"Maaf, aku nggak sengaja mendengar percakapan kalian." Jose mengusap ujung hidungnya dan meneruskan, "Permisi."
Saat Jose hendak melewati mereka, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Aura. Aura menoleh ke arah Daffa dan berkata dengan santai, "Kamu ingin tahu aku bersama siapa semalam, 'kan? Nih, sama dia."
Begitu ucapan itu dilontarkan, wajah Daffa yang pucat karena kesakitan pun berubah sedikit. Akan tetapi, dia segera mencibir karena teringat sesuatu. Kemudian, dia berkata kepada Jose, "Maaf, Jose. Aura cuma sedang emosi. Silakan masuk dulu dan minum."
Jose adalah sosok paling berpengaruh di kalangan mereka. Perusahaannya adalah yang terkuat di antara semua anak konglomerat di sini.
Selain itu, dia juga yang paling unggul di generasi muda. Di usia muda, dia sudah mengambil alih bisnis keluarganya. Makanya, semua orang bersikap hormat padanya, bahkan jarang bercanda dengannya.
Jose menaikkan alisnya sedikit dan berbalik untuk pergi. Aura sempat ragu sejenak. Saat menatap punggung Jose, dia seketika menyesal.
Mereka baru saja tidur bersama kemarin malam, tetapi Jose pergi begitu saja tanpa memberinya bantuan kecil?
Sebelum Aura sempat berpikir lebih jauh, Daffa sudah berkata, "Aura, aku tahu kamu ingin membuatku marah, tapi jangan tarik Jose ke dalam masalah kita. Kalau menyinggungnya, kita yang bakal repot."
Mendengar itu, langkah kaki Jose terhenti. Tatapannya dingin saat dia menoleh ke arah Daffa. "Maksudmu, aku sangat menakutkan?"
Daffa terdiam untuk sesaat. "Nggak ... bukan begitu."
Daffa ingin menjelaskan lebih lanjut, tetapi Jose tiba-tiba mendekati Aura. Dia menatap wanita itu dan berujar, "Kalau sudah beres, aku akan mengantarmu pulang."
Aura termangu sebelum menyahut, "Kalau begitu, kita bisa pergi sekarang."
Daffa terbelalak melihat mereka. Jose bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Akan tetapi, sekarang dia tiba-tiba ingin mengantar Aura pulang? Apakah mereka benar-benar punya hubungan?
Wajah Daffa semakin suram, terutama saat melihat mereka berjalan pergi bersama. Dia tidak berani melawan Jose sehingga hanya bisa mengepalkan tangannya dan meninju dinding di sebelahnya.
Aura mengikuti Jose keluar. Sebuah Maybach hitam berhenti perlahan di depan mereka. Sopir keluar dan membukakan pintu untuk Jose, tetapi pria itu justru menoleh ke arah Aura. "Kenapa bengong? Masuk."
"Hah?" Aura mengira Jose hanya berbasa-basi tadi.
Jose mengangkat alisnya sambil berucap, "Aku nggak pernah bohong atau ingkar janji."
Baiklah, agar tidak terlihat seperti dia takut pada pria ini, Aura pun naik ke mobil. Begitu mobil melaju, Aura menyebutkan alamat rumahnya. Kemudian, keheningan aneh memenuhi ruangan di mobil.
Setelah beberapa saat, Jose terkekeh-kekeh dan menyindir, "Ternyata seperti itu seleramu."
Aura menoleh padanya dengan heran. Kemudian, dia menyadari sesuatu. Dia ingin membantah, tetapi yang dikatakan Jose adalah fakta. Bagaimana bisa dia tertarik pada pria seperti Daffa?
Jose menarik sedikit kerah kemejanya dengan jari panjangnya, lalu tersenyum dingin. "Jadi, kemarin aku cuma jadi alat bagimu?"
Aura menggigit bibirnya, merasa pertanyaan itu cukup konyol. "Kamu merasa rugi?" Dia cukup percaya diri dengan penampilannya.
Begitu pertanyaan itu dilontarkan, ekspresi Jose langsung menjadi suram. Dia terdiam sesaat, lalu mendongak dan menginstruksi sopir, "Berhenti."
Sopir segera menghentikan mobil. Aura pun bingung. "Kenapa?"
Jose menoleh menatapnya. "Turun."
Aura melirik ke luar jendela dengan heran. Barusan mereka masih bicara baik-baik, kenapa tiba-tiba dia disuruh turun? Lagi pula, ini di jalan layang, sulit untuk mendapatkan taksi!
"Turun." Jose mengulang perintahnya.
Aura terdiam sejenak, lalu akhirnya turun.
Begitu dia turun, suara Jose terdengar dari belakangnya. "Aku paling benci dimanfaatkan. Aura, kita impas."
Setelah itu, dia menyuruh sopirnya kembali berkemudi, meninggalkan Aura yang berdiri sendirian di pinggir jalan dengan tubuh menggigil.
"Gila!" Aura memutar bola matanya, lalu mengeluarkan ponsel untuk menelepon Lulu. Dia memberi tahu lokasinya dan meminta Lulu menjemputnya.
Lulu tiba setengah jam kemudian. Begitu masuk ke mobil, Aura langsung mengeluh, "Kenapa aku sial sekali?"
Lulu menoleh menatapnya. "Kenapa lagi?"
Aura menghela napas panjang, lalu melirik Lulu dengan ekspresi putus asa. "Aku mungkin telah menyinggung klien besar. Liburan ke luar negerimu mungkin akan batal."
Akhir-akhir ini, dia benar-benar sial. Segala sesuatu tidak berjalan dengan baik.
- Akhir Chapter -