Nadya menoleh dan membuat wajah jahil ke arah Harvey. "Wanda salah paham lagi! Aku akan segera menjelaskan semuanya padanya!"
"Tak perlu dijelaskan, dia terlalu sensitif."
Wajah Harvey tetap dingin. Pandangannya jatuh pada setengah potong kue ulang tahun yang ditinggalkan Wanda. Alisnya berkerut sedikit.
Dengan keputusan tegas Harvey, orang-orang di sekitar pun merasa lega.
Wanda pergi dengan marah. Memangnya itu masalah besar?
Yang lain ikut menimpali, "Kak Wanda cuma marah sebentar. Nanti kalau Harvey pulang dan menenangkannya, semua pasti beres."
"Iya, mana mungkin dia benar-benar mau cerai? Semua orang tahu Wanda hampir mengorbankan nyawanya demi melahirkan anak untuk Harvey."
"Mungkin begitu keluar pintu, dia sudah menyesal!"
"Ayo, ayo, makan kue! Nanti pas Harvey pulang, pasti Wanda sudah berdiri di depan pintu, menunggu suaminya pulang!"
Wajah Harvey agak melunak. Dia bisa membayangkan Wanda berdiri ragu-ragu di depan pintu, menunggu dan berusaha menyenangkannya.
Jojo menikmati kue yang dibawakan Nadya dengan lahap. Krim memenuhi mulutnya, lidahnya mulai agak mati rasa, tapi dia tak peduli.
Rasanya makin luar biasa karena ibunya tidak bisa mengontrolnya lagi.
....
Setelah pesta ulang tahun berakhir, Harvey duduk di dalam mobil dengan mata terpejam, menikmati ketenangan. Cahaya dari luar jendela sesekali menerpa wajahnya.
"Papa! Badanku gatal!"
Suara Jojo terdengar pelan seperti anak kucing.
Harvey membuka matanya dan menyalakan lampu di atas kepalanya. Dia melihat wajah kecil Jojo memerah, tangannya terus menggaruk-garuk tubuhnya, dan napasnya terengah-engah.
Harvey segera meraih tangan Jojo dan melihat ada ruam merah di lehernya.
Jojo mengalami alergi.
Ekspresi Harvey tetap tenang. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Wanda.
Telepon tersambung, dan ketika dia baru saja akan berbicara, terdengar suara dari ujung telepon.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Mata Harvey memicing tajam. Anak mereka mengalami alergi, tapi Wanda tidak peduli?
"Percepat laju mobilnya, kembali ke rumah!" perintahnya pada sopir.
Dia segera membawa Jojo pulang.
Tanpa sadar, matanya melirik ke arah pintu masuk. Kosong. Wanda tidak seperti biasanya, berdiri menunggunya di sana.
Bu Warti segera menghampiri dan melihat Jojo yang terus mengerang pelan. "Den Jojo, kenapa ini?"
"Alergi."
Harvey melepas sepatunya dan menjawab singkat.
"Kok bisa alergi? Biasanya Ibu sangat ketat mengawasi makanan Den Jojo."
"Di mana Wanda?" Harvey bertanya sambil berjalan ke ruang tamu sambil menggendong Jojo dalam pelukannya.
"Bu Wanda dan Non Sasha menginap di rumah orang tua Bu Wanda malam ini."
Raut wajah Harvey makin dingin. Di saat seperti ini, dia masih mau bersikap kekanak-kanakan?
Apa dia pikir, jika dia pergi, Harvey akan memohon agar dia kembali?
"Di mana obat alerginya?"
Suara Harvey terdengar datar, tetapi cukup membuat Bu Warti merasa tertekan.
"Saya ... saya nggak tahu, Pak."
Bu Warti menjawab dengan spontan, lalu mendapat tatapan tajam dari Harvey.
Dia menciut ketakutan dan buru-buru menjelaskan, "Semua obat diurus sama Bu Wanda."
Dulu pernah ada kejadian di mana Bu Warti lalai menyimpan obat, dan Jojo serta Sasha mengira itu permen. Untungnya yang mereka makan hanya vitamin, sehingga tidak terjadi hal serius. Namun, Wanda memarahi Bu Warti habis-habisan.
Saat Bu Warti mengadu pada Bu Mitha, justru Wanda yang dimarahi balik oleh ibu mertuanya itu. Sejak saat itu, dia tidak memperbolehkan Bu Warti menyentuh kotak obat lagi.
Satu jam kemudian, dokter keluarga datang dan memberi suntikan pada Jojo. Ruam di tubuhnya pun menghilang.
Jojo terbaring lemah di ranjang kecilnya. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia menahan air matanya agar tidak jatuh.
Harvey berdiri di samping ranjang dengan tangan bersedekap, posturnya tegap seperti pohon pinus.
Aura dinginnya membuat suasana tegang. Tanpa sadar, Jojo memeluk selimutnya erat-erat.
