Aula Pertemuan Utama kini telah berubah fungsi. Jika dahulu ruangan luas berdinding batu legam ini menjadi tempat yang mencekam di mana Tuan Urdha menjatuhkan titah yang kaku, kini ruangan itu terasa lebih terbuka. Meja bundar besar dari kayu cendana ditempatkan di tengah-tengah aula, dikelilingi oleh kursi-kursi berukir yang kini diduduki oleh orang-orang yang dahulu saling mengacungkan bilah senjata.
Pemimpin Pandya duduk di kursi utama, mengamati satu per satu saudaranya yang kini menjabat sebagai Pemimpin Divisi dalam sistem Ajaran Terbuka.
Di sisi kanan, Tibra Nagendra, sang mantan Pangeran Ajaran Api, duduk dengan tegap. Rambut merah pendeknya tampak mencolok di bawah sinar matahari pagi. Di sebelahnya, Prama Nagendra yang mengurus Divisi Ramuan sedang sibuk membolak-balik daftar inventaris tanaman obat dengan wajah ketus yang menjadi ciri khasnya. Sementara itu, Danar Nagendra dari Divisi Sihir dan Catra Nagendra dari Divisi Pengintai tampak sedang berbisik-bisik, entah merencanakan sesuatu atau sekadar membicarakan hal yang tidak penting. Tak ketinggalan, Hansa Nagendra, satu-satunya saudari mereka dari Divisi Suara, duduk dengan anggun sembari memainkan kuku jarinya, tampak bosan dengan keheningan yang sempat tercipta.
"Jadi," Pemimpin Pandya membuka suara, memecah kesunyian dengan nada yang berwibawa namun tetap santai. "Bagaimana perkembangan di divisi kalian masing-masing? Aku mendengar dari Dipta bahwa ada sedikit gesekan di lapangan mengenai peleburan kurikulum baru."
Tibra menghela napas berat, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Rakyatku di Divisi Api tidak memiliki masalah dengan para murid muda, Pemimpin Pandya. Mereka justru bersemangat. Masalahnya adalah para tetua bangka yang mengeluh karena tempat penempaan senjata mereka sekarang harus berbagi ruang dengan anak-anak dari Divisi Angin. Mereka bilang hembusan angin dari murid Abinawa membuat api tungku mereka terlalu besar dan tidak stabil."
"Oh, benarkah?" Hansa menyahut dengan suara merdu yang mendadak naik satu oktav, membuat Catra refleks menutup salah satu telinganya karena takut gendang telinganya terluka. "Bukannya para tetuamu saja yang sudah terlalu tua untuk belajar mengendalikan api mereka sendiri, Kak Tibra? Kalau di Divisiku, para murid justru merasa terbantu. Resonansi suara mereka menjadi lebih jauh jangkauannya jika dipadukan dengan aliran angin."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang seni menempa besi, Hansa! Diamlah sebelum suaramu membuat kepalaku pecah," dengus Tibra ketus.
"Sudah, sudah. Jangan mulai lagi," Prama menyela sambil menggebrak tumpukan kertasnya ke meja dengan kesal. "Kalian meributkan angin dan api, sementara aku harus pusing memikirkan jatah pasokan tanaman obat yang telat dari sektor selatan karena jalurnya masih tertutup puing bangunan. Pemimpin Pandya, jika rekonstruksi jalan tidak selesai dalam tiga hari, aku tidak bisa menjamin ketersediaan pil pemulih tenaga dalam untuk ujian minggu depan."
Danar terkekeh pelan, menopang dagunya dengan tangan kanan. "Gunakan saja sihir pemindahan milik divisiku, Prama. Tapi tentu saja, ada biayanya. Kotak ramuan terbaikmu harus dibagi dua dengan para penyihirku."
"Dalam mimpimu, Danar! Kau mau merampokku secara terang-terangan?" balas Prama dengan mata mendelik tajam.
Pemimpin Pandya hanya bisa tersenyum tipis melihat keributan kecil di hadapannya. Meskipun mereka sering kali saling sindir dan berargumen dengan keras, Pandya tahu bahwa hubungan mereka saat ini jauh lebih sehat dibandingkan dulu. Mereka tidak lagi saling mengintai di kegelapan untuk menaruh racun atau mengirim pembunuh bayaran; mereka berdebat demi kemajuan divisi mereka masing-masing. Mereka telah mengesampingkan ego demi membangun Nagendra yang baru.
