jangan ngawur kalian, sudah sana lanjut latihan. Maaf, Dok, mereka itu memang kurang sopan."

"Tidak apa-apa, Pak, kalau begitu saya permisi." Jenar melanjutkan langkahnya dengan sesekali fokus membalas pesan. Meski sudah menyandang dokter spesialis, dia masih ingin belajar mengenai spesialis syaraf.

"Awas!!" Teriakan seseorang membuat langkah Jenar terhenti karena terkejut. Dia yang bingung, mencari sumber suara, dan melihat bola menggelinding ke arah Jenar sampai berhenti di kakinya.

"Oh, Dokter, baru pulang?" Pria kemarin berlari dan mengambil bola tepat di kaki Jenar yang mundur beberapa langkah.

"Iya, Pak, apa sedang latihan, Pak?"

"Ya, baru selesai dan sekarang anak-anak mengajak main bola. Saya ke sana lebih dulu, ya, maaf tadi mengejutkanmu."

"Baik, Pak." Obrolan singkat itu membuat Jenar menatap pria tampan yang dipanggil Komandan itu. Dia seperti terhipnotis dengan sosok itu. Dengan tubuh kekar, wajah tampan dan juga manis, Jenar senang melihat pria itu.

Ketika pria itu berjalan pergi saja, Jenar masih menatap ke arahnya. Menatap punggung kekarnya, hingga suara ponsel membuyarkan lamunan.

Dia melihat di layar telepon masuk dari mamanya.

Tak ingin terkena lemparan bola, dia memilih menjawan sambungan telepon di rumahnya.

"Mama, tidak bisakah besok saja, aku ingin bertemu dengan rekan Dokter ku untuk pekerjaan di kliniknya. Aku—"

"Jangan memaksakan diri dengan bekerja sangat keras. Fokus dengan satu pekerjaan saja. Hari ini kamu harus bertemu dengannya, mama tidak mau tau. Nanti tunjukkan jika sudah bertemu dengan dia." Putrinya belum menyelesaikan ucapan, mamanya sudah memaksa untuk bertemu dengan pria yang mau dikenakan karena dia putra teman lama mamanya.

"Tidak bisakah nanti malam, pukul 7, aku saja baru masuk rumah. Belum membersihkan diri dan rumah. Lalu bagaimana aku bertemu dengannya, aku saja tidak tau bagaimana dia dan siapa namanya."

"Bukannya Mama sudah mengirimkannya padamu. Kamu pasti tidak melihatnya, langsung menghapus pesan Mama. Benar kan?"

"Itu---" Jenar mencoba mengalihkan ucapan mamanya karena memang dia menghapus pesan dari mamanya waktu itu tanpa ingin tau foto pria itu.

Tapi, sang ibu kembali memotong, "Mama akan kirimkan lagi, dan jika nanti ada yang menghubungimu cepat jawab. Jangan membuatnya menunggu karena dia juga sibuk. Kamu dengar, Nak?"

"Iya, Ma, iya." Meski malas, Jenar akhirnya tetap mengiyakan kemauan mamanya.

Setelah menutup sambungan telepon bukan lekas bersiapa seperti yang dikatakan, Jenar memejamkan mata di atas tempat tidurnya karena merasa lelah.

Tring!

Suara pesan masuk tidak membuat Jenar membuka mata, dia ingin memejamkan mata sebelum pergi menemui pria pilihan mamanya. Pikirnya masih ada waktu untuk istirahat sebelum pergi berkenca buta atas kemauan mamanya.

Dia sungguh terlelap bukannya bersiap. Hingga 2 jam 20 menit berlalu, suara telepon harus dijawabnya. Dengan malas Jenar menjawab tanpa melihat layar ponselnya.

"Apa benar ini Jenar Nareswari?" Suaranya berat, dan langsung membuat Jenar membuka mata.

Deg!

"Siapa ini? Seingatku, aku tidak ada janji praktek hari ini."

"Bisakah kita bertemu 10 menit lagi, aku ada janji dengan seseorang nanti pukul 9. Aku tidak bisa menunggumu lebih lama."

"Memangnya siapa kamu menungguku? Aku—" Sejenak dia diam, coba mengingat janji apa yang dibuat. Dan ketika ingat, dia langsung bangun dan menatap layar ponselnya. Tidak ada nama hanya nomor saja, dia ingat kaya mamanya dia harus bertemu dengan pria itu!

Astaga!

— Akhir Chapter —