Rama tersentak kecil. Ia tak menyangka suara itu akan terdengar begitu jelas di telinganya.
“Gapapa, Bu. Cuma capek saja. Oh iya, aku bawa makanan. Kita makan bareng, ya, Bu. Kebetulan aku dapat bonus di kantor,” ucap Rama berusaha mengalihkan pembicaraan sambil mengangkat plastik berisi box pizza yang lumayan mahal.
Berbeda dengan Nadia, Alya memberikan respons yang sukses membuat Rama merasa dihargai.
“Ya ampun, selamat, sayang. Sini biar ibu tata dulu. Sana kamu mandi dulu. Setelah itu datang ke meja makan, Kita rayakan keberhasilanmu,” ucapnya sambil menepuk kedua bahu Rama.
Keduanya spontan saling bertatapan beberapa menit.
“Kalau di depanku adalah Nadia, mungkin aku nggak akan membiarkan leher itu kosong,” batin Rama spontan saat menatap leher Alya yang polos tanpa perhiasan.
“Cepat mandi, bau nih,” ejek Alya sambil terkekeh kecil, membuat Rama tersenyum tipis. Ia pun melangkah cepat menuju lantai atas.
Namun saat di atas, langkahnya terhenti. Ia berbalik.
“Oh iya, Bu, shower-nya sudah nyala?”
Alya mendongak, lalu menggeleng kecil. Namun gelengan itu justru membuat bagian dadanya ikut bergoyang. Rama menelan ludah kasar. Kenapa mertuanya bisa sesempurna ini? pikirnya.
“Nanti biar aku perbaiki ya, Bu,” ucapnya cepat lalu langsung pergi. Bukan apa-apa, ia takut jika mertuanya mandi di kamar mandi bawah lagi. Biasanya, pagi hari Rama mandi di sana karena kamar mandi atas selalu dikuasai istrinya.
Akal sehatnya tahu itu tidak akan aman jika setiap pagi ia selalu disuguhi pemandangan mertuanya mengenakan kimono. Bagaimanapun juga, ia adalah pria normal yang akan merasa panas dingin saat melihat seorang perempuan montok mengenakan kimono dalam keadaan basah.
Setelah selesai mandi, Rama menoleh ke jam dinding. Ternyata sudah pukul tujuh malam, namun istrinya belum pulang. Padahal ia sudah mengirim pesan untuk makan malam bersama malam ini. Namun jangankan pulang, membuka pesannya saja Nadia tak sempat.
“Hah… sudahlah, mungkin dia sibuk,” ucapnya sambil melangkah turun, mencoba tetap berpikir positif untuk kesekian kalinya.
Walau ingatannya tentang Nadia bersama pria lain dan tanda merah di perutnya seharusnya menjadi bukti kuat, tapi tidak bagi Rama. Baginya, itu mungkin hanya kebetulan—bisa saja ia berhalusinasi, atau mungkin hanya gigitan serangga, walau tak masuk akal. Namun bagi Rama, itu masih mungkin.
Saat ia turun ke meja makan, makanan sudah terhidang rapi. Bukan hanya pizza, ada jus dan makanan lain.
“Kita tunggu Nadia dulu?” tanya Alya saat melihat Rama datang.
Rama menggeleng sambil duduk.
“Nggak usah, Bu. Kayaknya Nadia pulang malam,” jawabnya getir.
Alya mengerutkan dahi.
“Masa sih? Apa kamu sudah bilang kalau kamu dapat bonus dan—”
“Sudah semuanya, Bu. Tapi Nadia masih sibuk katanya,” potong Rama dengan senyum tipis.
Alya menggeleng pelan, semakin iba melihat menantunya.
“Ya sudah, kita rayakan berdua saja ya. Nggak apa-apa, Rama?”
Rama mengangguk.
Alya bangkit, menyodorkan piring pada Rama agar ia bisa memilih makanan.
Hening. Tak ada percakapan. Alya paham betul perasaan menantunya. Momen yang seharusnya bahagia justru menjadi menyedihkan karena sang istri sama sekali tak memberi respons atau apresiasi, bahkan menolak hadiah yang akan Rama belikan.
“Ram, biar sama tukang saja ya yang benerin shower-nya. Kasihan kamu, pulang kerja masih harus benerin,” ucap Alya setelah makan malam selesai.
Rama menggeleng.
“Gapapa, Bu. Rama nggak capek kok. Sekarang saja aku benerin ya.”
Tanpa menunggu jawaban, Rama menuju lantai atas ke kamar mertuanya.
Rama sibuk memperbaiki shower. Ia memang terbiasa dan berbakat memperbaiki banyak hal.
Alya masuk ke kamar mandi berniat memberikan minum pada menantunya, namun siapa sangka ia terpeleset.
“Ahk!”
Alya terjatuh. Rama kaget setengah mati. Ia langsung berbalik, mengangkat tubuh mertuanya, membopongnya ke kasur.
