Matahari pagi mulai merangkak naik, mengusir sisa-sisa kabut dingin yang sempat menyelimuti wilayah tengah Padepokan Nagendra. Dari atas balkon aula utama, Pandya Nagendra berdiri sembari menyandarkan kedua tangannya pada pagar pembatas batu. Jubah kebesaran putih dengan sulaman benang emas di sepanjang lengannya berkibar pelan ditiup angin sepoi-sepoi.
Di bawah sana, sejauh mata memandang, pemandangan kesibukan yang luar biasa terhampar luas. Ribuan orang bekerja bahu-membahu. Suara dentingan palu yang beradu dengan paku, deburan kayu-kayu besar yang dipindahkan, serta teriakan penuh semangat dari para pekerja bangunan bergema saling bersahutan.
"Satu minggu yang lalu, tempat ini hampir rata dengan tanah karena perang," gumam Pandya pelan, pandangannya tertuju pada sebuah gerbang rahasia tiruan yang sedang dibangun ulang oleh para ahli bangunan. "Sekarang, melihat mereka bekerja tanpa memedulikan asal kasta atau ajaran lagi... rasanya masih seperti mimpi."
“Jika ini mimpi, aku bersumpah tidak akan membangunkanmu, Pandya,” suara Sakra berdengung santai di dalam benaknya. “Setidaknya, pemandangan manusia-manusia yang saling bekerja sama ini jauh lebih menyegarkan bagiku daripada melihatmu mengorbankan nyawa demi orang lain setiap waktu.”
Pandya tersenyum tipis. "Kau bisa saja memujiku sekali-kali tanpa bumbu sindiran, Sakra."
“Pujian hanya akan membuat kepalamu yang keras itu semakin besar, Anak Muda. Sudahlah, lihat siapa yang datang. Pengikut pertamamu yang setia sepertinya membawa kabar dari lapangan.”
Pandya menoleh ke arah tangga balkon. Benar saja, Dipta berjalan mendekat dengan langkah tegap. Mantan pendekar Ajaran Sihir yang kini menjabat sebagai salah satu petinggi ksatria padepokan itu membungkuk hormat sebelum berdiri di samping Pandya.
"Pemimpin Pandya," sapa Dipta dengan nada suara yang mantap. "Rekonstruksi area tengah dan pasar utama berjalan lebih cepat dari perkiraan. Para pendekar dari mantan Ajaran Api ikut membantu memindahkan batu-batu fondasi yang berat menggunakan sisa tenaga dalam mereka. Sementara itu, anak-anak muda dari Ajaran Ramuan sibuk merancang distribusi air bersih untuk barak pekerja."
"Bagus sekali, Dipta," Pandya mengangguk puas. "Bagaimana dengan penggabungan kurikulum latihan? Apakah ada kendala di lapangan?"
Dipta menghela napas pendek, ekspresinya sedikit berubah ragu. "Secara keseluruhan, konsep 'Ajaran Terbuka' yang Anda gagas disambut baik oleh para murid muda. Mereka sangat antusias karena sekarang bisa mempelajari dasar-dasar tenaga dalam Ajaran Pedang sekaligus teknik manipulasi dari Ajaran Sihir tanpa ada batasan kasta lagi. Namun..."
"Namun?" Pandya menaikkan satu alisnya.
"Beberapa instruktur senior dari Ajaran Lama masih menunjukkan penolakan pasif. Mereka merasa bahwa membiarkan semua orang mempelajari ilmu dari berbagai ajaran secara bebas akan menurunkan kesucian dan keaslian ilmu bela diri leluhur. Pangeran Tibra dan Pangeran Danar saat ini sedang berada di lapangan untuk menenangkan para tetua di divisi mereka masing-masing."
Pandya terdiam sejenak. Dia membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah bukit tempat akademi baru sedang dibangun. Konflik pemikiran seperti ini memang sudah dia duga sejak awal. Mengubah pola pikir ribuan orang yang selama puluhan tahun hidup dalam sekat-sekat ajaran yang kaku tidak akan bisa selesai dalam semalam.
"Biarkan para pangeran yang menyelesaikannya terlebih dahulu," ucap Pandya dengan bijak. "Tibra memiliki ketegasan yang disegani di Ajaran Api, dan Danar tahu bagaimana cara menghadapi para penyihir tua yang keras kepala. Ini adalah ujian pertama bagi mereka sebagai Pemimpin Divisi dalam sistem yang baru. Aku ingin melihat sejauh mana mereka bisa bertanggung jawab atas wilayah mereka sendiri."
"Baik, Pemimpin. Saya akan terus memantau perkembangannya," jawab Dipta.
Tiba-tiba, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah koridor bawah balkon. Suara tawa renyah yang sangat familier bagi Pandya memecah keheningan di atas balkon tersebut.
"Pandya! Ah, maksudku, Pemimpin Agung Pandya yang terhormat!"
Chandra muncul dengan napas sedikit terengah-engah, tetapi wajahnya memancarkan keceriaan yang sama seperti biasanya. Mantan pendekar Ajaran Ramuan yang terkenal ceroboh namun berempati tinggi itu datang bersama Raka. Keduanya kini mengenakan seragam ksatria baru, meskipun cara Chandra memakai sabuknya masih terlihat agak miring dan kurang rapi.