"Papa, jangan bilang ke Kak Nadya kalau aku alergi, ya. Jangan juga salahkan Kak Nadya. Ini semua salah Mama! Dia nggak pernah kasih aku susu. Kalau aku sering minum susu, aku pasti nggak akan alergi lagi."
Harvey tidak menanggapi ucapannya yang kekanak-kanakan. Setelah dokter mengatakan bahwa kondisi Jojo stabil, Harvey pun berbalik meninggalkan kamar.
Biasanya, kalau Jojo sakit, Wanda selalu merawatnya sendiri. Namun sekarang, meskipun Wanda tidak ada, masih ada dokter keluarga yang bisa menangani semuanya dengan mudah.
Harvey merasa lebih tenang dan kembali ke kamarnya.
Sejak Wanda hamil, mereka tidur di kamar terpisah. Tidak ada satu pun jejak keberadaannya di kamar Harvey.
Bagi Harvey dan Jojo, keberadaan Wanda sama sekali tidak penting.
....
Pagi hari.
Seperti biasa, Harvey terbangun tepat waktu. Dia bangkit dan mengulurkan tangan ke meja di samping tempat tidur untuk mengambil gelas air, tapi tidak menemukan apa pun.
Biasanya, Wanda selalu bangun lebih awal dan menyiapkan segelas air garam untuknya.
Raut wajah Harvey menjadi muram. Dia keluar dari kamar dan mendengar suara gaduh dari kamar anak.
Jojo selalu rewel setiap kali bangun tidur pagi dan Wanda perlu waktu lama untuk menenangkannya.
Dengan susah payah, Bu Warti berusaha membujuk Jojo agar mau ke kamar mandi.
Jojo naik ke bangku kecil dan berdiri di depan wastafel.
Dia mengambil sikat giginya, lalu menoleh pada Bu Warti. "Kenapa pasta giginya belum ada?"
Lalu dia mengambil gelas airnya, ekspresinya makin tidak senang. "Kok nggak ada airnya juga?"
"Maaf, Den Jojo!" Bu Warti buru-buru maju, menuangkan air dan menyiapkan pasta gigi.
"Ini bukan pasta gigiku!" Jojo protes.
Pasta giginya harusnya berwarna biru terang dan berkilauan.
"Maaf!" Bu Warti mulai panik. "Biasanya Bu Wanda yang mengurus semua ini."
Saat sarapan, Harvey melihat menu yang sederhana dan langsung memberi perintah, "Buatkan telur Skotlandia."
"Hah?"
Bu Warti terpana.
"Aku juga mau telur Skotlandia," timpal Jojo.
Bu Warti mulai berkeringat dan mengambil ponselnya. "Aku akan menelepon Bu Wanda untuk menanyakan cara buatnya."
....
Pagi-pagi sekali, Wanda terbangun oleh dering telepon.
Padahal dia sudah mematikan alarm yang biasanya berbunyi pukul lima pagi.
Masih dalam keadaan mengantuk, dia mengangkat teleponnya.
"Bu, Bapak dan Den Jojo pengin makan ... apa itu, telur Skotlandia, ya? Saya nggak bisa buatnya."
Wanda mengusap matanya yang masih terasa berat. "Aku kirimkan resepnya."
Bu Warti melihat resep yang dikirimkan Wanda.
Dia langsung terdiam.
Untuk membuat telur Skotlandia, telur harus direbus dulu, kemudian dikupas, dibungkus dengan ayam berbumbu, dilapisi tepung roti, lalu digoreng sampai keemasan.
Di catatan resep, Wanda menulis: [Harvey suka telurnya setengah matang, jadi telur direbus lima menit kemudian digoreng dengan api kecil selama tiga menit.]
[Kalau Jojo suka telurnya matang. Jadi telur direbus delapan menit kemudian digoreng empat menit.]
Bu Warti langsung bertanya, "Kapan Bu Wanda akan pulang? Lebih baik Ibu saja yang buat."
"Aku nggak akan kembali."
"Hah?" Bu Warti terkejut. Suara Wanda terdengar datar di telinganya.
"Mulai sekarang, apa pun yang terjadi di keluarga Ferdian, nggak ada hubungannya lagi denganku. Aku akan mengirimkan semua catatan yang kutulis selama di sana."
"Jangan begitu, Bu Wanda!"
Namun, telepon sudah diputus.
Wanda melirik jam di ponselnya, lalu membalikkan badan, memeluk putrinya, dan kembali tidur.
Bu Warti kembali ke ruang makan dengan wajah lesu. Dengan canggung, dia berkata, "Maaf, Pak. Telur Skotlandia itu terlalu rumit, saya nggak bisa buatnya."
"Kamu sudah menghubungi Ibu?" Suara Harvey terdengar dingin.
"Iya, Bu Wanda sudah mengirimkan resepnya, tapi ...."
"Apa dia bilang kapan akan pulang?"
- Akhir Chapter -