Rangga langsung meledak.
“Woi—apa-apaan tuh?!” Dia nunjuk ke langit.
Wira hanya menatap datar. Rangga melangkah sedikit keluar, matanya masih ke atas.
“Ujan ilang… ujan ilang.”
Dia jongkok, kedua tangannya nutup muka. Napasnya ditarik dalam, berusaha stabil.
“Ini kebetulan… gue gak halusinasi… gue gak gila… gue gak gila cuma gara-gara diputusin…”
Dia diam beberapa detik, lalu menurunkan tangannya pelan. Wira masih berdiri di situ, tenang, seolah tidak ada yang aneh.
Rangga menatapnya.
“…Lu liat ini juga, kan?”
Wira mengangguk kecil.
“Ini biasa.”
Rangga langsung mengernyit.
“Biasa?”
“Jika kau tidak ingin basah, kau hentikan hujannya,” jawab Wira datar.
Rangga menatapnya lama, wajahnya campur antara bingung dan gak percaya.
“…Sumpah, ini aneh. Gak masuk akal.”
Wira tidak menanggapi. Dia hanya melirik ke arah jalur turun.
“Kita turun sekarang. Lebih mudah.”
Rangga akhirnya berdiri. Dia masih kelihatan ragu, tapi kakinya tetap melangkah keluar.
Sebelum benar-benar jalan, dia sempat nengok lagi ke langit. Awan masih tebal, gelap, tapi tidak ada hujan.
Dia menggeleng pelan, lalu ketawa kecil.
“…Gue kenapa sih.”
Lalu dia mulai jalan turun. Jalur turun cukup licin. Tanahnya masih basah, akar-akar pohon muncul di beberapa bagian.
Rangga turun pelan, menahan langkah supaya tidak terpeleset. Di depan, Wira sudah berjalan lebih dulu. Langkahnya santai, tapi jaraknya cepat bertambah.
“Woi, tunggu,” kata Rangga sambil mempercepat langkah.
Wira tidak langsung berhenti. Dia tetap berjalan dengan tempo yang sama, seolah jalur itu datar. Rangga hampir terpeleset sekali, lalu menahan tubuhnya.
“Pelan dikit bisa gak sih,” katanya kesal.
Wira akhirnya berhenti beberapa meter di depan dan menoleh.
“Kau terlalu lambat.”
Rangga mengernyit.
“Ini turunan. Licin.”
Wira melihat ke tanah sebentar.
“Kalau langkahmu ragu, kau memang akan lambat.”
Rangga menatapnya.
“Gak usah sok bijak. Jalan aja pelan.”
Wira berbalik dan lanjut turun. Beberapa saat kemudian, Wira mengambil arah ke kanan di percabangan kecil.
“Woi, salah,” kata Rangga cepat, mempercepat langkah untuk menyusul. “Ke kiri, bukan ke situ.”
Wira berhenti dan melihat jalur yang dia pilih.
“Ini lebih cepat.”
“Cepat ke mana? Nyasar?” Rangga menunjuk jalur satunya. “Itu jalurnya.”
Wira memperhatikan sebentar, lalu pindah tanpa komentar. Mereka lanjut turun. Tidak lama kemudian, Wira kembali mengambil arah yang berbeda.
“Woi, bukan itu lagi,” kata Rangga, napasnya mulai berat. “Lu mau ke mana sih.”
Wira berhenti, lalu melihat sekitar.
“Medan ini tidak efisien.”
Rangga mengusap wajahnya.
“Ini bukan soal efisien. Lagian lu ngomong apaan sih, aneh banget.”
Wira diam sebentar, lalu berjalan mendekat.
“Kita jalan sesuai caramu.”
Rangga mendengus pelan.
“Iya.”
Wira kini berjalan di belakangnya, mengikuti arah yang ditunjuk Rangga. Beberapa langkah kemudian, Wira kembali bicara.
“Kau tetap lambat.”
Rangga tidak menoleh.
“Bacot lu.”
Rangga berjalan perlahan, tetap hati-hati menuruni jalur yang licin. Setelah beberapa langkah, dia menoleh sedikit ke belakang.
“Lu naik dari mana sih?”
Wira menjawab tenang, “Jalur biasa. Aku bertapa di sini.”
Rangga berhenti sebentar, lalu menoleh penuh ke arah Wira. Dia mengangguk pelan.
“Pantesan aneh,” gumamnya. “Dukun ternyata.”
Dia lanjut jalan lagi. Di belakangnya, Wira ikut berjalan, tapi kemudian bertanya, “Dukun itu apa?”
Rangga langsung ketawa pendek.
“Ada dukun bingung apa itu dukun.”
Dia melirik ke belakang.
“Dukun, paranormal… orang yang ngaku sakti. Biasanya antara delusi atau skizo.”
Langkah Wira berhenti. Rangga yang sadar langsung ikut berhenti dan menoleh.
Wira menatapnya.
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Rangga mengangkat bahu.
