Aula samping Gedung Utama Padepokan Nagendra terasa jauh lebih tenang dibandingkan dengan keriuhan area luar yang sedang dibangun kembali. Ruangan ini berlantai batu giok halus dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke arah jajaran perbukitan hijau di sisi barat. Di sinilah Pandya biasanya menghabiskan waktu untuk menenangkan pikiran dari penatnya urusan birokrasi, atau sekadar menikmati keheningan.
Langkah kaki yang ringan dan teratur terdengar mendekat. Pandya tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aroma lembut bunga melati yang khas serta desiran angin tipis yang selalu mengikuti pergerakan orang tersebut sudah menjadi tanda yang sangat familier.
Attaya berjalan memasuki aula. Gadis berusia dua puluh tahun itu kini tidak lagi menyembunyikan identitasnya di balik pakaian pria atau nama samaran Atreya. Dia mengenakan jubah pendekar wanita berwarna hijau muda berpadu putih yang ramping, menampilkan sosoknya yang anggun namun tetap memancarkan ketegasan seorang petarung tangguh. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang cantik dan bersih. Hanya telapak tangannya yang dipenuhi luka goresan tipis akibat latihan pedang yang menjadi bukti nyata bahwa dia adalah seorang pendekar sejati.
"Pemimpin Pandya," sapa Attaya lembut sembari membungkuk hormat dengan tangan mengepal di depan dada.
Pandya membalikkan badannya, tersenyum tulus melihat kehadiran gadis itu. "Attaya, sudah kubilang berkali-kali saat kita hanya berdua di ruangan ini, kau tidak perlu terlalu formal."
Attaya menegakkan tubuhnya, matanya yang cerdas menatap Pandya dengan kilatan jenaka. "Aturan tetaplah aturan, Pemimpin Pandya. Jika para murid atau ksatria lain melihat penasihat utama mereka bertingkah terlalu santai dengan Pemimpin Agung, wibawa sistem baru yang sedang kita bangun bisa goyang sebelum fondasinya kokoh."
Pandya terkekeh pelan, melangkah mendekat ke arah meja kayu panjang di tengah ruangan tempat beberapa gulungan peta wilayah barat telah digelar. "Kau selalu punya alasan yang masuk akal. Baiklah, apa yang membawa Penasihat Utamaku ke sini? Dipta bilang kau ingin membahas tentang peleburan Ajaran Angin."
"Benar, Pemimpin Pandya," Attaya berjalan mendekat ke meja, jemari tangannya yang ramping menunjuk pada area perbatasan antara Padepokan Nagendra dan wilayah Abinawa pada peta. "Proses integrasi murid-murid Ajaran Angin dari Padepokan Abinawa ke dalam sistem Ajaran Terbuka berjalan lancar secara fisik. Mereka sangat menghargai kebijakan Anda yang tidak membeda-bedakan asal-usul. Namun, masalahnya ada pada penempatan formasi pertahanan utama."
Attaya menjeda kalimatnya sejenak, menatap Pandya dengan serius. "Beberapa tetua dari klan lama menyarankan agar murid Ajaran Angin ditempatkan di garis belakang sebagai pendukung, karena mereka menganggap teknik angin hanya berguna untuk pergerakan cepat dan pengintaian. Saya sangat tidak setuju. Teknik angin memiliki daya potong dan fleksibilitas yang sangat tinggi jika dipadukan dengan Ajaran Pedang di garis depan."
Pandya mengangguk-angguk, menyimak penjelasan Attaya dengan saksama. Dia tahu betul kemampuan analisis militer gadis di hadapannya ini. Selama perang musim lalu, strategi-strategi Attaya-lah yang sering kali menyelamatkan kelompok mereka dari jebakan musuh.
"Aku sependapat denganmu, Attaya," ujar Pandya mantap. "Sistem Ajaran Terbuka dibuat justru untuk menghapus kotak-kotak pemikiran kuno seperti itu. Sore ini, aku akan mengeluarkan perintah resmi agar formasi garis depan diubah. Kita akan memasangkan para pendekar Ajaran Pedang dengan pengguna Ajaran Angin dalam satu unit taktis."
Attaya menghela napas lega, senyuman manis mengembang di wajahnya yang jelita. "Terima kasih atas kepercayaan Anda, Pemimpin Pandya. Keputusan ini akan membuat murid-murid dari Abinawa merasa benar-benar dihargai sebagai bagian dari Nagendra yang baru."