“Lihatlah kawanan serigala peliharaanmu ini, Pandya,” suara Sakra mendadak bergema di dalam kepala Pandya, membawa nada humor sarkasnya yang familier. “Dulu mereka ingin menguliti dan membuangmu ke jurang. Sekarang, mereka bertengkar di depanmu seperti anak-anak ayam yang memperebutkan jatah pakan di pagi hari. Menakjubkan sekali kekuatan selembar kertas anggaran di tangan seorang Pemimpin Agung.”
Pandya menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sakra. “Setidaknya mereka tidak lagi mencoba mematahkan bilah pedangmu saat aku tidur, Sakra,” balas Pandya dalam hati.
“Tentu saja tidak. Jika mereka mencoba menyentuhku sekarang, aku sendiri yang akan menyengat tangan mereka dengan aliran Chi sampai gosong. Lagipula, kau harus menghentikan perdebatan kusir ini sebelum Prama benar-benar melemparkan botol racun ke wajah Danar.”
Pemimpin Pandya berdeham keras, langsung membuat seluruh ruangan seketika menjadi senyap. Wibawa yang terpancar dari tubuh tegap berototnya membuat para pangeran dan putri ajaran lama itu mendadak merapikan posisi duduk mereka dengan canggung.
"Perdebatan yang bagus," ucap Pemimpin Pandya tenang, matanya menatap mereka satu per satu dengan senyuman penuh arti. "Namun, aku tidak ingin mendengar keluhan tanpa adanya solusi. Danar, bantulah divisi Prama untuk memindahkan pasokan logistik menggunakan formasi sihir darurat tanpa meminta bayaran tambahan. Ini adalah perintah resmi. Prama, pastikan setelah jalur terbuka, pasokan obat untuk para pekerja bangunan diprioritaskan."
Danar mendengus pelan namun mengangguk patuh. "Baik, Pemimpin Pandya."
"Untuk masalah Divisi Api dan Angin," Pandya beralih menatap Tibra. "Sore ini Attaya telah menyusun ulang formasi unit taktis. Area penempaan luar akan diperluas agar aliran angin dari murid Abinawa justru bisa dimanfaatkan untuk menghemat penggunaan batu bara pada tungku api kalian. Aku ingin kau sendiri yang mengawasi uji cobanya besok pagi, Tibra."
Tibra terdiam sejenak, merenungkan keputusan tersebut sebelum akhirnya mengangguk tegap. "Keputusan yang bijak, Pemimpin Pandya. Aku akan memastikan para tetua itu menutup mulut mereka dan mulai bekerja."
"Baguslah kalau begitu," Pandya bangkit dari kursinya, menandakan bahwa pertemuan fajar telah selesai. "Pertemuan hari ini ditutup. Kembalilah ke divisi kalian dan pastikan semua berjalan sesuai rencana. Jangan membuatku harus turun ke lapangan hanya untuk mendengarkan kalian bertengkar soal jatah air atau tungku besi lagi."
"Dimengerti, Pemimpin Pandya!" jawab kelima saudaranya serempak sembari memberikan penghormatan pendekar sebelum satu per satu melangkah meninggalkan aula dengan sisa-sisa gumaman kekesalan yang samar di antara mereka.
Setelah ruangan kembali kosong, Pandya kembali mendudukkan dirinya sembari menghela napas panjang. Dia melirik Pedang Sahasra Kaditula yang bersandar di dekat kursinya.
“Kerja bagus, Pemimpin Agung,” puji Sakra dengan nada santai. “Namun, jangan bersenang-senang dulu. Aku merasakan getaran di bawah tanah tadi kembali menguat. Sesuatu yang asing sedang mencoba membaca situasi di atas sini, Pandya. Kita harus segera mencari tahu dari mana asal getaran itu sebelum kedamaian riuh saudara-saudaramu ini berubah menjadi jeritan.”
Ekspresi Pandya kembali menegang, senyumannya memudar digantikan oleh tatapan mata hitam legamnya yang menatap lurus ke arah lantai batu giok, bersiap menghadapi badai misterius yang kian mendekat.
Bersambung…
- Akhir Chapter -