Ia mencintai Nadia, itu tak perlu dipertanyakan.
Namun entah sejak kapan, ia mulai bertanya-tanya…
berapa lama seorang pria bisa bertahan tanpa pernah benar-benar diperhatikan.
Ketika hendak menyelimuti tubuh sang istri yang sedikit tersingkap, Rama mengerutkan dahi. Ia mendapati perut Nadia memerah—bukan seperti gigitan serangga, melainkan tampak seperti bekas sentuhan seseorang.
Tubuhnya membeku. Jantungnya berdetak tak karuan. Amarah sudah berada di ubun-ubun, namun ia tak tega membangunkan istrinya. Rasa sayang kembali mengalahkan amarah.
“Bekas siapa itu? Ah, mungkin cuma gigitan serangga,” ucapnya, berusaha menepis pikiran buruk yang mulai menguasai kepala.
Rasa kantuknya menghilang, berganti dengan kecemasan dan ketakutan.
Rama bangkit dan berjalan ke arah balkon. Ia duduk di kursi, menyesap rokok, lalu mengembuskan asapnya, seolah berharap masalahnya ikut lenyap bersama kepulan asap itu.
“Gak mungkin Nadia melakukan hal macam-macam. Dia perempuan baik dan setia. Dia juga menyayangiku sejak dulu, bahkan masih bertahan saat kariernya sedang cemerlang,” bisiknya, mencoba menguatkan diri sendiri.
Namun bukannya tenang, kepalanya justru berdenyut hebat. Pikirannya benar-benar mengganggu fokusnya. Perlahan, ia kembali menoleh ke arah kamar tempat Nadia tertidur pulas.
Ia menggigit bibirnya, gelisah. Hasrat yang tak tersalurkan kini ditambah masalah baru: tanda merah yang tak asing bagi siapa pun yang melihatnya.
“Argh!” pekiknya akhirnya. Rama mengacak rambutnya dengan frustrasi.
Angin malam sama sekali tak menenangkannya. Rokoknya sudah habis beberapa batang, namun pikirannya tetap kalut.
Akhirnya ia turun ke bawah. Tenggorokannya terasa sangat haus.
“Ram?” panggil sang mertua, membuat Rama terperanjat kaget. Beruntung ia tak sampai terjatuh dari tangga.
“Astaga, Bu… Rama kaget,” ucapnya.
“Lagian kamu kenapa melamun begitu, Ram? Hati-hati kalau turun tangga sambil melamun, bahaya. Memangnya ada apa?” tanya Alya.
Alya merasa ada yang tidak beres dengan gelagat menantunya. Sejak kedatangannya, ia tak pernah melihat wajah Rama ceria—selalu murung.
Rama terdiam. Ia bimbang, apakah harus menceritakan semuanya atau tidak. Namun jika dipendam sendiri, rasanya terlalu berat.
“Gak apa-apa, Ram. Cerita saja sama Ibu. Anggap Ibu juga ibumu sendiri. Apa ada masalah dengan Nadia?” lanjut Alya, seolah mengerti.
“Kenapa Ibu belum tidur? Ini sudah larut malam,” Rama justru balik bertanya.
Alya tersenyum manis sambil membenarkan kemben yang dikenakannya, membuat Rama beberapa kali menelan ludah.
“Astaga, kenapa mertuaku selalu membuatku panas dingin? Ditambah hasrat yang belum tersalurkan, jadi makin tak karuan,” keluh Rama dalam hati. Beruntung ia mengenakan celana agak longgar sehingga tak terlihat mencolok.
“Ibu juga gak tahu, Ram. Tiba-tiba susah tidur, jadi nonton TV. Eh, lihat kamu turun,” jawab Alya.
Rama hanya mengangguk.
“Rama izin ke dapur ya, Bu. Rama haus.”
“Biar Ibu saja. Kebetulan Ibu juga lapar. Kita makan mi instan yuk,” ajaknya tanpa canggung, seolah ingin mengakrabkan diri.
Rama tak enak hati menolak. Ia pun mengangguk dan mengikuti Alya dari belakang.
Alya memang sangat modis. Ia berpakaian layaknya anak muda zaman sekarang, jarang mengenakan daster. Maklum, ia lama tinggal di luar negeri dan terbiasa dengan gaya hidup barat.
