Rangga duduk beberapa saat di dekat gerbang, mengatur napas sambil merasakan pegal di kakinya yang mulai terasa jelas.
Beberapa menit kemudian, dia memaksa diri berdiri.
Dia berjalan ke arah pos simaksi. Suasananya cukup sepi, hanya ada beberapa orang di dalam, tidak seramai akhir pekan.
Rangga menunjuk ke arah pos itu, lalu menoleh ke Wira.
“Ke sana aja. Tanya di situ,” katanya singkat.
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung masuk ke konter dan melakukan pendataan turun gunung.
Petugas mencatat namanya, menanyakan kondisi, lalu mengangguk setelah semuanya selesai.
Rangga tidak menoleh lagi ke belakang. Dia tidak peduli apakah Wira mengikuti atau tidak.
Baginya, urusannya sudah selesai.
“Gue capek… gue mau pulang,” gumamnya pelan. “Bodo amat, itu dukun urusan ranger.”
Dia keluar dari pos, berjalan lurus ke gerbang, lalu menghentikan ojek yang mangkal di dekat sana.
“Bang, ke terminal. Sekarang,” katanya cepat sambil langsung naik.
Abang ojek itu sempat meliriknya, memperhatikan napas Rangga yang masih berantakan dan wajahnya yang tegang.
“Dikejar apa, mas?” tanyanya setengah bercanda.
Rangga menggeleng cepat.
“Enggak… gas aja, bang.”
Motor langsung melaju meninggalkan area pendakian.
***
Rangga duduk di kursi dekat jendela. Bus mulai jalan pelan meninggalkan terminal.
Dia menyandarkan kepala, matanya kosong menatap luar.
Beberapa detik.
“…Oke.”
Dia mengusap wajahnya pelan.
“Itu tadi gak mungkin nyata.”
Tangannya masih sedikit gemetar.
“…kan?”
Bus keluar dari terminal dan masuk ke jalan besar. Rangga menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Dia menatap ke luar jendela.
“Mau healing malah begini,” gumamnya. “Niat lihat sunrise, yang ada malah dapet beginian.”
Dia menggeleng pelan.
“Capek doang.”
Beberapa menit kemudian, bus sudah masuk jalan tol. Laju kendaraan stabil, suara mesin konstan.
Rangga masih menatap keluar, pikirannya belum sepenuhnya tenang.
Di pinggir tol, sesuatu melintas cepat. Rangga langsung mengernyit.
“Hah?”
Dia sedikit mendekat ke jendela, mencoba memastikan apa yang barusan dia lihat. Beberapa detik tidak ada apa-apa.
Lalu bayangan itu muncul lagi, sekelebat, masih terlalu cepat untuk ditangkap jelas.
“…Apaan lagi…”
Kali ini dia benar-benar fokus. Matanya mengikuti sisi jalan. Sosok itu muncul lagi, lebih lambat dari sebelumnya.
Rangga mulai bisa menangkap bentuknya. Tubuh manusia dengan cara bergerak yang aneh dan baju yang jelas ia kenal.
Rangga membeku.
“…Bajunya…”
Dia menelan ludah.
“…kok kayak baju gue.”
Dia tidak berkedip, matanya terpaku ke luar. Sekali lagi sosok itu muncul, sekarang jelas.
Wira.
Dia berlari di pinggir tol, langkahnya panjang, tubuhnya ringan, kecepatannya hampir menyamai bus yang melaju.
Saat sejajar, Wira menoleh. Tatapannya tetap datar. Tangannya terangkat sedikit, melambai. Rangga langsung menunduk, kedua tangannya memegangi kepala.
“Ahhh… anjing.”
Bus terus melaju sampai keluar tol untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Rangga masih menunduk, kedua tangannya memegangi kepala.
“Gak mungkin… itu dukun ngejar gue kan…” gumamnya pelan. “Gue kan gak salah apa-apa… kenapa ranger ngelepas dia sih…”
Bus melambat, lalu berhenti. Pintu terbuka, beberapa orang naik dan turun. Rangga tidak mengangkat kepala.
Sampai seseorang duduk di sebelahnya. Kursi itu tadi kosong. Rangga masih bergumam pelan.
Beberapa detik kemudian dia menoleh. Wira duduk di sana, menatapnya datar.
