Dari balik bayangan di ujung gang, seseorang melangkah keluar.
Wira.
Rangga langsung nyeletuk, setengah kaget, setengah lega.
“Mbah dukun kayak Batman…”
Wajahnya langsung berubah. Dia buru-buru melambaikan tangan.
“Mbah, tolong mbah. Tolong saya, mbah.”
Wira menatap Rangga dengan wajah datar, sedikit bingung, lalu mengalihkan pandangan ke tiga orang di depannya.
“Siapa gerangan kisanak ini?”
Ketiga preman itu saling pandang. Jelas tidak paham. Salah satu dari mereka maju, wajahnya langsung garang.
“Lu siapa? Temennya bocah ini?”
Yang lain langsung nyahut dari belakang.
“Udah, hajar aja dulu. Si Bejo pingsan gara-gara dia.”
Tiga orang itu langsung maju bersamaan. Wira tidak mundur. Dia hanya mengangkat satu tangan.
Gerakannya sederhana. Satu ayunan.
Tiga orang itu langsung terpental dan jatuh berantakan di tanah, merintih kesakitan.
Rangga yang melihat itu langsung duduk tegak.
“Mbah Batman… makasih, mbah.”
Wira berjalan mendekat, langkahnya tenang seperti tadi.
“Aku ikut kamu,” katanya datar.
Rangga langsung menganga. Ini tidak seperti film Batman yang pernah dia tonton. Rangga masih bengong, mulutnya sedikit terbuka.
“Haaah? Gimana, mbah?”
Wira menatapnya datar.
“Jangan panggil mbah. Aku bukan mpu. Aku pendekar.”
Rangga mengedip beberapa kali, lalu buru-buru meraih tasnya dan merapikannya. Dia berdiri, melirik cepat ke sekeliling. Tiga orang tadi masih tergeletak, merintih pelan di tanah.
“Iya, mbah—eh…” dia berhenti sebentar, lalu menghela napas pendek. “Wira. Kita kesana dulu, yuk. Ngobrol di sana.”
Tanpa menunggu jawaban, Rangga langsung berjalan menjauh dari tempat itu, langkahnya cepat.
Wira mengikuti di belakangnya.
Sesampainya di pinggiran terminal, Rangga duduk di pinggir jalan besar.
“Bang, kopi item dua ya. Di sini aja,” katanya ke tukang kopi keliling.
Dia duduk santai, mencoba menenangkan diri. Di sampingnya, Wira ikut duduk, matanya bergerak ke sana-sini, memperhatikan kendaraan, lampu, dan orang-orang dengan tatapan yang jelas asing.
Rangga melirik sebentar, lalu menghela napas.
“Wir, ada banyak yang mau gue tanyain. Jawab gue.”
Wira menoleh dan mengangguk.
Rangga langsung lanjut, “Lu kenapa bisa ada di sini? Bukannya tadi di pos simaksi?”
Wira menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.
“Tempat itu bukan milik siapa pun. Aku menyadari aku berada di dunia yang asing. Lalu aku mengikuti prana mu.”
Rangga langsung melongo. Sebelum dia sempat merespons, tukang kopi datang.
"Ini, bang kopinya.”
Rangga menoleh, langsung tersenyum tipis.
“Makasih, bang.”
Dia mengambil dua gelas kopi, lalu meletakkannya di trotoar di antara mereka.
Rangga kembali menatap Wira.
“Maksudnya dunia asing apaan? Terus prana apaan? Lu bisa sampai sini gimana caranya?”
Wira mengernyit sedikit, seolah menyusun kata.
“Prana adalah tenaga dalam. Berada di pusat tubuh dan kepala. Aku mengikutinya.”
Rangga mengusap wajahnya pelan, lalu memegang kepalanya.
Semua ini tidak masuk akal.
Dia ingin bilang Wira gila, tapi bayangan yang dia lihat tadi masih jelas. Lompatan ke pohon, bayangan di tol, dan preman yang tumbang dengan satu gerakan.
