“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Rojali sembari memindai keadaan. Ia mulai mencium gelagat tak beres.
Mengelilingi kampung dengan kondisi masuk angin tentu membuat kepala Rojali kian pusing, terlebih ia berusaha menyemai jawaban dari kondisi desa. Di pesantren, ia menunggu Kiai hingga dua jam. Setelah bertemu, pemuda itu harus berbasa-basi lebih dahulu dengan sang pemilik pesantren. Tak elok rasanya jika berbicara langsung pada inti masalah.
Rojali menghela napas panjang, kemudian masuk ke rumah untuk mengganti baju dan mengganjal perut dengan ubi rebus. Setelahnya, pemuda itu bergegas menuju kediaman Pak Dede yang berada di tengah Kampung Cimenyan. Tampilan rumahnya mencolok karena kebanyakan kediaman warga masih berupa panggung.
“Pak Dede,” panggil Rojali setelah mengucap salam.
Rojali mengetuk hingga beberapa kali. Pemuda itu akhirnya memutuskan pergi setelah tidak melihat tanda-tanda penghuni rumah akan membuka pintu. Ia kemudian berkunjung ke rumah Pak Yayat. Beruntungnya, kediaman pria paruh baya itu tak jauh dari tempat Pak Dede.
Ketika motor menepi di halaman rumah yang dituju, angin tiba-tiba menerjang. Hawa dingin yang hadir berhasil membuat bulu kuduk Rojali berdiri. Pemuda itu tercenung beberapa saat, lantas bergegas mengetuk pintu.
“Sebentar.” Terdengar sahutan dari dalam.
Pintu lantas terbuka, menampilkan sosok pemilik rumah. Pak Yayat mengamati Rojali dari atas hingga bawah, kemudian berujar, “Semua sudah menunggu di dalam.”
Rojali yang bingung hanya mengikuti Pak Yayat ke ruang tengah. Ia melangkah dengan hati-hati sebab alas rumah ini adalah papan kayu. Saat di dalam, sudah ada beberapa tokoh masyarakat yang ikut dalam pertemuan di desa tadi.
“Alhamdulillah, Ustaz Rojali sudah datang,” ucap Pak Dede bersamaan dengan Rojali yang duduk di samping Pak Yayat. Mata sinisnya beraksi.
“Punteun, motor saya mogok di tengah jalan,” kata Rojali sembari memandangi satu per satu orang yang hadir. “Tadi saya ke rumah Pak Dede dulu sebelum datang ke sini.”
“Untuk apa?” tanya Pak Dede. Nada bicaranya sengaja dibuat ramah, padahal semua orang tahu kalau itu hanyalah sandiwara. Sudah rahasia umum kalau Pak Dede iri dan dengki pada Rojali. Alasannya karena pendapat Rojali lebih sering didengar dibanding dirinya yang seorang kepala desa.
“Bukannya kami sudah menyampaikan pesan untuk berkumpul di rumah saya?” Pak Yayat bertanya.
“Pesan? Pesan apa?” Alis tebal Rojali menekuk, menimbulkan kerutan di dahi.
“Pesan yang kami sampaikan,” timpal Aep yang tengah meniupi ubi rebus di tangan.
“Saya benar-benar tidak paham,” ungkap Rojali dengan dahi mengerut.
Kumpulan pria yang tengah duduk melingkar itu kompak menghentikan aktivitas sesaat, lantas menjadikan Rojali sebagai pusat perhatian.
“Punteun, di mana jenazah Mbah Atim sekarang?” tanya Rojali setelah beberapa saat hening, “setengah jam lalu saya melihat mobil polisi dan ambulans keluar dari desa.”
Aep menepuk dahi ketika tak sengaja menjatuhkan ubi. Sialnya, hidangan yang baru setengah ia makan itu malah mendarat ke gelas kopi. Ini karena ia kaget mendengar penuturan Rojali.
“Insyaallah sebentar lagi para santri dari kabupaten akan tiba. Biar saya dan para santri yang akan memandikan jenazah. Selebihnya bapak-bapak bisa ikut mengafani dan menyalati jenazah,” jelas Rojali, “lalu masalah pemakamannya bagaimana? Sudah siap? Punteun pisan kalau ketiadaan saya tadi sore merepotkan bapak-bapak.”