“Ya… sakti itu kan gak nyata.”
Wajah Wira berubah sedikit. Bukan marah besar, tapi jelas tidak suka.
“Jangan menghina pendekar.”
Rangga langsung ketawa.
“Pendekar?” Dia geleng sambil masih nyengir. “Oke, pendekar.”
Dia menunjuk ke sebuah pohon tinggi di samping jalur.
“Coba loncat ke situ.”
Wira menoleh ke arah pohon itu, lalu mengangguk kecil. Tanpa ancang-ancang panjang, dia langsung melompat.
Tubuhnya naik begitu saja, ringan, seperti tidak terikat sepenuhnya oleh gravitasi, dan mendarat di batang pohon beberapa meter di atas tanah.
Rangga refleks mundur.
“Anjing—”
Kakinya salah pijak. Dia kehilangan keseimbangan, tersandung, lalu jatuh ke belakang. Tubuhnya terguling mengikuti jalur.
“Ahhhh—!”
Wira yang melihat Rangga terguling hanya menatap dari atas pohon, diam, tanpa reaksi.
Rangga akhirnya berhenti ketika tubuhnya masuk ke semak belukar. Dia terbaring, napasnya masih berat, wajahnya menghadap langit.
“Apaan itu tadi…”
Dia diam beberapa detik, lalu mengangkat badan perlahan. Begitu berdiri, matanya langsung menangkap sosok Wira di atas pohon, masih berdiri di sana, menatapnya dengan wajah datar.
Rangga membeku setengah detik. Lalu refleks dia langsung berbalik dan lari menuruni jalur dengan langkah berantakan.
“Aaaaaaaahhh! Setan! Dukun!”
Rangga terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang. Langkahnya berantakan, beberapa kali hampir terpeleset di tanah yang masih licin.
“Setan bangsat! Setan anjing! Dukun bangsat! Dukun anjing!” teriaknya sambil terus turun.
Napasnya mulai tidak teratur, tapi dia tidak berhenti. Setiap beberapa langkah, kakinya nyaris salah pijak, tubuhnya oleng, lalu dipaksa seimbang lagi.
Suara teriakannya memantul di lereng gunung yang sepi. Tidak ada pendaki lain hari itu, hanya gema suaranya sendiri yang terdengar kembali dari kejauhan.
Itu justru membuatnya makin panik.
“Anjing… anjing…”
Dia tetap berlari. Setelah napasnya mulai habis dan jalur berubah lebih landai, Rangga akhirnya memperlambat langkah.
Dia berhenti di samping pohon, membungkuk sambil memegang batangnya, berusaha mengatur napas.
“Haah… haah… haaah… apaan itu, bangke…” katanya terputus-putus.
Tangannya gemetar saat mencoba membuka carrier. Dia merogoh ke dalam, mencari botol air. Belum sempat ketemu, “Kenapa berhenti?”
Suara itu muncul dari belakang. Rangga langsung menjerit.
“Aaaaaahhhh—!”
Dia jatuh terduduk, tubuhnya mundur sedikit di tanah. Tangannya langsung menutup wajah.
“Ampun… ampun setan… ampun mbah… maap mbah…”
Wira berdiri di belakangnya, tegak, menatap dengan bingung.
“Kamu kenapa?”
Rangga masih menutup wajahnya, suaranya gemetar.
“Ampun… ampun mbah… saya gak lagi-lagi naik gunung…”
Dia bahkan langsung menunduk, hampir bersujud di tanah. Wira hanya berdiri di situ, melihatnya tanpa mengerti.
“Kapan kita turun?” tanyanya datar.
Rangga berhenti. Perlahan, dia menurunkan tangannya dan melirik. Wira masih ada di sana. Tidak hilang. Tidak berubah. Rangga menelan ludah.
“Iya, mbah… iya…” katanya cepat. “Saya anterin ke bawah.”
Dia buru-buru berdiri, lalu langsung berjalan menuruni jalur.
“Semoga ilang… please jangan apa-apain gue…” gumamnya pelan.
Wira mengikuti di belakangnya tanpa berkata apa-apa. Rangga juga tidak berani bicara lagi. Perjalanan terasa sunyi. Mereka melewati pos dua, lalu pos satu, tanpa percakapan.
Rangga tidak berhenti berjalan. Kakinya sudah terasa berat, napasnya tidak pernah benar-benar pulih, tapi setiap kali dia ingin berhenti, suara langkah di belakangnya membuatnya terus maju.
Dia tidak berani menoleh.
Gerbang pendakian mulai terlihat. Pondok simaksi tampak di depan, jelas di antara pepohonan. Rangga mempercepat sedikit langkahnya.
Begitu melewati gerbang, tubuhnya langsung jatuh.
Dia roboh di dekat pintu masuk, terduduk dengan napas berantakan, seluruh badannya terasa lelah sekaligus ringan karena akhirnya sampai.
- Akhir Chapter -