Keheningan malam selalu menjadi waktu di mana Padepokan Nagendra memperlihatkan sisi magisnya. Di bawah siraman cahaya bulan purnama yang keperakan, reruntuhan bangunan yang belum selesai diperbaiki tampak seperti raksasa purba yang sedang tertidur. Angin malam berembus pelan, membawa ketenangan yang semu ke seluruh penjuru klan.
Namun, di dalam paviliun pribadinya, Pemimpin Pandya sama sekali tidak bisa menikmati ketenangan itu.
Dia duduk bersila di atas bantalan meditasi, mencoba menyelaraskan aliran Chi raksasa di dalam tubuhnya. Keringat tipis mengalir di pelipisnya. Aliran tenaga dalam yang biasanya mengalir lancar bagai sungai yang tenang, malam ini terasa bergolak penuh riak. Setiap kali dia mencoba menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak, seolah-olah ada beban tak kasat mata yang menekan batinnya.
“Pandya... kau mendengarnya juga, kan?”
Suara Sakra memecah kesunyian di dalam kepalanya. Berbeda dengan nada santai atau sindiran tajam yang biasa dia lontarkan, kali ini suara jiwa pedang itu terdengar bergetar lembut, sarat akan kewaspadaan yang tinggi.
“Ya, Sakra. Sejak dua jam yang lalu, aliran energiku menolak untuk tenang,” balas Pandya dalam hati, matanya tetap terpejam rapat demi menjaga fokus. “Suara-suara itu... mereka tidak berbicara menggunakan bahasa yang kupahami. Rasanya seperti ratusan orang sedang berbisik berbarengan dari tempat yang sangat jauh.”
“Itu bukan dari tempat yang jauh, Pandya. Itu dari bawah kaki kita. Tepat di bawah tanah padepokan ini. Sial... kepingan ingatanku yang selama ini terkunci mendadak berputar kacau. Aku ingat sebuah nama... Jiwa Dua Dunia. Nama itu terus berdengung di dalam kesadaranku seiring dengan menguatnya bisikan asing tersebut.”
Pandya membuka matanya dengan sentakan pelan. Bola mata hitam legamnya berkilat di dalam kegelapan kamar. Dia menatap Pedang Sahasra Kaditula yang terletak di atas meja penyangga di hadapannya. Bilah pedang sakti itu tidak lagi diam; permukaannya memancarkan pendaran cahaya keemasan yang berdenyut tidak teratur, seolah-olah sedang merespons sesuatu yang tak kasat mata.
“Jiwa Dua Dunia? Apa maksudmu, Sakra? Apakah itu ada hubungannya dengan gerbang hitam dalam mimpi burukku?” tanya Pandya, rasa cemas kian merayapi sudut hatinya.
Sebelum Sakra sempat memberikan jawaban, telinga tajam Pandya menangkap suara gesekan langkah kaki yang terburu-buru di luar paviliunnya. Detik berikutnya, pintu kamarnya diketuk dengan kepanikan yang kentara.
"Pemimpin Pandya! Mohon maaf jika saya mengganggu waktu semedi Anda!" suara Dipta terdengar bergetar dari balik pintu. "Ada situasi darurat di Sektor Selatan, tepat di area gudang logistik Divisi Ramuan!"
Pandya segera bangkit. Tanpa membuang waktu, dia menyambar gagang Sahasra Kaditula dan memakai jubah luarnya dengan cepat. Saat dia membuka pintu, dia mendapati Dipta berdiri dengan wajah pucat, ditemani oleh Chandra yang napasnya terengah-engah seolah-olah baru saja berlari melintasi bukit tanpa henti.
"Apa yang terjadi, Dipta? Chandra?" tanya Pemimpin Pandya dengan nada suara yang berat dan penuh wibawa.
"Simbol itu, Pemimpin Pandya..." Chandra membuka suara dengan terbata-bata, matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam. "Ukiran melingkar dengan enam sudut yang saya temukan di balik dinding gudang... beberapa menit yang lalu, ukiran itu mendadak menyala merah darah. Seluruh area gudang menjadi sangat dingin hingga membekukan air di dalam cawan, dan... ada kabut hitam tipis yang mulai merembes keluar dari sela-sela retakan lantai batu!"