Pak Yayat tiba-tiba terbatuk. Pak Iwan lantas menyodorkan segelas air untuk pria itu minum. Cukup lama batuk terdengar, terlebih hening kembali mendekap saat mendengar penuturan Rojali.
“Ustaz mah ngabodor (becanda) saja.” Aep yang pertama kali merobek keheningan sekaligus ketegangan.
“Bukannya Ustaz sengaja datang telat supaya tidak ikut mengurusi jenazah?” Pak Dede tersenyum sinis.
“Maksud Pak Dede?” tanya Rojali.
Pertanyaan barusan menguap bersama ketukan yang terdengar dari arah depan. Pak Yayat segera bangkit, lantas mengintip keadaan luar melalui celah tirai. Tatapan sayunya segera tertuju pada Rojali, seakan meminta pertolongan.
Pintu akhirnya dibuka. Rojali segera mendekat pada Pak Yayat. Tujuh orang santri tengah berdiri di perkarangan rumah. Tak jauh dari mereka, sebuah mobil terparkir di sisi jalan.
“Alhamdulillah, kalian sudah sampai.” Rojali menyunggingkan senyum, lantas menoleh pada penghuni rumah.
Namun, tak ada yang membalas senyum satu pun. Semuanya bisu, tak bergerak dari tempat semula. Kegelisahan dan ketakutan segera menjalar ke setiap paras. Pak Yayat bahkan tak sanggup lagi berdiri hingga tubuhnya melorot dan terduduk di lantai.
Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi?
Pak Yayat yang sudah bisa menguasai diri meminta para santri masuk ke dalam rumah, lalu bergabung dengan obrolan. “Apa benar mereka ini semua santri, Ustaz?” tanyanya memastikan.
Rojali mengernyit sebelum mengangguk. “Ada apa sebenarnya ini, Pak? Saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan.”
“Saya teu percaya mereka santri!” sentak Pak Dede, “pasti ini akal-akalan kamu, Rojali! Ngaku kamu!”
Mata yang memelotot dan telunjuk yang teracung ke depan membuat orang-orang memperhatikan Pak Dede lekat-lekat. Ramah tamah pura-puranya terganti dengan sifat ketusnya.
“Mereka semua pasti suruhan kamu!” lanjut Pak Dede.
“Mereka benar-benar santri, Pak Dede,” balas Rojali tenang, tak ingin terpancing.
“Kalau mereka memang benar-benar santri, lalu siapa yang memandikan dan menguburkan jenazah Mbah Atim tadi sore? Preman?” sentaknya.
“Jenazah sudah dimakamkan?” Rojali terperanjat sampai mata sipitnya terbuka lebar. Jujur saja, ia tak pernah merasa seterkejut ini sebelumnya. “Bagaimana mungkin? Padahal saya melihat mobil polisi dan ambulans sebelum pergi ke sini. Saya teu bohong.”
“Jenazah sudah datang saat sore, Ustaz,” ungkap Aep. Ia tak berselera lagi dengan hidangan yang tinggal setengah. “Saat saya, Pak Yayat, dan Pak Harun menunggu kedatangan Ustaz di pos ronda, ada enam orang berpakaian santri datang dengan mobil. Tak lama kemudian, mobil polisi dan ambulans datang.”
“Benar yang dikatakan Aep, Ustaz.” Pak Harun menambahkan. “Mereka mengaku sebagai santri dari kabupaten. Mereka juga yang mengurusi jenazah Mbah Atim dari memandikan, mengafani, menyalatkan hingga menguburkan.”
Rojali mengubah posisi duduknya, lantas bertanya, “Lalu bapak-bapak?”
“Kami semua tidak terlibat mengurusi jenazah,” timpal Pak Yayat, “hanya saja saat kami ingin ikut menyalatkan, mereka justru melarang.”
“Astagfirullah.” Rojali mengepal kedua tangannya di atas paha.
Keheningan kembali bertahta. Untuk beberapa detik setelahnya, hanya suara dengkuran ayam dan serangga malam yang saling bersahutan. Kumpulan pria itu hanya saling membalas asap rokok dan embusan napas panjang.
