"Aku akan lepasin," balas Adam yang berjalan ke arah tempat tidur untuk menarik alat hitam itu yang tertancap di daerah lain wanita itu. Sedangkan bagian pribadi belum ada niat di cabut oleh Adam.
Wanita itu merasakan kelegaan pada area tersebut tetapi tidak pada area pribadi.
"Lepasin aku," ujar wanita itu dengan wajah sedih yang menyayat hati untuk kesekian kalinya.
Adam menarik salah satu alat berwarna hitam yang itu, kemudian menganti dengan miliknya yang lebih besar dari alat hitam itu. Kali ini Adam mengunakan k*ndom berigi dengan tujuan menarik cairan bening itu keluar semakin banyak lagi.
"Ahhhhh," pekik wanita itu yang merasakan kesakitan luar biasa pada daerah bawah. Ketika benda tumpul berigi semakin masuk ke dalam tubuh yang tidak berdaya dan lemah.
"Mendesahlah lebih nyaring lagi!" perintah Adam yang menampar bokong wanita itu dengan tamparan kuat mengunakan telapak tangan yang besar.
"Ahhhhh Ahhh Ahhh," jerit wanita itu sepanjang hentakan Adam yang semakin cepat di bagian bawah yang sudah terasa sesak dan perih.
Geram akan suara desahan wanita itu yang terdengar kecil. Adam mempercepat hentakan benda kokoh hingga menekan dinding rahim wanita itu berulang kali sebagai bentuk hukuman atas memancing kemarahan dirinya.
Wanita itu mengigit bibir bawah dengan kedua tangan mencengkeram sprei untuk menyalurkan rasa sakit yang semakin mengeroti seluruh area tubuh bawah yang di masuki dua benda besar secara bersamaan.
Melihat usaha tersebut seperti sia-sia, Adam meraih kedua tangan wanita itu. Lalu menarik kedua tangan ke arah belakang.
Kedua dada wanita itu berayun-ayun cepat mengikuti irama hentakan kuat dari Adam dari arah belakang.
"Ini kah yang kau mau," cibir Adam yang masih menghentakkan pinggang tanpa memberikan ampun kepada wanita itu. Wanita yang menurut Adam tidak ada guna, selain lendir yang dihasilkan bisa di gunakan sebagai bumbu kuah bakso.
"Tolong pelan," ujar wanita itu dengan nada memohon kepada Adam untuk memperlambat hentakan kuat yang menabrak dinding rahim berulang kali.
Buk
Hentakan terkuat di berikan oleh Adam kepada wanita itu.
Wanita itu menjerit histeris dengan air mata berlinang banyak.
"Tubuhmu benar-benar nikmat jalang," ucap Adam yang sengaja melayangkan pujian kepada wanita itu.
Wanita itu menarik sprai dengan kekuatan kuat, setelah kedua tangan di lepaskan oleh Adam.
"Mendesahlah lebih nyaring baby!" perintah Adam yang bergerak cepat dengan kedua tangan yang kini menahan pinggul wanita itu.
Wanita itu menjerit histeris hingga tidak sadarkan diri akan rasa sakit yang meranda dirinya sejak tadi.
Adam seperti orang gila yang masih mengempur tubuh wanita itu hingga mendapatkan apa yang di inginkan dalam jumlah banyak.
Lelah menyetubuhi wanita tersebut, Adam berbaring di samping di sisi ranjang. Kemudian menatapi wanita di samping tempat tidur dengan tatapan bodoh, Setelah apa yang di inginkan selama ini sudah berhasil di dapatkan dan sekaligus menjadi artis pendatang baru di dunia industri hiburan.
Tujuan Adam tak lain hanya menjual tampang dan meniduri para wanita yang masih bersih untuk mendapatkan kenikmatan. Sekaligus lendir untuk persugihan yang akan di gunakan untuk membuat kuah bakso yang di jual oleh ayah dan ibu tiri dengan begitu, Penghasilan yang akan di dapat berlipat-lipat untuk memenuhi gaya hidup mewah di Jakarta dan sekaligus menjadi orang berstatus sosial tiinggi.
