“Ibu… Bu…” Rama mendadak gagap. Pandangannya sempat sulit dialihkan. Alya hanya mengenakan kimono handuk berwarna merah muda yang masih basah. Rambutnya lembap, dan aroma sabun yang segar membuat Rama merasa canggung sekaligus salah tingkah.
“Aduh, maafin Ibu ya, Ram. Ibu mandi di bawah karena shower di kamar mandi atas nggak nyala,” keluh Alya, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
“Mati, Bu? Sejak kapan? Nanti Rama coba cek ya,” tawar Rama, berusaha bersikap setenang mungkin.
Alya mengangguk kecil. “Ya sudah, Ram. Ibu ke atas dulu. Oh iya, kalau mau sarapan, sarapan duluan saja. Ibu pagi ini nggak ikut karena lagi diet Intermittent Fasting,” ucapnya sambil terkekeh pelan.
Rama tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. “Ibu ini gaul banget, sampai pakai acara diet IF segala,” candanya.
Keduanya sempat tertawa kecil sebelum akhirnya Alya pamit naik ke lantai atas.
*
Di meja makan, Rama dan Nadia duduk saling berhadapan. Suasana begitu hening, seolah mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan berada di ruangan yang sama. Tak ada obrolan hangat, apalagi candaan ringan seperti dulu.
“Nad,” panggil Rama, akhirnya memecah kesunyian.
“Hm?” jawab Nadia singkat, tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.
“Kapan kamu mau memberikan hak Mas?” tanya Rama ragu. Ia hanya ingin meminta haknya sebagai suami yang normal.
Nadia mengerutkan dahi. Ekspresinya langsung berubah tak senang.
“Ya ampun, Mas, pakai minta hak segala. Ini masih pagi, jangan merusak suasana, deh. Kan aku sudah bilang aku capek. Nanti saja kalau sudah nggak capek.”
“Tapi kamu sanggup mandi susu dan perawatan sampai badan sebersih itu. Untuk siapa kalau bukan untuk suamimu?” Rama mulai mengeluarkan unek-uneknya. Selera makannya mendadak lenyap.
Nadia memutar bola matanya malas. “Aduh, Mas, perkara mandi susu saja dibahas. Sudah ah, aku berangkat dulu.”
“Aku antar ya, Nad?”
“Tidak usah. Aku bawa mobil sendiri saja. Lagipula kantor kita juga nggak searah,” tolak Nadia mentah-mentah.
Rama terdiam.
Ingatannya melayang ke masa awal pernikahan mereka. Dulu, Nadia tak pernah pergi ke mana pun tanpa Rama. Bahkan saat pertama kali bekerja, Rama selalu setia mengantar dan menjemputnya. Namun sejak jabatan dan gaji Nadia melampaui dirinya, sikap wanita itu berubah perlahan—hingga kini terasa begitu jauh.
Padahal Rama adalah pria yang tampan. Hidungnya mancung, rahangnya tegas, dan sorot matanya tajam. Tubuhnya yang tegap kerap membuat wanita lain melirik. Namun di mata Nadia, seakan-akan keberadaan suaminya tak lagi berarti.
“Mas, aku berangkat! Bye!” teriak Nadia dari depan, membuyarkan lamunan Rama.
Rama hanya mampu membalas lambaian tangan istrinya dengan senyum getir.
Dengan perasaan jengkel, ia membereskan meja makan lalu mencuci piring. Rama merasa malu jika ibu mertuanya yang terus mengurus rumah. Seharusnya ia dan Nadia yang melayani orang tua, bukan sebaliknya. Namun kenyataannya, jangankan mencuci piring, menyapu lantai pun Nadia sudah tak mau melakukannya.
Sesampainya di kantor, Rama disambut oleh Sinta, rekan kerjanya yang memang terang-terangan menaruh perasaan padanya.
“Hai, Ram! Baru datang?” sapa Sinta dengan senyum menggoda. Rama hanya mengangguk sopan.
“Betah banget sih sama motor lama itu. Nggak mau ganti?” sindir Sinta sambil melirik kendaraan Rama.
“Ini motor penuh perjuangan, Sin. Saksi cinta aku dan istriku. Sayang kalau diganti,” jawab Rama seadanya. Padahal, alasan sebenarnya karena ia memang belum memiliki cukup uang untuk membeli yang baru.