“Kami benar-benar santri. Kami datang terlambat karena harus menunggu izin Kiai terlebih dahulu. Selain itu, Kang Rojali memberitahu kami kalau motornya mogok saat di kecamatan,” beber seorang santri.
“Bukannya Ustaz lewat Legok Kiara?” Pak Harun bertanya.
Rojali menggeleng.
“Tapi kata santri yang mengurusi jenazah Mbah Atim, katanya Ustaz lewat ....” Suara Pak Harun memelan sebelum akhirnya menghilang.
“Jadi kalau mereka santri dari pesantren, lalu siapa orang-orang yang mengurus jenazah Mbah Atim tadi?” tanya Pak Yayat, “saya takut kalau mereka tidak mengurus jenazah sesuai syariat.”
“Itu juga yang saya khawatirkan.” Rojali menunduk seraya terpejam. Kepalanya seakan ingin pecah. Ya Allah, ia akan merasa bersalah kalau itu benar-benar terjadi. Pemuda itu juga akan sangat malu pada Kiai.
“Ini semua salah kamu, Rojali!” hardik Pak Dede dengan telunjuk terhunus pada wajah Rojali. “Kalau saja kamu tidak mengusulkan untuk meminta bantuan ke pesantren dan memilih untuk mengurusi jenazah itu sendiri, hal ini tidak akan pernah terjadi. Sekarang, warga ketakutan gara-gara maneh (kamu)!”
“Sebenarnya kasus pembunuhan itu yang membuat takut warga, Pak Dede,” bantah Pak Yayat.
“Saya usul untuk membongkar makam Mbah Atim besok.” Rojali menyarankan.
“Gila kamu!” Pak Dede menggeleng. “Siapa yang sudi!”
“Saya dan para santri akan melakukannya. Bagaimana?” Rojali meyakinkan.
Sahutan menjadi hal yang tak terdengar setelah ide itu muncul ke permukaan. Hanya saja Rojali tahu kalau diamnya mereka adalah sebuah persetujuan.
“Lalu di mana orang-orang yang mengaku santri tersebut sekarang?” tanya Rojali setelahnya.
Pertanyaan itu nyatanya berbalas suara cukup keras yang tiba-tiba terdengar. Aep yang setengah tidur sampai melonjak kaget. Ia buru-buru membuka jendela, kemudian mengedarkan pandangan ke luar.
“Aya naon, Ep?” tanya Pak Harun.
“Batang pisang jatuh.” Aep kembali duduk.
Tidak ada pertanyaan lanjutan setelahnya. Akan tetapi, andai saja Aep lebih teliti dan berniat mencari tahu lebih dalam, kemungkian ia akan merasa sedikit curiga pada kolong rumah di mana seseorang sedang mati-matian menahan bau ayam agar tak ketahuan.
Di tengah pekatnya malam, seseorang tengah berdiri di depan sebuah pusara. Tak ada nisan bertulis nama yang tertancap di sana, yang tampak hanya gundukan tanah merah tanpa taburan bunga. Makam yang berada di bawah pohon beringin dekat gubuk itu nyatanya adalah kuburan sang penjaga makam. Letaknya terpencil dari pusara yang lain.
Angin berembus cukup kencang, menerpa kain hitam yang melilit sosok itu. Ia lantas meninggalkan makam, bukan dengan cara berjalan, melainkan dengan cara melompat.
Di salah satu rumah penduduk, Asep, orang yang pertama kali melihat jenazah Mbah Atim, tak bisa tidur. Sejak pagi, badannya mendadak demam. Setiap kali pria itu menelan makanan, ia akan memuntahkannya kembali. Bayang jasad tanpa kepala itu bercokol kuat dalam benak.
Asep melirik istri dan anaknya yang tampak tertidur pulas. Dengan perlahan, ia turun dari kasur karena tak ingin membangunkan keduanya. Hawa dingin terasa menusuki tulang ketika ia beranjak ke luar rumah untuk pergi ke kamar mandi.
Asep tak sendiri. Nyanyian kodok, aliran air dan serangga menemani hajatnya. Selesai di kamar mandi, pria itu kembali ke kamar. Ia peluk istrinya dengan begitu erat. Setelah itu, Asep tertidur tanpa menyadari jika di kamar sebelah sang istri tengah mencarinya.
- Akhir Chapter -