"Tentu saja. Tanpa bantuanmu dan pengorbanan saudara kembarmu, kita tidak akan berdiri di sini hari ini," Pandya menatap lekat-lekat kedua mata hitam milik Attaya. Tatapannya berubah dari seorang pemimpin yang tegas menjadi seorang pria yang menyimpan rasa kagum dan kasih sayang yang mendalam.
Merasakan perubahan atmosfer di antara mereka, pipi Attaya merona merah tipis. Dia memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Selain masalah formasi... ada satu hal lagi yang ingin ditanyakan oleh para tetua padepokan kepada saya kemarin."
"Soal apa?"
"Soal... pernikahan kita, Pemimpin Pandya," suara Attaya memelan, meskipun nadanya tetap terdengar tegas. "Mereka terus mendesak agar upacara pernikahan segera dilangsungkan demi stabilitas politik dan memberikan kepastian kepada rakyat tentang garis keturunan pemimpin masa depan."
Pandya terdiam sejenak. Dia berjalan mendekati jendela, menatap langit fajar yang kian terang. Mengingat mimpi buruk dan getaran tanah aneh yang dia rasakan pagi ini, ada rasa cemas yang mendalam di sudut hatinya. Dia sangat ingin menikahi Attaya dan hidup bahagia bersamanya, tetapi dia merasa ada badai besar yang sedang mengintai mereka di kegelapan.
"Attaya," Pandya memanggil namanya dengan nada lembut namun sarat akan beban batin. "Aku ingin pernikahan kita menjadi hari yang penuh kebahagiaan tanpa ada bayang-bayang ancaman. Saat ini, dunia baru saja bersatu. Masih banyak riak-riak kecil di lapangan, dan... pagi ini aku merasakan sesuatu yang tidak beres pada aliran energi di dasar tanah Nagendra."
Attaya melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Pandya. Dia menatap profil samping wajah Pandya yang tampak matang dan reflektif, sangat berbeda dengan pemuda kurus lemah yang pertama kali dia temui dua tahun lalu. Perlahan, Attaya meletakkan tangannya di atas punggung tangan Pandya yang sedang mencengkeram pagar pembatas kayu.
"Pemimpin Pandya," ucap Attaya dengan kelembutan yang menenangkan, menjadi kekuatan emosional yang menjaga kewarasan Pandya di tengah tekanan berat. "Kekuatan terbesar seorang pemimpin bukanlah terletak pada ketajaman bilah pedangnya, melainkan pada ketetapan hatinya. Apa pun yang sedang Anda khawatirkan, apa pun ancaman yang akan datang dari kegelapan masa lalu, Anda tidak menghadapinya sendirian lagi. Kita akan menghadapinya bersama, seperti yang selalu kita lakukan sebelumnya."
Mendengar kata-kata penguat dari Attaya, beban di pundak Pandya seolah terangkat sebagian. Dia membalikkan tangannya, menggenggam erat jemari Attaya yang penuh luka goresan latihan—luka yang menjadi bukti nyata bahwa gadis ini siap bertarung di sisinya sampai akhir.
“Ehem! Maaf jika aku harus merusak momen penuh bunga ini, Pandya,” suara Sakra tiba-tiba berdengung di dalam kepala Pandya dengan nada sindiran tajamnya yang khas. “Tapi aku mulai merasa mual mendengar dialog puitis kalian. Lagipula, jika kau tidak segera melepaskan genggaman tanganmu, Akandra dan Agha yang sedang berjalan menuju aula ini akan mengira Pemimpin Agung mereka sedang malas bekerja di pagi hari.”
Pandya reflek melepaskan genggaman tangannya sambil berdeham canggung, membuat Attaya sedikit terkejut namun kemudian tersenyum tipis karena menduga bahwa pedang sakti Sahasra Kaditula pasti baru saja menginterupsi batin tuannya lagi.
Benar saja, beberapa detik kemudian, langkah kaki berat khas para ksatria pelindung terdengar mengetuk pintu aula samping, menandakan bahwa waktu bersantai singkat sang pemimpin telah usai dan tugas besar telah kembali menanti di depan mata.
Bersambung…
- Akhir Chapter -