Mengenakan kemben dan celana pendek pada pukul satu dini hari tentu membuat siapa pun yang melihat merasa salah tingkah—termasuk Rama, pria normal yang sudah lama tak mendapat perhatian dari istrinya.
Perasaannya semakin tak karuan.
“Ram, tolong ambilkan mangkuk, sayang.”
Rama yang duduk di meja makan langsung berdiri, mengambil dua mangkuk, lalu menyerahkannya.
“Tolong tuangkan bumbunya ya. Ibu mau buat jus dulu.”
Rama mengangguk tanpa menjawab. Ia berdiri di samping Alya. Aroma parfum yang harum menusuk hidungnya. Tanpa sadar ia menoleh, dan pandangannya langsung tertangkap pada dua melon sang mertua.
“Astaga,” lirihnya sambil memejamkan mata dan memalingkan wajah. 'Berasa uji nyali,' keluhnya dalam hati.
“Apa, Ram?” tanya Alya, sepertinya mendengar gumaman itu.
“Eh, enggak, Bu… enggak,” jawab Rama gugup.
“Nah, sudah jadi. Yuk, makan.”
Di meja makan, mereka menyantap mi goreng dan jus buah naga buatan Alya. Keduanya makan dengan lahap. Jika dilihat sepintas, tak akan tampak seperti hubungan menantu dan mertua—Alya terlihat begitu awet muda dengan tubuh dan kulitnya yang kencang.
“Gimana tadi? Pasti capek ya? Habis berapa ronde nih?” goda Alya sambil terkekeh, melihat Rama makan seperti orang kelaparan.
Rama menggeleng pelan. “Enggak ada ronde-rondean, Bu. Nadia sudah tidur duluan,” keluhnya, mulai berani bicara.
Alya mengerutkan dahi. “Loh, serius, Ram? Padahal tadi Nadia bilang dia sudah mandi susu biar pelayanannya maksimal.”
Rama tertegun. Tangannya yang memegang sendok terhenti. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ingatannya melayang pada tanda merah di perut istrinya.
'Untuk siapa dia merawat tubuhnya? Untuk siapa dia mandi susu?' pikirnya, merasa ada yang janggal.
“Rama...” panggil Alya. "Apa Nadia tidak melayanimu?"
Rama mematung. Mulutnya membuka dan menutup, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Kasihan sekali kamu," lanjut Alya. "Lelaki sepertimu ... seharusnya tidak disia-siakan begitu."
Rama menelan ludahnya. Ia menjadi canggung seketika.
“Sudah, Ram, habiskan dulu makannya. Biar Ibu sekalian cuci,” ujar Alya, mengalihkan pembicaraan. Melihat wajah Rama yang canggung, Alya seolah paham dengan menantunya.
Rama mengangguk cepat dan menghabiskan sisa mi serta jusnya.
Alya bangkit menghampirinya, mengambil piring dan gelas kosong, menatanya dengan rapi. Posisi mereka kini sangat dekat—kepala Rama tepat sejajar dengan dada mertuanya.
Rama menelan ludah berkali-kali. Akal sehatnya mulai goyah.
Malam semakin larut, begitu pula pikirannya yang makin kalut.
Akhirnya ia bangkit dan pamit kembali ke kamar, tak lupa mengucapkan terima kasih karena Alya sudah membuatkan mi yang sangat enak.
Paginya, Rama terbangun dengan perasaan hambar. Ia bahkan tak mendapati istrinya terbaring di sampingnya. Tanpa perlu bertanya, Rama sudah sangat paham ke mana istrinya pergi sepagi itu.
“Sayang?” panggil Rama sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban. Hanya suara gemericik air yang terdengar dari balik pintu.
Mau tidak mau, Rama pun turun ke lantai bawah dengan niat menggunakan kamar mandi di sana. Ia melingkarkan handuk di leher, lalu berjalan santai menuju pintu kamar mandi.
Namun, tepat saat ia hendak memutar knop pintu, daun pintu itu justru terbuka dari dalam.
Ibu mertuanya, Alya, muncul dari balik pintu. Keduanya sontak tersentak kaget.
“Astaga!” seru mereka hampir bersamaan.
- Akhir Chapter -