Di dalam mobil, Aura kembali mengoleskan lipstik agar wajahnya yang agak pucat terlihat lebih segar.
Setengah jam kemudian, taksi yang dia tumpangi berhenti di depan kelab bernama Allure. Dengan sepatu hak tingginya, dia masuk dan mendorong pintu ruang privat. Begitu pintu terbuka, tampak pria dan wanita yang berpelukan, juga terdengar nyanyian bercampur dentingan gelas.
Aroma kuat dari asap rokok bercampur alkohol dan parfum langsung menusuk hidungnya, membuatnya terbatuk kecil. Matanya segera mencari sosok Efendi di dalam ruangan.
Namun, bukan Efendi yang dia lihat, melainkan Daffa yang bersandar di sofa. Pria itu duduk dengan posisi miring, terus-menerus menuangkan alkohol ke mulutnya tanpa henti.
Aura menggigit bibir dan mengumpat dalam hati, 'Sial sekali.'
Dia tahu Efendi sengaja bekerja sama dengan Daffa untuk memancingnya ke sini. Hal ini benar-benar membuatnya marah.
Saat Aura berbalik untuk pergi, Daffa sudah lebih dulu melihatnya. Mata pria yang tadinya redup langsung berbinar. Dengan langkah cepat, dia mendekat dan menarik pergelangan tangan Aura.
"Aura, jangan pergi. Kita perlu bicara," ucap Daffa.
Aura menatapnya dengan dingin. "Nggak ada yang perlu dibicarakan."
Dia berusaha menarik tangannya, merasa jijik hanya dengan disentuh oleh pria itu.
Namun, Daffa tidak mau melepaskannya. "Aura, dengarkan aku. Aku dan Ghea nggak seperti yang kamu pikirkan. Dia yang menggodaku lebih dulu!"
"Cukup!" Aura mengerutkan kening, menoleh menatap Daffa. "Kalau kamu mengakui semuanya, aku masih bisa menganggapmu sebagai pria sejati. Tapi, menyalahkan wanita atas kesalahanmu sendiri? Itu namanya pengecut."
"Ghea memang nggak tahu malu, tapi kamu juga sama!" Aura ingin memutar bola matanya, tetapi mengingat betapa indahnya matanya, dia merasa tindakan itu hanya membuang-buang energinya. Jadi, dia menahan diri.
Daffa terdiam sejenak. Seumur hidupnya, dia belum pernah diperlakukan seperti ini. Apalagi, dulu Aura yang selalu mengejarnya.
Daffa punya gengsi tinggi. Kini, kesabarannya hampir habis dan wajahnya menjadi masam. "Aku sudah minta maaf, kamu mau apa lagi? Kamu benar-benar mau batalin pertunangan kita? Aura, kamu lupa gimana kamu dulu memohon supaya kita bisa bersama?"
Aura hampir tertawa saking marahnya. Masih mending jika tidak membahas hal itu. Begitu dibahas, dia langsung merasa mual.
Ekspresi Daffa melembut saat melihatnya ingin muntah. Dia mencoba menyentuhnya. "Aura, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?"
Aura segera menarik tangannya dan menatap Daffa dengan ekspresi jijik. "Kalau kamu menjauh dariku, aku akan baik-baik saja. Jangan pernah bahas masa lalu kita lagi. Karena setiap kali aku mengingatnya, aku ingin muntah!"
Daffa benar-benar marah. "Aura, jangan sok jual mahal! Jangan bilang kamu sudah punya pria lain?"
Ucapan itu disertai genggaman yang semakin erat di pergelangan tangan Aura. Suara Daffa menjadi dingin. "Katakan! Siapa pria itu?"
Aura mendengus sambil menatapnya dengan sinis. "Bukan urusanmu! Kamu cuma perlu ingat, aku yang mencampakkanmu!"
Daffa pura-pura tidak mendengar. Dia memang mencintai Aura. Namun, di kalangan sosial mereka, siapa yang benar-benar setia?
Sebagai anak orang kaya yang tidak perlu khawatir soal hidup, mereka selalu mencari cara untuk menghibur diri dan wanita hanyalah salah satu hiburan itu.
Ghea sendiri yang menawarkan diri, bukan Daffa yang mengejarnya. Daffa berpikir, selama ini Aura sangat mencintainya. Asalkan dia meminta maaf, masalah ini pasti bisa selesai.
Namun, kali ini Aura benar-benar ingin berpisah. Daffa tidak bisa menerimanya. Dia memang berencana menikahi Aura. Bagaimanapun, sejak berusia 18 tahun, kecantikan Aura sudah tidak tertandingi di kalangan mereka.
Bening, menggoda, dan yang paling penting wanita ini sangat setia padanya. Semua pria di lingkarannya sampai iri padanya.
Memikirkan itu, Daffa menenangkan diri dan mencoba sekali lagi. "Kita sudah melalui banyak hal bersama. Aku sungguh menyesal. Aura, aku minta maaf."
Saat berbicara, dia menekan Aura ke dinding, berniat menciumnya. Daffa berpikir dia sudah merendahkan diri, jadi amarah Aura seharusnya sudah mereda.
Siapa sangka, Aura langsung mengangkat lututnya dan menendang tepat di selangkangannya. Rasa sakit yang luar biasa membuat wajah Daffa memucat, lalu berubah merah padam.
Aura mendengus. "Itu salahmu sendiri."
Setelah berkata begitu, dia berbalik untuk pergi. Namun, begitu berbalik, dia malah menabrak seseorang.
Sambil mengusap kepalanya yang terbentur, Aura mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan wajah tampan luar biasa, Jose.
Jose tidak mengatakan apa pun. Namun, di balik tatapan dinginnya, ada kilatan senyuman yang samar.
- Akhir Chapter -