Harvey mengusulkan untuk makan telur Skotlandia, tujuannya adalah agar Bu Warti menghubungi Wanda.
Dia sudah memberi kesempatan pada Wanda untuk keluar dari masalah ini.
"Bu Wanda bilang, dia nggak akan pulang."
"Uhuk!"
Harvey tersedak kopi, dan tak bisa menahan batuknya.
Bu Warti merasa ada yang tidak beres. "Apakah Bapak dan Ibu bertengkar?"
"Jangan banyak tanya!"
Suara pria itu serak, suhu di ruang makan langsung turun beberapa derajat.
Bu Warti menunduk ketakutan, tidak berani lagi berbicara.
Harvey menggenggam erat cangkirnya, bagaimana mungkin Wanda tidak akan pulang?
Saat ini, dia pasti sedang sibuk mempersiapkan makan siang untuk dibawa ke kantor.
Dulu, jika Wanda sudah membuatnya kesal, wanita itu akan dengan sengaja mengantarkan makan siang ke kantornya, mencoba berdamai.
....
Sasha duduk di meja makan, matanya berbinar melihat menu sarapan di depannya. "Wah! Bubur ayam telur pitan!"
Sasha suka sekali dengan bubur ayam telur pitan, sementara Jojo langsung merasa mual jika melihat telur pitan.
Di keluarga Ferdian, Wanda jarang memasak bubur karena Harvey dan Jojo tidak suka.
Bahkan Bu Mitha pernah bilang, itu makanan orang miskin. Orang miskin kekurangan nasi, makanya mereka buat bubur. Di keluarga Ferdian, tiga kali makan sehari harus mengikuti pola gizi yang tepat.
Meski Wanda merasa, bubur yang dimasaknya juga bergizi dan lebih mudah dicerna untuk anak-anak.
Namun, setelah dia menambahkan ayam, telur pitan, dan sayuran, keluarga Ferdian malah mengejeknya. Mereka bilang, itu seperti makanan sisa, terlihat menjijikkan.
Ketika dia khusus memasak bubur ayam tanpa telur pitan untuk Jojo, dan Jojo malah membuangnya ke tempat sampah, dia tidak pernah memasak bubur lagi.
Dia sudah mengajari Jojo untuk tidak membuang makanan.
Jojo berteriak padanya dengan marah, "Ini kan makanan untuk babi! Kenapa Mama kasih sama aku? Mamaku memang kampungan, ya!"
Wanda terdiam sejenak, baru menyadari kalau Sasha sudah menghabiskan bubur ayamnya.
Sasha bersendawa puas, sambil menatap mangkuk yang sudah licin karena dijilat, seperti masih mau lagi.
"Apa hanya di rumah Nenek, kita bisa makan bubur ayam telur pitan?"
Wanda menjawabnya, "Nanti kita makan apa saja yang kita mau, nggak perlu lagi peduli dengan orang lain."
"Kalau begitu, Mama nggak usah masak besok, istirahat saja! Kita bisa makan di restoran!" kata Sasha.
Wanda terdiam. Kebiasaan sebagai seorang ibu membuatnya selalu menyiapkan sarapan untuk putrinya, hingga dia lupa bahwa dalam hidup ini, seharusnya dia menjadi dirinya sendiri terlebih dahulu, baru kemudian menjadi seorang ibu.
"Baiklah." Senyum Wanda bagai matahari pagi yang hangat.
....
Dia mengantar Sasha ke taman kanak-kanak dan melihat mobil Cullinan keluaran terbaru milik keluarga Ferdian terparkir di sana.
Jojo turun dari mobil sambil membawa tas ransel di punggungnya dan Wanda mengalihkan pandangannya.
Jojo melompat-lompat menghampiri Sasha, sambil mengayunkan kantong kertas di tangannya.
"Lihat! Ini permen karet yang dibelikan Kak Nadya untuk aku!"
Jojo mengeluarkan permen karet berbentuk kepala beruang dari kantong kertas, dan memamerkannya. "Ini rasa pistachio dan raspberry!"
Sasha tidak terpengaruh. "Mama bilang, makan terlalu banyak permen bisa menyebabkan gigi berlubang, dan permen karet itu nggak sehat!"
Jojo menjulurkan lidah dan membuat wajah lucu. "Sekarang aku punya mama yang baru! Mama yang lama nggak bisa atur aku!"
Sambil cemberut, dia berkata dengan bangga, "Kak Nadya bilang aku harus bagikan permen karet ini ke teman-teman lain, kecuali kamu, anak gendut!"
Tubuh Sasha memang lebih berisi. Di depan Jojo yang tubuhnya lebih kurus, Sasha terlihat lebih besar.
Dulu, Jojo pernah ditegur oleh Wanda supaya jangan memberi nama julukan pada Sasha, tetapi sekarang, Jojo jadi makin berani.
