Mobil yang Rojali dan para santri naiki tengah melumat jalanan perkampungan. Akses jalan yang buruk membuat kendaraan bergoyang beberapa kali. Tak ada yang berbicara semenjak si kuda besi melaju. Dari tempatnya duduk, pemuda itu melihat bila cahaya lampu dari rumah warga mulai menghilang.
Rojali menyandarkan punggung ke kursi. Sesekali pemuda itu memijat kepala. Sungguh, ia akan sangat malu bila sampai Kiai mendengar berita ini. Karena ketidakberdayaannya, masalah ini bisa terjadi.
“Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, Kang,” ucap santri yang tengah mengemudi, “menurut saya, Kang Rojali sudah berjuang sebisanya.”
Rojali mengembuskan napas berat, lantas mengangguk. Pemuda itu segera memakai peci begitu mobil menepi di gerbang pekuburan.
Rojali dan rombongan santri mulai menapaki kawasan kuburan. Saat sampai di lokasi, Pak Yayat, Pak Harun, Aep serta beberapa aparat desa sudah berada di sana lebih dahulu.
“Apa kita bisa mulai, Ustaz?” tanya Pak Yayat. Dua orang penggali makam berdiri tak jauh darinya.
“Lebih baik kita tunggu Pak Dede serta aparat kepolisian dulu, Pak,” saran Rojali. Ia menyisir sekeliling. Dari arah tangga, tampak Pak Dede serta dua orang polisi baru saja tiba.
Cangkul seketika mengorek tanah begitu Pak Dede dan polisi memberi tanda. Tak ada berani yang berbicara hingga setengah badan dua orang penggali makam itu tertanam di lubang kuburan. Papan kayu mulai dikeluarkan, dan hal itu membuat suasana kian mencekam.
“Astagfirullah!” teriak dua penggali kubur tiba-tiba.
Semua orang yang ada di sekitar makam sontak tersentak kaget. Tanpa dikomando, mereka mundur beberapa langkah. Pak Harun bahkan sampai terjatuh. Secara mendadak, dua penggali kuburan itu merayap ke atas, melempar cangkul sembarang. Tanpa memedulikan apa pun, mereka lari pontang-panting meninggalkan tanah pemakaman. Persetan dengan bayaran.
“Aya naon?” Pak Dede berteriak. Kumisnya bergerak-gerak selaras dengan kakinya yang mulai tak nyaman menginjak tanah kuburan. Matanya bergerak gelisah seiring dengan bulu kuduknya meremang.
Kuburan sudah menganga lebar. Potongan papan sebagian jatuh kembali ke dalam. Entah dari mana tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing.
“Saya akan periksa.” Rojali berinsiatif, lantas meminta salah seorang santri untuk ikut turun. Pemuda itu menekan kuat-kuat ketakutan, beristigfar setiap kali embusan napas beradu dengan udara sekitar.
Tubuh yang sempat menjauh, perlahan mendekat karena ditarik penasaran. Beberapa pasang mata saling menumbuk, berbagi kecemasan. Kaburnya si penggali makam bukan hanya meninggalkan ketakutan, tetapi turut serta meninggalkan pertanyaan, siapa yang akan menutup kembali makam?
Rojali dibantu salah seorang santri menyingkirkan papan yang berjatuhan. Tangannya tiba-tiba tertahan di pertengahan. Beberapa kali ia meneguk saliva, menekan ketakutan dalam-dalam. Tepat saat lolongan anjing kembali terdengar, ia nyatanya mendapat sebuah kejutan. Santri yang bersamanya lebih cepat menyadari, kemudian melompat keluar dari makam.
“Astagfirullah.” Rojali terperanjat. Punggungnya terdesak ke ujung kuburan hingga tanah di atasnya jatuh ke dalam liang lahat. Ingin mundur, tetapi sudah kepalang tanggung. Alhasil, untuk beberapa detik lamanya ustaz muda itu hanyut dalam keterkejutan di lubang kuburan.
“Aya naon, Ustaz?” Pak Harun gelisah.
Rojali merapikan kembali papan, lantas naik ke permukaan tanpa repot-repot memeriksa jenazah lebih detail. Matanya menyisir pandangan, memakai kembali peci yang sempat terjatuh saat naik dengan kondisi tubuh gemetar. “Jenazah Mbah Atim ... hilang,” ujarnya terbata.
“Hilang?” Semua orang serempak memastikan. Bersamaan dengan itu, pintu gubuk tiba-tiba terbuka. Suaranya cukup keras hingga perhatian warga teralih.
Rojali mengembus napas panjang. Keringat yang mengucur segera ia sapu dengan lengan baju. “Saya ... hanya liat batang pisang terbungkus kain kafan.”
“Ya Allah ....” Pak Yayat rebah di tanah. Pria tua itu pingsan.
Aep dan Pak Harun menepuk pipi Pak Yayat beberapa kali.
“Jangan ngabodor (becanda) kamu, Rojali!” sentak Pak Dede. Emosi membawanya turun ke liang lahat. Saat tangan menyibak papan, bongkahan batang pisang tiba-tiba berbalik. Sontak saja kepala desa itu menjerit. Tangannya teracung-acung di udara, berteriak minta tolong seperti orang tenggelam di sungai.
Pak Dede naik dengan napas terengah. Matanya memelotot dengan keringat bercucuran. “Tutup! Tutup!” perintahnya kemudian. Pria itu memutar tubuh, kemudian menjauh dari kuburan. “Saya ... masih ada urusan di desa,” dalihnya.
Beberapa orang langsung mengikuti pergerakan Pak Dede, termasuk dua polisi yang tengah menyejajarkan langkah dengan si kepala desa. Pistol yang bersarang di pinggang bergerak-gerak seiring langkah yang tergesa-gesa. Senapan laras pendek itu ciut, sama persis dengan nyali si pemilik.
“Gila!” Pak Dede setengah berteriak. Derit jembatan tak sekencang langkah yang saling menyusul. “Gila!” Tangannya teracung-acung di udara.
Rojali dibantu para santri memapah Pak Yayat yang telah sadar. Liang lahat sudah tertutup sepenuhnya. Gundukan tanah merah itu dengan cepat dijauhi orang-orang. Tergesa-gesa sekali langkah mereka menuruni tangga.
Mobil membawa sebagian orang menjauh dari Mak Lilin. Rojali sendiri memilih berjalan kaki bersama Aep karena kendaraan tak muat menampung orang. Tak ada obrolan hingga rimbunnya pepohonan berganti menjadi hijaunya persawahan.
“Apa ... benar kalau jenazah hilang?” Aep membenarkan letak sarungnya. Pandangannya sempat tertuju pada kawasan makam, tetapi dengan cepat menoleh kembali ke jalan.
“Benar, Kang Aep,” jawab Rojali, “tapi ... ada hal ganjil lain yang saya liat.”
“Apa itu?” Aep menipiskan jarak, lantas menyisir pandangan ke sekeliling. Persawahan yang biasanya diramaikan aksi cangkul dan lenguhan kerbau, kini hanya menyuguhkan suara gemerencik air.
“Saya ... liat kalau kain kafan yang membungkus jenazah ... warnanya hitam,” jawab Rojali.
- Akhir Chapter -