Kemudian, Aura membuka pesan dari Lulu.
[ Tsk, kamu belah duren sama Daffa? Bukannya kamu bilang mau tunggu sampai nikah? ]
Aura tertawa ringan dan membalas.
[ Siapa bilang itu Daffa? Jangan bicara seolah-olah aku ini nggak laku. ]
Begitu pesan itu terkirim, Lulu langsung menelepon. Segera, terdengar jeritan yang nyaring. "Serius, Aura? Akhirnya kamu sadar? Kamu beneran ninggalin Daffa si anjing itu?"
Lihatlah, semua orang bisa melihat bahwa Daffa adalah pria berengsek. Dulu, Aura memang telah dibutakan oleh cinta karena selalu merasa Daffa berbeda dari pria lain.
Setelah terbangun dari mimpinya, Aura pun menyadari betapa bodohnya dirinya. Namun, semua itu tidak penting lagi.
Dia mengangguk ringan. "Ya, biarkan saja. Yang jelas, aku yang ninggalin Daffa."
Daffa paling peduli soal harga dirinya. Aura ingin memastikan pria itu kehilangan muka di lingkaran sosial mereka.
"Terus, siapa pria itu?" tanya Lulu.
Aura mengusap bahunya yang terasa pegal. "Aku balik dulu, mau ganti baju. Nanti kita ketemu di kantor."
Lulu mengiakan. "Oh ya, hari ini kita ada rapat sama klien besar. Jangan telat."
Setelah menutup telepon, Aura keluar dari kamar. Begitu turun ke lobi, dia baru sadar dirinya naik taksi kemarin malam.
Dia melirik jam tangannya. Kalau pesan taksi sekarang, mungkin akan terlambat. Saat dia masih berpikir harus bagaimana, tiba-tiba sebuah mobil yang familier berhenti di sebelahnya. Jendela perlahan diturunkan. Itu adalah Jose.
Aura mengangkat alisnya, sementara Jose bertanya, "Nggak bawa mobil?"
Aura mengangguk. Dia pikir Jose akan menawarkan tumpangan, tetapi pria itu malah menyeringai dan berujar, "Oh, pesan taksi saja. Aku duluan ya, dah."
Aura hanya bisa menatap mobil hitam itu menjauh dan menghilang. Karena kesal, dia menendang kerikil di tanah dan menggerutu, "Dasar laki-laki! Kalau sudah puas, selalu pergi seolah-olah nggak kenal!"
Sesampainya di vila Keluarga Tanjung, Aura tidak menyangka akan melihat Daffa di sana. Begitu melihat pria itu, dia langsung memalingkan wajah dan hendak naik ke lantai atas.
Daffa dan Ghea sedang duduk di sofa bersama Anrez, ayah Aura dan Ghea. Mereka tampak asyik mengobrol sampai akhirnya melihat Aura.
Anrez langsung menyergah, "Berhenti! Semalam kamu ke mana? Kenapa nggak pulang semalaman? Kamu ini perempuan lho! Kamu tahu nggak, Daffa sudah lama menunggumu di sini!"
Aura tahu bahwa Anrez jarang membuka media sosial. Kalau tidak, dia mungkin sudah ditampar sejak tadi.
Aura berbalik dan menatap Daffa, lalu melirik Ghea yang duduk di sampingnya dengan ekspresi lemah lembut. Seketika, dia tertawa sinis. "Nungguin aku? Bukannya sudah ada yang temani dia? Kalian baru selesai bercinta, 'kan?"
Ketika Aura masih tertawa, Anrez tiba-tiba maju dan menampar wajahnya. "Anak durhaka! Kamu sadar nggak apa yang kamu katakan? Gimana bisa kamu menuduh Daffa dan adikmu seperti ini?"
Tamparan itu membuat wajah Aura menoleh ke samping. Dia menempelkan lidahnya ke area pipi yang sakit. Sebelum dia sempat bicara, Ghea sudah mendahului.
"Kak Aura, jangan salahkan Kak Daffa. Kemarin suasana hatiku buruk, jadi Kak Daffa menemaniku. Aku minta maaf kalau kamu salah paham. Tapi, kamu juga nggak seharusnya marah, apalagi ... dengan pria lain ...."
Sebelum selesai bicara, air matanya sudah jatuh, seolah-olah Aura yang berselingkuh dengan pacarnya.
Aura hanya bisa kagum dengan akting Ghea. Padahal kemarin sore, dia melihat mereka berdua berpelukan dan berciuman, seolah-olah dunia hanya milik berdua.
Aura mengangkat bahu dan tersenyum. "Oh, jadi pelukan dan ciuman itu bagian dari menemani ya? Kalau begitu, aku harusnya maafin Daffa?"
Aura terkekeh-kekeh dan menoleh menatap Ghea. "Gimana kalau pertunanganku dengan Daffa dilanjutkan?"
Ghea terdiam. Itu jelas bukan yang dia maksud.
Aura melanjutkan, "Sudahlah, aku nggak butuh lagi. Sekarang sudah kubuang, jadi kamu ambil saja. Semoga kalian bahagia."
Sejak Ghea datang ke rumah ini 5 tahun lalu, dia selalu berusaha merebut segalanya dari Aura. Awalnya kamar, lalu perhatian ayahnya dan sekarang pacarnya.
Aura mencemooh, "Lagian, kamu memang suka bekas orang lain. Sebagai kakak, aku tentu harus mengalah."
Setelah berkata begitu, beban di hatinya terasa lebih ringan. Namun, melihat ketiga orang yang menjijikkan itu, dia tidak lagi berminat mengganti pakaian. Dia berbalik untuk pergi, tetapi tangannya tiba-tiba ditarik oleh Daffa.
"Aura, jangan pergi. Kita harus bicara."
Aura menoleh dengan kesal, tatapannya tajam. Ini pertama kalinya Daffa ditatap Aura dengan tatapan seperti itu.
"Aku nggak ngerti bahasa anjing, mau bicara apa?"
Daffa tertegun. Ini pertama kalinya Aura memakinya begitu.
Aura menangkap ekspresi terkejut pria itu dan hanya tertawa sinis. Semua orang tahu bahwa dia adalah anjing penjilat Daffa selama bertahun-tahun.
Pria itu selalu dikelilingi wanita cantik, tetapi 3 tahun lalu tiba-tiba menerima Aura. Kedua keluarga pun mulai membahas pertunangan mereka.
Namun, Aura tidak pernah menyangka bahwa Daffa akan berselingkuh dengan Ghea. Hal ini yang paling membuatnya jijik dan muak.
Daffa tahu betul bahwa kematian ibunya berkaitan dengan ibu Ghea. Pria ini juga tahu betapa bencinya Aura terhadap Ghea.
Jadi, ketika dia melihat mereka berdua bersama, Aura memutuskan bahwa pria ini harus dibuang. Aura selalu bisa melepaskan dengan mudah, tetapi tetap harus memberi mereka pelajaran. Intinya, masalah ini belum selesai.
Daffa mengernyit dan menggenggam tangannya lebih erat. Tiba-tiba, Ghea yang berada di samping mencengkeram dadanya dan mulai terengah-engah. "Ayah ... Kak Daffa ... ini salahku .... Aku ... aku yang salah ...."
Sebelum selesai bicara, dia sudah pingsan.
- Akhir Chapter -