Mendengar jawaban itu, wajah Sinta langsung merengut. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik dan pergi meninggalkan Rama.
“Perempuan zaman sekarang… berani sekali menggoda suami orang,” lirih Rama dalam hati sambil menggelengkan kepala.
Hari ini, Rama mendapat tugas dari atasannya untuk memasarkan unit motor di lapangan. Ia membagikan brosur di pinggir jalan yang ramai, berharap ada calon pembeli yang tertarik.
Di tengah kesibukannya, seorang wanita berpenampilan modis dengan pakaian bermerek mendekatinya.
“Ini brosur penjualan motor?” tanya wanita itu dengan suara lembut.
Rama mengangguk antusias. “Benar, Bu. Kami punya berbagai tipe terbaru. Ibu butuh berapa unit?”
“Saya membutuhkan beberapa motor untuk operasional pegawai saya. Bisa saya bicara langsung dengan atasanmu?”
Tanpa membuang waktu, Rama segera mengantar wanita itu ke kantor. Di sana, mereka bernegosiasi cukup lama hingga akhirnya wanita tersebut mengambil keputusan.
“Baik, saya ambil sepuluh sepedah motor keluaran terbaru.”
Rama tertegun. Khayalan yang sempat terlintas di benaknya pagi tadi kini benar-benar menjadi kenyataan.
Atasan Rama yang merasa puas langsung menepuk bahunya. “Kerja bagus, Rama! Kamu berhak mendapatkan bonus lima puluh juta dari penjualan ini!”
Hati Rama seketika berbunga-bunga. Dengan uang itu, ia bisa mewujudkan impiannya membeli motor baru—dan yang terpenting, menyenangkan hati istrinya.
**
Saat jam istirahat tiba, Rama membuka bekal buatan ibu mertuanya. Alya memang sengaja menyiapkannya karena Nadia tak pernah melakukan hal tersebut.
Sambil makan, Rama segera menghubungi Nadia untuk menyampaikan kabar bahagia itu.
“Halo, Nad. Aku punya kabar baik,” ucap Rama penuh semangat saat sambungan tersambung.
“Apa, Mas? Cepat ya, aku lagi sibuk,” jawab Nadia dingin.
Rama menceritakan keberhasilannya mendapatkan bonus besar. Namun, respons Nadia justru di luar dugaannya.
“Oh, baguslah. Simpan saja buat kamu. Beli motor baru sana, biar nggak malu-maluin aku terus,” ucap Nadia datar.
Suara Rama melemah. “Rencananya aku mau belikan kamu cincin, Nad. Sekalian kita makan malam di luar.”
“Nggak usah. Aku bisa beli cincin sendiri. Makan malam juga aku nggak ada waktu. Sudah ya, aku sibuk. Bye!”
Klik.
Telepon ditutup sepihak. Kebahagiaan Rama seketika sirna. Ia menghela napas panjang, menatap layar ponselnya yang kini gelap.
Meski hatinya terluka oleh sikap dingin sang istri, rasa cintanya tetap bertahan. Baginya, semua ini hanyalah ujian dalam rumah tangganya. Meski banyak wanita berada yang mencoba menggoda, Rama tetap teguh pada prinsipnya sebagai pria setia.
Rama pulang dengan kepala terasa berat.
Pekerjaan, rumah tangga, dan pikirannya sendiri bercampur menjadi satu.
Saat motor nya berhenti di depan rumah, Rama menghela napas panjang sebelum turun. Ia belum siap menghadapi malam—atau siapa pun yang ada di dalamnya.
Pintu rumah terbuka sebelum ia sempat meraih gagang.
Alya berdiri di sana.
Wanita itu tersenyum lembut, mengenakan pakaian rumah yang sederhana, namun entah kenapa terasa berbeda malam ini. Rambutnya di sanggul rapi, memperlihatkan leher nya yang jenjang ,aroma tubuhnya samar namun mengusik.
Rama menelan ludah.
Ia sadar betul—perhatiannya seharusnya tidak tertuju ke sana.
Namun tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum logikanya sempat mengingatkan.
Rama memalingkan wajah, berusaha mengendalikan diri.
“Lesu banget, Ram?” tanya Alya, memecah lamunan rama.
- Akhir Chapter -