“Ini kenapa sih…” gumamnya. “Apaan sih ini…”
Dia menatap Wira lagi, lalu menarik napas panjang.
“Apa yang keluar dari mulut lu itu gak masuk akal. Entah gue yang gila, atau lu yang gila.”
Wira tidak langsung menjawab. Dia justru menatap gelas kopi yang masih mengepul di depan mereka.
“Prana mu stabil. Kau tidak gila,” katanya tenang. Lalu menunjuk minuman itu. “Ini apa?”
Rangga ikut menoleh, lalu mengambil salah satu gelas.
“Ini kopi. Kita ngopi dulu disini. Jangan bilang lu gak pernah minum kopi.”
Wira menerima gelas itu. Dia memperhatikan uapnya, lalu meniup sedikit, meniru apa yang Rangga lakukan.
“Kopi…” katanya pelan.
Dia lalu menyeruputnya. Rangga baru menyeruput sedikit, lalu langsung menaruh gelasnya karena masih panas.
Di sampingnya, Wira mengikuti. Dia meniup sekilas, lalu langsung minum. Bersih.
Bahkan tidak ada sisa ampas. Rangga menoleh pelan. Wira masih memegang gelasnya, bibirnya sedikit kotor oleh ampas kopi.
Rangga menatapnya beberapa detik.
“…Lu minum apa nelen, sih?”
Wira mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
“Rasanya aneh. Ada pahit, ada manis. Tapi cukup menyegarkan.”
Rangga langsung menunjuk gelas itu.
“Itu panas, woi. Bibir lu gak melepuh apa?”
Wira menatapnya, sedikit bingung.
“Tidak terlalu panas.”
Rangga langsung menutup wajahnya lagi dengan kedua tangan. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Rangga… lu anak psikologi… ini bisa dijelasin… mungkin ini gangguan kejiwaan… sabar… jangan kebawa emosi…”
Dia menghembuskan napas pelan, lalu menurunkan tangannya dan menoleh ke Wira.
“Oke,” katanya akhirnya. “Lu ke sini ngikutin prana gue karena lu nyasar di dunia asing?”
Wira mengangguk.
“Iya.”
Rangga mengusap tengkuknya.
“Terus kenapa ke gue? Kenapa gak balik ke gunung atau cari orang lain?”
Wira menjawab tanpa ragu.
“Kau orang baik. Kau memberiku pakaian.”
Dia berdiri. Kedua telapak tangannya disatukan di dada, lalu dia menunduk hormat.
“Itu berarti kau memiliki kedudukan lebih tinggi dariku.”
Rangga menatapnya beberapa detik. Dia tidak langsung bicara. Tapi jelas, ini sudah mulai terlalu banyak.
Rangga celingak-celinguk. Beberapa orang yang lewat melirik ke arah mereka, termasuk tukang kopi yang masih berdiri tidak jauh, jelas memperhatikan dengan tatapan aneh.
“Wir, duduk… duduk,” kata Rangga cepat. “Ngapain sih lu begitu.”
Wira langsung duduk lagi.
“Ada apa? Kau tidak menerima penghormatanku?”
Rangga menepuk kepalanya pelan, mencoba tetap sadar dan menahan emosinya.
“Wira, tolong jangan kayak gitu lagi. Itu cuma baju, wir. Gak penting. Dan jangan ke gue juga bisa? Gue masih kuliah. Gue belum bisa nangani pasien se-ekstrim ini.”
Wira mengernyit sedikit.
“Tidak. Pakaian adalah simbol kehormatan. Kau memberikannya padaku, berarti kau menerimaku. Sebagai pendekar, sudah kewajibanku menaati dan menjagamu.”
Rangga diam beberapa detik. Dia menatap lurus ke depan. Lalu sudut bibirnya naik sedikit.
Dia tersenyum. Kemudian cekikikan pelan. Semakin lama, semakin jelas.nBeberapa orang mulai menoleh ke arahnya, termasuk tukang kopi tadi.
Rangga masih tertawa kecil, sendirian, seperti orang yang baru saja kehabisan cara untuk memproses semuanya.
- Akhir Chapter -