Daffa segera menangkap Ghea yang hampir jatuh, sementara Aura bahkan tidak melihat ke arah mereka dan langsung pergi. Hanya dengan melihat mereka berdua, dia sudah merasa muak.
Saat Aura melangkah keluar, teriakan Anrez terdengar dari belakang. "Aura, kembali ke sini! Siapa pria yang bersamamu itu?"
Lihatlah, ayah kandungnya selalu fokus pada kesalahannya. Saat dia mengatakan Ghea dan Daffa berpelukan dan berciuman, pria itu seperti tuli.
Namun, Aura sudah terbiasa. Sejak 5 tahun lalu saat ibu tirinya membawa Ghea masuk ke rumah ini, dia sudah tidak punya tempat lagi di sini.
Kalau bukan karena takut barang-barang peninggalan ibunya dihancurkan oleh orang-orang ini, Aura pasti tidak mau menginjakkan kakinya di rumah ini.
Setelah menenangkan emosinya, Aura sampai di kantor. Lulu langsung menghampiri. "Aura, klien sudah datang. Bosnya sendiri yang hadir, kelihatannya mereka benar-benar mementingkan kerja sama kali ini."
"Mereka secara khusus memintamu yang memimpin pembicaraan. Semangat! Harapanku ke luar negeri bulan depan ada di tanganmu sekarang!"
Aura masuk ke ruang rapat dan langsung melihat pria yang duduk di seberangnya. Dalam pekerjaan, dia selalu cepat dan tegas, tetapi untuk pertama kalinya, dia merasa sedikit ragu dan menghentikan langkahnya sejenak.
Dia tidak menyangka bahwa orang yang datang adalah Jose. Pria itu berdiri, wajahnya yang tampan terlihat dingin tanpa ekspresi. Dia mengulurkan tangan dengan sikap santai. "Bu Aura, aku sudah lama mendengar tentangmu."
Nada suaranya terdengar seolah-olah pria yang tidur dengannya kemarin malam bukanlah dirinya.
Aura segera menenangkan diri, menampilkan ekspresi profesional, dan menjabat tangannya. "Kehadiran Pak Jose adalah kehormatan bagi kami."
Setelah berbasa-basi, Aura duduk di hadapan Jose dan mulai membahas tentang proyek. "Kali ini, kami berencana mengusung tema 'Kembali ke Alam' untuk menonjolkan perbedaan produk perusahaanmu dengan yang lain ...."
Saat bekerja, wajah Aura terlihat lebih serius dari biasanya. Dia memang terlahir dengan wajah cantik. Terlebih lagi, tahi lalat merah di sudut matanya membuatnya tampak semakin memikat.
Namun, Jose malah menatap dada Aura yang naik turun saat bicara. Pikirannya penuh dengan adegan saat dia melepaskan pakaian Aura kemarin malam.
Jari-jari panjangnya mengetuk meja dengan santai. Penampilannya terlihat malas, tetapi tetap berkelas.
"Pak Jose." Suara lembut Aura membawanya kembali ke realitas. "Bagaimana pendapatmu tentang rencana ini?"
Jose menatapnya. "Konsepnya bagus, tapi proposal ini belum mencapai ekspektasiku."
Dia melirik jam tangannya sebelum mendongak dan melanjutkan, "Aku ada rapat lain setelah ini. Silakan perbaiki proposalnya, kita jadwalkan pertemuan berikutnya."
Suaranya tetap dingin, dipadukan dengan tatapan tajam dari mata yang sipit tanpa emosi. Pria ini benar-benar tipe yang 'habis manis sepah dibuang'.
Aura menatap laporan di tangannya, sementara Jose melangkah keluar dari kantor. Seperti yang dirumorkan, pria ini memang sulit dilayani.
Lulu segera mendekatinya. "Gimana hasilnya?"
Aura menyentuh ujung hidungnya pelan. "Proposalnya perlu direvisi lagi."
Ekspresi Lulu tampak kecewa. "Duh, kalau kita gagal dapat proyek ini, perusahaan kecil kita ...."
Dia menatap Aura dengan ragu. "Aura, kenapa nggak coba minta bantuan ayahmu? Dia pasti punya banyak proyek ...."
"Nggak akan, jangan bahas itu lagi. Aku pasti bisa mendapatkan proyek ini."
Saat lulus kuliah dulu, Anrez ingin dia bekerja di perusahaan keluarga. Namun, Ghea juga akan bekerja di sana.
Aura tidak mau satu kantor dengan Ghea, jadi dia meminta Anrez untuk memindahkan Ghea ke tempat lain.
Alhasil, dia malah dimarahi habis-habisan dan disebut sebagai anak durhaka yang tidak peduli dengan saudara sendiri.
Saudara? Sejak kapan Ghea dianggap saudaranya? Wanita itu hanya anak dari seorang pelakor.
Karena kesal, dia pun mendirikan perusahaan periklanannya sendiri dan bersumpah tidak akan pernah menerima bantuan dari Anrez.
Setelah semua yang terjadi selama beberapa hari ini, Aura pun semakin yakin tidak akan pernah meminta bantuan ayahnya.
Dia menggenggam map proposal lebih erat, menatap ke arah Jose yang baru saja pergi, lalu mengambil keputusan. Tidak peduli apa yang terjadi, dia harus mendapatkan proyek ini.
Aura berbalik dan berjalan ke kantornya. "Panggil semua orang untuk rapat sekarang."
Kesibukan berlanjut hingga malam. Dari jendela kantornya, tampak lampu-lampu jalanan sudah mulai menyala.
Aura memijat lehernya yang pegal. Ketika dia hendak meregangkan tubuh, ponselnya berdering. Melihat nama Efendi di layar, dia mengangkat telepon. "Halo, ada apa?"
Dari seberang, terdengar suara pria yang santai dan malas. "Aura, aku ada kenalan yang butuh bantuan bisnis. Datang ke sini sebentar, kita ngobrol sambil minum."
Mendengar itu, Aura awalnya ingin menolak. Namun, saat ini perusahaan masih dalam tahap awal perkembangan dan sangat membutuhkan klien. Jadi, dia mengiakan dan keluar dari ruangannya.
Sebelum pergi, dia mengganti pakaian karena sudah memakainya seharian. Di kantornya memang tersedia beberapa setelan pakaian untuk berjaga-jaga.
Lokasinya di kelab, jadi Aura memilih gaun beludru merah dengan tali tipis, serta menambahkan blazer agar tidak terlalu dingin. Setelah itu, dia berangkat ke lokasi yang dikirim oleh Efendi.
- Akhir Chapter -