Mendengar laporan itu, mata Pandya menyipit tajam. "Apakah ada murid atau pekerja yang terluka?"
"Tidak ada, Pemimpin Pandya," jawab Dipta cepat. "Begitu Chandra memberikan tanda bahaya, saya langsung memerintahkan pasukan ksatria untuk mengosongkan seluruh sektor selatan dan membuat barikade pengamanan dalam radius seratus langkah. Namun, kabut hitam itu... energi yang dipancarkannya terasa sangat asing dan menolak semua bentuk tenaga dalam yang mencoba menghalaunya."
"Kalian sudah bertindak dengan benar. Ayo kita ke sana sekarang," titah Pemimpin Pandya tegas.
Ketiganya bergerak cepat membelah kegelapan malam, melompati atap-atap bangunan dengan meringankan tubuh menggunakan tenaga dalam mereka. Dalam waktu singkat, mereka telah tiba di perbatasan Sektor Selatan. Suasana di sana tampak mencekam. Obor-obor yang dibawa oleh para ksatria pelindung bergoyang hebat ditiup angin malam yang mendadak berembus kencang dan terasa sangat dingin—dingin yang tidak wajar untuk ukuran malam di musim ini.
Attaya sudah berada di sana, berdiri di garis depan barikade bersama Raka dan Rajendra. Wajah cantiknya tampak tegang saat menatap ke arah gudang logistik yang kini telah diselimuti oleh kabut hitam pekat yang bergerak lambat bagai makhluk hidup.
"Pemimpin Pandya," Attaya langsung mendekat begitu melihat kehadiran sang pemimpin. "Energi kabut ini... sangat korosif terhadap batin. Beberapa ksatria yang berada terlalu dekat mengeluh pusing hebat dan merasakan aliran Chi mereka berbalik arah. Saya terpaksa meminta mereka mundur lebih jauh."
Pemimpin Pandya mengangguk, pandangannya lurus menatap kabut hitam di hadapannya. Di dalam kepalanya, suara bisikan asing yang dia dengar sejak sore tadi kini berubah menjadi gemuruh teriakan yang memekakkan batinnya. Pedang Sakra di dalam genggamannya bergetar hebat, memancarkan cahaya emas yang mencoba memotong kegelapan kabut yang mendekat.
“Pandya, waspadalah,” suara Sakra bergema dengan nada penuh ketegangan. “Ini bukan sekadar uap beracun. Sesuatu di dalam sana... batasan spiritual tempat ini telah retak. Gerbang Jiwa yang mengunci rahasia masa lalu leluhurmu sedang dipaksa terbuka dari arah bawah!”
Tepat setelah Sakra menyelesaikan kalimat batinnya, bumi di bawah kaki mereka berguncang hebat. Guncangan kali ini jauh lebih kuat daripada yang terjadi di pagi hari. Suara gemuruh seperti runtuhnya dinding gua terdengar bergaung dari kedalaman tanah.
Di tengah kabut hitam pekat yang menyelimuti gudang, sebuah pilar cahaya keunguan yang gelap mendadak melesat lurus ke langit malam, membelah awan dan membuat bulan purnama di atas mereka tampak sewarna dengan darah—persis seperti pemandangan di dalam mimpi buruk Pandya. Dalam pilar cahaya itu, samar-samar mulai terbentuk siluet sebuah gerbang batu kuno raksasa yang setengah terkubur di dalam tanah, memancarkan aura destruktif yang membuat seluruh pendekar di tempat itu menahan napas karena ngeri.
Pemimpin Pandya melangkah maju satu langkah ke depan barikade, mencengkeram erat gagang pedangnya yang bersinar terang di tengah kegelapan, menyadari bahwa kedamaian yang baru saja mereka raih kini telah resmi berakhir dan babak baru pertempuran takdir telah dimulai.
Bersambung…
- Akhir Chapter -