"Memangnya kamu mau dijodohkan dengan duda sepertiku?" tanya pria berparas tampan itu. Mereka sungguh asyik berbincang berdua di sana. Apalagi Mama Jenar memaksa agar dirinya bisa bertemu dengan putera temannya.
"Aku tidak pernah menolak apa yang mamaku mau. Karena apa yang dia katakan menurutku sebagai keharusan, jadi aku mau menemui Mas walau itu bukan kemauanku. Bagaimana dengan Mas," jawab Jenar sambil melontarkan kembali pertanyaan yang sama.
"Jujur aku masih tidak ingin dekat dengan wanita karena aku juga ingin mengejar karirku. Ini juga kemauan orang tua, dan juga kakakku. Mereka akan sangat berisik ketika melihatku menua dengan kesendirian. Apa kamu tau jika kita ini didekatkan untuk menikah?"
"Aku tau, tapi jika kita tidak cocok, haruskah kita memaksa hati kita. Setidaknya aku menuruti mama untuk bertemu dengan Mas, urusan itu bagaimana nanti saja. Apalagi kita baru ketemu, aku belum mengenal Mas lebih jauh."
"Benar juga, tapi kata mereka, aku harus mau denganmu bagaimana pun caranya. Apa tidak masalah aku yang memiliki kenangan masa lalu akan kegagalan ini dekat dengan wanita cantik sepertimu?" Dari sikapnya, pria di hadapan Jenar terlihat baik, namun itu bukan berarti Jenar bisa menilai sekilas apa yang baru dia lihat.
Jenar diam, dia bingung ketika hatinya mau. Dia belum mengenal Damar, dia juga tidak paham bagaimana pria tampan itu bersikap. Jenar berhati-hati karena dia pernah gagal dan membuatnya takut untuk mengulangi perasaannya lagi karena sikap kasar kekasihnya dulu.
"Aku percaya apa yang Mama pilihkan untukku itu baik, tapi aku tidak bisa memaksakan diri." Dari jawaban Dokter cantik itu, dia tidak menolak, namun juga tidak menerima.
"Kita jalani saja dulu, tidak perlu gegabah menjawab pertanyaanku. Bagaimana nanti saja, jika kita cocok dan berjodoh maka kita akan menjadi satu. Sebaiknya kita habiskan makan malam ini. Maaf aku tidak bisa lama, karena ada janji dengan seseorang, lain waktu kalau tidak sibuk, kita atur ulang pertemuan kita."
"Baik, Mas. Bagaimana Mas saja, pasti Mas sangat sibuk." Jenar ingin sekali bertanya banyak hal, namun waktu mereka tidak banyak.
Seperti yang Damar katakan, jika dia ada janji dengan seseorang. Dia segera mengantarkan Jenar pulang setelah makan malam.
"Aku di sini juga baru bertugas, jadi belum tau banyak tempat di daerah ini, maaf jika aku mengajakmu ke tempat makan seperti tadi. Lain kali aku akan mencarinya yang lebih indah."
"Tadi tempatnya juga indah kok Mas."
"Aku rasa sejak tadi kamu masih canggung padaku. Bukankah seoranh Dokter pandai sekali bicara, maksudku—"
"Aku masih syok saja, ternyata Mas yang membantuku semalam yang Mama kenalkan. Jika tau seperti itu, tadi aku tidak menyia-nyiakan waktu untuk tidur. Maaf tadi membuat Mas menunggu, walau aku tidak ingin menolak permintaan Mama, kadang aku lelah saja saat Mama terus memaksaku menikah. Bukankah menghilangkan trauma itu tidak selamanya dengan menikah."
"Benar juga, tapi apa mereka paham itu. Yang mereka mau kita saling kenal satu sama lain dan menikah. Memangnya jika kamu memiliki suami abdi negara akan siap dengan konsekusinya? Saat suamimu menjalankan tugas, kamu bisa ditinggal lama." Seperti sedang membicarakan dirinya di masa lalu, Damar ingin tau pendapat Jenar.
"Aku memiliki prinsip, apa yang sudah aku pilih, aku akan genggam walau itu sakit. Dan bodohnya aku melakukan itu di kisah percintaanku sebelumnya, berakhir aku terluka batin dan fisik."
"Maksudnya, apa kekasihmu pernah menganiaya dirimu?" tanya Damar dengan tatapan terkejut.
"Kurang lebih begitu, dia selalu melampiaskan kekesalannya padaku. Harapanku saat ini semoga tidak mendapatkan pria seperti itu lagi."
Mereka berdua sama memiliki cerita yang kelam dalam percintaan, tapi Jenar ingin coba membuka hatinya lagi. Apalagi pada pria setampan Damar, siapa yang akan menolaknya. Sudah tampan, berwibawa dan sukses. Semoga ini menjadi hal baik untuk mereka.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Mas." Sesampainya di depan rumah, Jenar langsung turun mobil Damar dan pamit.
"Sama-sama, senang bisa berkenalan denganmu. Lain waktu kita atur ulang pertemuan kita. Kalau begitu aku tinggal dulu, selamat istirahat."
— Akhir Chapter —