Home/Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)/04. Bertemu Wanita yang Dikenalkan
← Kembali ke Detail

04. Bertemu Wanita yang Dikenalkan

Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)5 menit · 845 kata · Chapter 4/97

Chapter 4 / 97 · 4%04. Bertemu Wanita yang Dikenalkan
Ukuran huruf
18px

"Ah ... iya, aku akan bersiap. Bisa kirimkan alamat di mana kita bertemu. Aku akan segera pergi. Maaf membuatmu menunggu," tutur Jenar.

"Aku akan kirimkan. Kalau bisa dekat tempatmu saja, biar aku yang menemuimu. Aku tidak bisa lebih lama."

"Baik, aku akan segera pergi. Maaf sebelumnya." Jenar mengutuk kebodohannya, dia segera ke kamar mandi dan bersiap setelah mengirimkan sharelock tempatnya tinggal. Dan tidak peduli dengan pesan masuk dari mamanya.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian casual yang sopan, Jenar segera pergi ke tempat di mana pria itu menunggu. Dia bahkan bilang menjemputnya.

"Aku tunggu dekat pos 2 tempatmu tinggal, tidak terlalu jauh darimu. Aku ada di mobil SUV putih dekat warung angkringan." Jenar mendengarkan penjelasan seseorang dari sambungan telepon, dengan mata yang coba melihat sekita, mencari mobil yang dimaksud.

Hingga dia melihat mobil yang dimaksud di seberang jalan, dengan hati-hati Jenar berjalan ke arah mobil itu dan mengetuk jendela mobilnya. Perlahan kaca jendela mobil itu terbuka dan menampilkan pria yang mamanya maksud.

"Anda?"

Mata Jenar membelalak. Pak Komandan ini bernama Damar?

***

"Dokter Jenar, masuklah, kita makan malam di dekat sini saja."

Jenar menatap terkejut pada seseorang yang ada di hadapannya. Namun, pria yang mamanya maksud itu terlihat tidak terkejut. Mungkin saja ini karena mereka pernah saling bertemu. Setelah mendapat alamat tempat tinggal Jenar, pria yang dikenalkan coba melihat foto yang ibunya kirimkan. Kenapa bisa tinggal di Asrama militer, ternyata memang dia Dokter yang pernah dia temui.

"Kenapa? Apa kamu terkejut melihatku? Maaf, aku juga baru tau beberapa menit lalu. Aku, Damar Lesmana, senang bertemu denganmu." Pria yang dipanggil Komandan itu ternyata pria yang mamanya kenalkan. Jenar menatap terkejut dengan tangan membalas jabatan tangan Damar.

Damar melajukan mobilnya setelah Jenar duduk dengan aman sambil sesekali menatap pria yang ada di sampingnya. Dia sungguh terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.

"Ada apa?" Senyum Damar mengembang ketika bertanya pada Jenar yang terdiam dengan mata masih menatapnya.

"Ah ... maafkan aku. Jujur aku juga tidak tau karena tidak membuka foto yang Mama kirimkan, jadi aku sedikit terkejut." Senyum manis Damar membuat jantung Jenar berdegub kencang, dia terlihat begitu manis dan tampan. Belum lagi aroma parfum yang dikenakan waktu itu tercium ke hidung Jenar, membuat nyaman saja.

"Tidak apa-apa, kalau bukan karena ulah kedua orang tua kita, mana mungkin bisa seperti ini."

"Iya–" Ada kecangunggan dalam diri Jenar, dia masih terkejut dan bingung bertemu pria yang kemarin membantunya.

"Mau makan apa?"

"Apa saja asal tidak pedas, tapi bukannya Bapak ada janji."

"Jangan panggil Bapak, terdengar aneh saja. Panggil nama saja. Aku belum setua itu untuk dipanggil bapak."

"Maaf, tidak enak kalau memanggil nama, boleh aku panggil Mas saja? Apalagi pada orang yang lebih tua." Damar melirik dengan senyum tipis mengembang saat Jenar bilang dirinya lebih tua.

"Oh ... maaf, maksudku—"

"Sudah jangan pikirkan. Kita makan dekat sini saja." Damar coba memecahkan suasana, di mana Jenar tampak terkejut melihatnya. Padahal dia juga sama, dia tersenyum melihat Jenar tadi mencari dirinya sambil bicara di telepon.

Sampailah mereka di tempat makan yang terlihat indah dengan pemandangan malam di area outdoor. Saat baru duduk ponsel Damar berdering, dan dia harus menjawab telepon dari seseorang. Membuat Jenar sesekali mencuri pandang pria tampan yang sejak kemarin dia temui. Dia tidak menyangka kalau pria dihadapannya ini orang yang harus dia kenal.

"Aku hubungi lagi nanti. Beri aku waktu 30 menit, nanti beritahu aku jika sudah di lokasi. Baik, tidak akan lama."

"Apa Mas terburu-buru? Jika iya, aku pulang saja." Jenar coba bicara setelah Damar menutup sambungan teleponnya.

"Tidak, santai saja. Sudah nikmati makanmu." Dari pertama kali Jenar lihat, pria dihadapannya ini pria yang baik. Bukan hanya senyumnya yang manis, tapi sikap memperlakukan Jenar juga baik.

"Boleh aku bertanya, Mas?"

"Bersikap biasa saja, jangan seperti kamu ini takut padaku. Apa yang ingin kamu tanyakan, katakan saja."

"Karena orang tua kita ingin kita dekat, apa Mas tidak memiliki kekasih? Maksudku wanita yang dekat dengan Mas sekarang. Aku tidak ingin melukai seseorang karena aku dekat dengan Mas, maksudku mengenal, Mas."

"Apa kamu tau statusku? Atau kamu juga tidak tau tentang diriku? Nanti apa kamu tidak terkejut, aku tidak ingin berbohong, jadi aku akan berkata jujur. Aku juga mau hal sebaliknya darimu." Kenapa Jenar merasa tegang dengan apa yang Damar akan jawab, padahal ini bukan tentang besok mereka akan menikah hanya tidak ingin ada kebohongan satu sama lain.

"Aku sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun karena aku tidak laku. Siapa yang mau dengan duda sepertiku." Damar menjelaskan dengan senyum manis itu lagi, dia tidak ingin membuat Jenar malah tegang ataupun gugup.

"Duda?" tanya Jenar canggung.

"Ya, aku duda. Jika itu membuatmu tidak nyaman, maka tidak perlu dipaksakan. Aku dudu tanpa anak kok."

Jenar hanya mengangguk pelan setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan. "Lalu seperti yang kamu tanyakan, bagaimana denganmu?"

"Aku juga tidak sedang dekat dengan siapapun, aku masih ingin fokus dengan karirku."

"Kalau begitu tentang pasangan kita sama-sama tidak memiliki. Lalu alasan apa yang membuatmu mau bertemu denganku? Ketika kamu bisa menolaknya? Apa kamu tidak akan menyesal dijodohkan dengan seorang duda?"

Jenar diam, dia saja dipaksa sang mama untuk menerima pertemuan ini. Bagaimana dia bisa menjawab apa yang Damar tanyakan?

— Akhir Chapter —