"Chandra, Raka," Pandya menyapa kedua bawahannya itu dengan senyuman tulus. Di depan mereka, Pandya melepaskan sejenak topeng wibawa seorang pemimpin tinggi. "Ada apa? Mengapa kalian terlihat seperti baru saja dikejar oleh kawanan serigala hutan?"
"Serigala hutan sih masih mending, Pemimpin Pandya!" sahut Chandra sambil berkacak pinggang. "Ini lebih parah! Kami baru saja dari gudang penyimpanan logistik Ajaran Ramuan kuno. Tebak apa yang kami temukan?"
Raka yang berdiri di sampingnya mendengus pelan sambil memutar bola matanya. "Chandra hampir membakar setengah gudang karena dia tidak sengaja menyenggol wadah bubuk mesiu mentah saat mencoba membaca gulungan kuno, Pemimpin."
"Hei! Itu kecelakaan, Raka! Lagipula jalannya memang sempit karena tumpukan peti!" protes Chandra dengan wajah bersemu merah karena malu. Dia kemudian menatap Pandya kembali dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan kritis. "Tapi lupakan soal kecelakaan itu. Pemimpin Pandya, saat aku merapikan kotak-kotak ramuan medis peninggalan era Tuan Datta, aku menemukan sesuatu yang sangat aneh di bagian dasar dinding gudang."
Pandya mengernyitkan dahi. Rasa ingin tahunya langsung terusik. "Sesuatu yang aneh? Apa itu?"
Chandra merogoh kantong kain di pinggangnya dan mengeluarkan selembar kertas pembungkus yang sudah agak kusam. Di atas kertas tersebut, terdapat salinan gambar sebuah simbol atau ukiran yang digambar terburu-buru dengan arang hitam.
"Dinding batu di balik rak ramuan itu memiliki ukiran purba yang sangat samar," jelas Chandra, matanya berbinar penuh keseriusan. "Aku sering membaca kitab sejarah tanaman obat kuno, tapi simbol ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu ramuan atau medis. Bentuknya melingkar dengan enam sudut, mirip seperti sebuah segel atau kunci. Dan yang membuatku merinding... ketika aku tidak sengaja menyentuhnya, uap dingin yang sangat tipis keluar dari sela-sela batu."
Pandya menerima kertas itu dari tangan Chandra. Dia menatap simbol tersebut dengan saksama. Detik itu juga, batinnya bergetar. Bentuk melingkar dengan enam sudut itu... entah mengapa memiliki kemiripan struktur dengan gerbang hitam yang dia lihat di dalam mimpi buruknya beberapa saat yang lalu.
Di saat yang sama, Pedang Sakra di samping tubuh Pandya bergetar pelan secara fisik, memicu bunyi dentingan logam yang halus namun bergaung di batin Pandya.
“Simbol itu...” suara Sakra di dalam kepala Pandya tidak lagi terdengar santai. Nada suaranya turun beberapa oktaf, penuh dengan ketegangan yang tertahan. “Itu adalah Tanda Jiwa Keenam. Sial... ingatan masa laluku yang terpotong kembali berdenyut sakit hanya dengan melihat gambar itu. Pandya, tebakan kita di pagi hari tidak salah. Fondasi kedamaian yang sedang kau bangun di atas tanah ini... ternyata berdiri tepat di atas sebuah makam kuno yang menyimpan rahasia terbesar leluhurmu.”
Pandya mencengkeram kertas pemberian Chandra hingga sedikit kusut. Dia menatap Dipta, Chandra, dan Raka yang sedang menanti responnya dengan wajah bingung sekaligus khawatir melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah pemimpin mereka.
"Chandra," suara Pandya terdengar berat dan penuh wibawa yang menuntut kepatuhan. "Tutup kembali area dinding itu dengan rak-rak ramuan. Jangan biarkan ada murid akademi atau pekerja bangunan lain yang mendekatinya untuk saat ini."
Chandra menelan ludah, lalu mengangguk cepat. "Baik, Pandya. Aku mengerti."
"Dipta, perketat pengamanan di sekitar wilayah penyimpanan logistik dan sektor selatan," lanjut Pandya, pandangannya beralih pada pengikut pertamanya itu. "Getaran tanah yang kita rasakan tadi pagi, ditambah dengan temuan Chandra... ini bukan sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang sedang bergerak di bawah kaki kita, dan aku ingin kita siap sebelum sesuatu itu benar-benar menembus ke permukaan."
"Dimengerti, Pemimpin Pandya!" jawab Dipta dan Raka serempak sambil mengepalkan tangan di dada, memberikan penghormatan tertinggi sebelum bergegas pergi melaksanakan perintah bersama Chandra.
Setelah para bawahannya pergi, Pandya kembali menatap hamparan Padepokan Nagendra yang sedang dibangun dari atas balkon. Angin pagi yang tadinya terasa hangat kini mendadak membawa sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang, seolah-olah sedang berbisik bahwa bayangan masa lalu telah bersiap untuk menuntut balas.
Bersambung…
- Akhir Chapter -