Rangga langsung refleks.
“Aaaaaahhhhhhh—!”
Sontak beberapa penumpang menoleh ke arahnya.
Rangga berdiri panik, hampir menabrak kursi di depannya, lalu buru-buru turun dari bus sambil masih berteriak.
Rangga berlari menjauh dari bus tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya masuk ke area yang lebih sepi di pinggir jalan. Dia berhenti, membungkuk sebentar, lalu duduk bersandar di tembok.
“Haah… haah… haaah…”
Dia memegangi kepalanya lagi.
“Sialan… ini gue halu apa enggak sih… gak mungkin tuh dukun sampai sini…”
Rangga menoleh ke kanan dan kiri. Sepi. Tidak ada siapa-siapa.
Beberapa detik dia hanya duduk diam, mencoba menenangkan diri. Lalu dia mendorong tubuhnya berdiri, berniat lanjut jalan pulang.
Dari arah berlawanan, sekelompok orang berjalan ke arahnya. Langkah mereka tidak lurus. Sempoyongan. Saling merangkul sambil tertawa keras.
Rangga langsung mengernyit.
“Mampus… mabok.”
Dia melirik sebentar, berniat menghindar. Tapi salah satu dari mereka menunjuk ke arahnya sambil nyengir.
“Woi, bang… bentar bang, sini…”
Rangga menghela napas pendek, wajahnya langsung kesal.
“Ah, apes banget sih gue.”
Rangga akhirnya berhenti dan berbalik, memaksakan senyum ramah.
“Kenapa, bang?”
Keempat orang itu mendekat. Bau alkohol langsung terasa. Salah satu dari mereka nyengir.
“Mau ke mana, bang?”
“Pulang, bang,” jawab Rangga, masih dengan nada sopan.
Orang itu mendekat, lalu langsung merangkul bahu Rangga.
“Gini, bang… kita lagi kentang nih. Kena tanggung. Ada duit gak buat beli minuman lagi?”
Rangga mencoba melepas rangkulan itu pelan, tetap tersenyum.
“Wah, gak ada, bang. Ini aja pas buat ongkos.”
Belum sempat lepas, satu orang lagi ikut merangkul dari sisi lain. Sekarang kanan kiri Rangga terkunci.
“Ngobrol di sana aja, bang. Yuk.”
Mereka mulai mengarahkan Rangga ke sisi jalan yang lebih sepi. Bukan ajakan, lebih ke dorongan halus yang maksa.
Rangga ikut melangkah, wajahnya masih pura-pura tenang.
Dalam hati dia cuma bisa ngedumel.
'Bangke… gara-gara dukun bangsat, gue kena palak.'
Sampai di pojokan yang lebih sepi, mereka berhenti. Salah satu dari mereka menghadap Rangga, masih dengan senyum setengah mabuk.
“Mana, bang. Kita minta dikit aja buat minum.”
Rangga tetap berusaha tenang.
“Maaf, bang. Beneran gak ada. Ini cuma buat ongkos pulang.”
Salah satu yang lain langsung menyahut, nada suaranya lebih kasar.
“Yaudah, sini hape lu.”
Rangga langsung menggeleng, nada suaranya makin turun.
“Jangan, bang. Ini buat kuliah sama kerja, bang.”
Salah satu dari mereka yang sejak tadi terlihat paling tidak sabar maju dan mendorong Rangga keras.
Tubuh Rangga terjatuh ke tanah.
“Jangan banyak bacot lo,” katanya ketus. “Buruan kasih sini hape sama tas lu.”
Rangga menahan napas. Dia ingin melawan, tapi melihat empat orang di depannya, semua dalam kondisi mabuk, dia tahu itu bukan pilihan.
“Mana hape lu,” bentak yang lain. “Mau gue gebukin di sini?”
Orang itu melangkah mendekat, tangannya sudah terangkat. Rangga refleks menutup mata. Kedua tangannya terangkat, membentuk perlindungan seadanya.
Tiba-tiba—bruak.
Suara tubuh menghantam sesuatu terdengar keras, diikuti rintihan kesakitan. Rangga kaget dan langsung membuka mata.
Di depannya, tiga orang yang tersisa menoleh ke belakang. Salah satu dari mereka… baru saja terlempar melewati mereka.
- Akhir Chapter -