Sebelum pergi dari kamar VVIP, Adam membersihkan seluruh tubuh dengan air hangat. Kemudian pergi dengan hati bahagia. Tidak lupa ia mengambil semua uang di dalam dompet wanita itu.
"Kali ini aku akan dapat banyak uang," batin Adam melihat dua wadah plastik yang berisi cairan bening wanita tersebut.
Sedangkan wanita yang di setubuhi oleh Adam masih tidak sadarkan diri dengan benda yang tertancap di kedua lubang. Kedua alat hitam berukuran besar itu bergerak cepat berulang kali di kedua lubang di tubuh wanita tersebut.
***
Pagi hari, Adam dan Ardi di kejutkan oleh sebuah berita yang menurut mereka berdua tidak masuk akal.
Terutama Ardi, ia memperlihatkan sikap menantang kepada kedua orang tua. Karena sudah bisa menebak apa yang terjadi kedepan dan alasan demi kepentingan pribadi. Sehingga mengorbankan apa yang ada.
"Ardi jaga sikapmu," Herman menegur anak bungsu tanpa sengaja dengan nada membentak.
Mendapatkan teguran dari Herman, Ardi semakin tidak senang.
"Cih.... pasti aku harus mengalah lagi demi egoisan kalian bertiga," cibir Ardi dengan nada tidak suka kepada sang ibu. Bahkan menunjukkan sikap pemberontakan dengan menendang kaki meja secara terang-terangan.
Ardi tidak perduli dengan harga kaki meja yang kini menjadi sasaran perlampasan kemarahan di dalam hati.
Melihat Ardi yang semakin lama semakin memberontak. Lala yang tidak bisa membendung emosi. Ia berjalan kehadapan Ardi dengan wajah hitam. Ingin sekali Lala menampar wajah Ardi dengan tamparan kuat. Tapi dia tidak sanggup melakukan hal seperti itu kepada Ardi. Karena Ardi anak yang sangat di sayangi, bahkan ia rela melakukan apa saja agar Ardi tidak ikut ritual sesat ini.
Melihat sang ibu yang tidak ragu untuk menampar dirinya sendiri. Ardi menatapi sang ibu dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
Ardi tidak tahu sejak kapan sikap ibunya berubah drastis seperti ini, yang ia ingat, sang ibu sangat sayang pada dirinya sejak dulu. Tapi semua berubah sejak kehadiran dukun tua tanpa mata itu.
Melihat kedua mata sang ibu yang tidak ada rasa kasih sayang lagi seperti dulu. Perasaan Ardi semakin kesal dan juga tidak mampu menahan kekesalan yang selalu bisa meletus kapan saja tanpa memperhatikan waktu.
"Kenapa? Ini kenyataan. Aku pasti di suruh mengalah terus seperti dulu, seperti keinginan kalian yang menjijikan itu." ucap Ardi dengan menampilkan wajah kesal di hadapan sang ibu.
Lala yang sudah berusaha sekuat tenaga menahan emosi agar tidak menyakiti Ardi secara fisik. Tanpa sadar Lala mengangkat sebelah tangan. Tapi berhenti di udara.
Ardi tahu, Lala akan menampar dirinya yang semakin lama semakin kurang.
Sadar dirinya kelepasan emosi. Lala menurunkan tangannya, lalu mengepal dengan kuat. Terasa kuku-kuku panjang menembus kulit tangan. Bahkan rasa sakit tidak dirasakan oleh Lala demi menahan emosi agar tidak menyakiti putra satu-satunya.
"Maafkan ibu, ini semua demi kebahagiaan mu. Demi masa depan yang lebih baik," batin Lala yang merintih sedih akan sikap Ardi yang semakin tidak menghargai pengorbanan yang sudah di lakukan selama ini.
"Aku benci kalian semua, lebih baik bisnis kalian bangkrut saja. Dari pada aku selalu mengalah demi ke egoisan kalian semua," pekik Ardi yang mematahkan meja dengan sebelah tangan.
- Akhir Chapter -