“Aduh, Bu, ini terkilir,” ucap Rama cemas. Alya meringis, rasa sakit menjalar di kakinya.
Rama menahan gejolak saat melihat paha mertuanya yang putih dan mulus, terlihat begitu berisi.
“Boleh Rama izin pegang, Bu? Rama bisa ngurut,” ucapnya sopan.
Alya mengangguk cepat. Ia tak tahan rasa nyeri.
Rama berjongkok, menyejajarkan posisinya dengan kaki Alya yang sedang cedera. Jemarinya yang kokoh menggenggam pergelangan kaki sang mertua dengan mantap. Dalam satu gerakan cepat dan terukur, ia menyentak kaki itu ke arah kanan untuk mengembalikan posisi uratnya.
"Akh, Rama!" teriak Alya melengking. Rasa sakit yang mendadak membuat kaki satunya refleks terbuka lebar. Karena hanya mengenakan rok pendek, gerakan spontan itu praktis menyingkap apa yang seharusnya tersembunyi.
Pandangan Rama terkunci. Napasnya tertahan di tenggorokan saat ia melihat langsung area sensitif mertuanya yang tampak penuh dan menonjol di balik kain tipis itu. Rama menelan ludah dengan susah payah, dadanya bergemuruh hebat menyaksikan pemandangan yang begitu menggoda naluri lelakinya.
Sementara itu, Alya masih memejamkan mata erat, merintih pelan menahan sisa nyeri yang menjalar. Ia tidak menyadari bahwa posisinya saat ini telah membakar gairah menantunya.
Darah Rama berdesir kencang. Ada dorongan liar di dalam dirinya untuk maju dan mencicipi keindahan yang terpampang di depan mata. Namun, setitik kesadaran yang tersisa segera menampar logikanya.
"Ini salah..." lirihnya dalam hati.
Dengan gerakan canggung, Rama segera bangkit dan melangkah mundur. Ia berusaha menutupi bagian depan celananya yang mulai terasa sesak dan menegang hebat.
"Em, Bu... itu... posisinya sudah saya perbaiki. Tunggu sebentar, saya ambilkan air minum supaya Ibu lebih tenang. Besok juga pasti sudah sembuh," ucap Rama terbata-bata. Tanpa menunggu jawaban, ia bergegas keluar dari kamar dengan langkah seribu.
Alya mengerjap, sedikit bingung melihat sikap menantunya yang tampak terburu-buru. "Kenapa dia?" pikirnya heran. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum tipis. "Menantu yang sangat baik. Dia pasti cemas sekali melihatku kesakitan tadi.
Di luar kamar, Rama bersandar di dinding sambil terengah-engah seolah baru saja berlari maraton.
Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, berusaha keras meredam gejolak yang nyaris meledak.
"Ini harus segera disalurkan," geratunya kesal. "Aku harus bicara pada Nadia. Sudah terlalu lama dia membiarkanku 'menganggur' seperti ini."
Rama merasa frustrasi. Hasrat yang tidak tersalurkan pada istrinya membuatnya menjadi sangat sensitif dan mudah terpancing, terutama setelah melihat godaan yang tidak disengaja dari ibu mertuanya sendiri.
Rama bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir di kamar.
Namun tubuhnya tak bisa dibohongi.
Ia sadar betul, hasrat yang lama terpendam itu membuat pikirannya keruh. Setiap sentuhan kecil terasa berlebihan, setiap perhatian sederhana menjadi bermakna ganda. Dan yang paling mengganggunya—ia tahu, ibu mertuanya sama sekali tidak berniat apa-apa.
Atau setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.
Rama meraih ponselnya, berniat mengalihkan pikiran. Di dalam layar, terdapat notifikasi dari Nadia, mengatakan bahwa ia akan pulang larut.
Ia mengusap wajah kasar, lalu menghela napas panjang.
Saat itulah ia merasa tubuhnya disentuh oleh sebuah sentuhan manja.
Rama menegang seketika.
“Rama…?”
Ia berbalik badan dan melihat Alya di sana.
Jantungnya berdetak lebih keras dari yang seharusnya, seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Rama menelan ludahnya. Pemandangan Alya yang mengenakan gaun tidur pendek yang transparan sama sekali tidak membantu Rama menenangkan diri di bawah sana.
Sementara itu pandangan mata Alya berubah. Wanita cantik itu melirik bagian bawah tubuh Rama yang kini sudah terlihat semakin menonjol.
Bukannya mengalihkan pandangannya, Alya malah mendekat dan membuat napas Rama tercekat.
“Rama…,” bisik Alya.
Tanpa Rama sangka, Alya mendaratkan tangannya di atas milik Rama yang begitu keras. Meski dibalut celana, Rama tetap meringis sambil terperanjat. “Bu…!”
“Ibu bantu, ya, Rama?”
- Akhir Chapter -