Sasha menggenggam tali tas punggungnya, matanya mulai basah.
"Jojo, kalau kamu terus begini, Mama benar-benar akan meninggalkan kamu!"
"Justru aku yang nggak mau sama dia! Mama yang cuma bisa masak makanan ternak, siapa yang peduli?!" Jojo membawa kantong kertas itu dan berlari masuk ke sekolah.
Sasha yang begitu marah langsung memungut batu kecil di depan gerbang sekolah, menggertakkan gigi dan menatap punggung Jojo dengan penuh amarah.
Akhirnya, dia meletakkan batu kecil itu kembali.
Sasha menepuk dadanya, mengingatkan dirinya sendiri. "Anak perempuan nggak boleh begitu, harus sabar!"
....
Saat kembali ke kantor, Harvey melihat sebuah kotak bekal tiga lapis yang tampak mewah terletak di atas meja kerjanya.
Sudut bibirnya tersenyum tipis.
Lihat, walaupun hubungan mereka sedang tegang, Wanda tetap membuatkan makan siang dan mengantarkannya ke kantor.
Ponsel Harvey tiba-tiba berdering dan dia segera mengangkatnya.
"Harvey, sudah makan siang belum? Apakah makan siang yang aku buat enak?"
Suara Nadya terdengar di ujung telepon.
"Makan siang ini kamu yang buat?" Ada rasa tidak puas di mata pria itu, yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
"Iya! Kaget 'kan? Ini pertama kalinya aku masak buat kamu. jariku sampai tergores beberapa kali! Memasak itu pekerjaan yang ribet banget, memang bukan untukku!"
Setelah mengeluh, dia mengingatkan Harvey. "Jadi, kamu harus hargai makan siang yang aku buat ini, karena aku nggak bakal masak lagi!"
Suara Harvey terdengar berat, "Aku tahu. Aku harus kembali kerja."
"Hahaha! Ingat ya, kalau lagi sibuk, jangan lupa ke toilet! Hati-hati sakit ginjal!"
Harvey menutup telepon dari Nadya, lalu melihat kotak makan siang di depannya, tidak ada niat untuk membukanya.
Kemudian dia memanggil sekretarisnya. "Apa istriku sudah mengantarkan makan siang?"
"Istri Bapak belum datang ke kantor hari ini."
Wajah Harvey yang tampan, kini diselimuti aura dingin.
Dia memberi perintah pada sekretarisnya, "Makan saja bekal ini. Kalau istriku datang, kasih tahu dia aku sudah makan, dan suruh dia bawa pulang kotak bekal ini."
Sekretaris itu tersedak sedikit, tapi tak berani bertanya lebih jauh. Dia mengambil kotak bekal itu dan segera meninggalkan ruang direktur.
Harvey menunggu dari siang hingga sore, namun Wanda tak kunjung datang untuk mengantarkan makan siang.
Di ruang rapat, ponsel Harvey bergetar lagi. Dia menutup telepon dari Wanda untuk ketiga kalinya.
Wanda kembali membuatnya kesal, dia menelepon saat jam kerja.
Tak lama kemudian, telepon Wanda kembali masuk.
Harvey menjawab teleponnya dengan suara dingin seperti es, "Aku sudah makan, kamu nggak perlu mengirimkan makan siang."
"Harvey, aku sudah di kantor catatan sipil. Di mana kamu?"
Harvey terkejut, baru kemudian teringat bahwa semalam Wanda mengatakan mereka akan bertemu di kantor catatan sipil jam tiga sore.
Dia serius?
Tiba-tiba rasa kesal menyelimuti hati pria itu.
"Wanda! Cukup! Jangan terus-terusan bicara tentang perceraian!"
Wanita di ujung telepon itu sudah mantap dengan keputusannya. "Aku akan tunggu kamu sampai kantor catatan sipil tutup."
Emosi pria itu tersulut. "Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa! Kamu pikir keluarga Jinata akan menerimamu begitu saja? Putri yang hilang delapan belas tahun, kembali hanya untuk hidup bergantung pada mereka?"
Ruangan rapat menjadi sunyi, para eksekutif bahkan tidak berani menghela napas.
Suara Wanda terdengar tenang dan dingin, seperti air danau yang tenang.
"Harvey, kalau aku meninggalkanmu, aku bukan lagi Nyonya Ferdian. Aku hanya ingin kembali menjadi Wanda. Kalau keluarga Jinata nggak mau menerimaku, aku akan kembali memakai nama asliku."
"Terlalu capek hidup bersamamu. Hanya aku yang berusaha keras untuk mencintaimu, mencintai anak-anak kita ...."
Sampai di sini, Wanda tidak bisa menahan tawa. "Aku yakin nggak ada jalan di dunia ini yang lebih berat daripada pernikahan kita!"
- Akhir Chapter -